VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
AMUKAN MONIKA



"Aku tidak suka kau bercengkerama dengan laki-laki lain kecuali denganku! Apa lagi dengan yang bernama Ronald itu. Dasar pegawai yang tidak tahu hormat!" Ucap Evan kemudian berjalan sambil lalu.


Aneh ...


Kenapa Tuannya bisa sampai marah besar?


"Tuan, hari ini saya memasak nasi goreng."


"Aku tidak sudi makan semenu dengan mereka. Dan apa kau lupa aku sedang diet? Bikin kah aku makanan lagi!"


Amanda melenguh panjang.


"Ya, baik Tuan."


Evan melirik ke arah nasi goreng yang terhidang di atas meja yang sudah ditata oleh Amanda. Sedetik kemudian ia mencibir, ia tidak akan sudi makan semenu dengan orang yang bernama Ronald itu.


Tapi baru saja Evan membatin di dalam hati, aroma dari nasi goreng itu tiba-tiba membuatnya mengeluarkan liur. Tidak butuh waktu lama Evan tergoda, pada akhirnya ia menyendokkan satu makanan ke mulutnya dan lama kelamaan ...


Habis ...!


"Tuan, makanan apa yang ingin anda makan?"


Mata Amanda melebar melihat Evan sudah menyelesaikan makanannya.


"Jangan terlalu percaya diri! Aku tadi hanya mengetes rasanya."


"Tetapi kenapa anda sampai menghabiskannya kalau hanya ingin mengetes rasanya?"


"Karena aku tidak suka menyisakan makanan."


"Eh?"


"Anggap saja ini keberuntungan untukmu karena kau bisa beristirahat tanpa harus memasak lagi."


Sementara itu, Amanda masih mematung kebingungan.


Astaga. Kenapa situasinya bisa berubah-rubah seperti itu ...?!


***


Di tempat lain, Melina masih membungkam tidak percaya saat Roberto suaminya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Evan dan juga Amanda.


"Astaga ...! Kasihan sekali anak itu ..."


Roberto merangkul isterinya. "Dan kau tahu apa yang mencengangkan lagi? Ternyata Amanda adalah anak dari temanku dan juga almarhumah isteriku dulu."


Untuk yang kedua kalinya Melina kembali syok.


"Dia anak yang hilang itu ...? Aku pikir dia sudah meninggal."


Roberto menggeleng. "Dia sengaja disembunyikan. Bukan kah itu hal yang jahat?"


Melina masih terpaku dengan semua hal itu.


"Jadi bagaimana sayang ...? Akan kah kita harus meneruskan pernikahan ini? Kau tahu ... aku kasihan dengan Amanda dan juga ... Evan."


Tapi sedetik kemudian Melina menggeleng. "Tidak, sayang, tidak ... tetap laksanakan pernikahan itu. Aku tahu ini hanya masalah waktu. Bukan kah kau bilang dia lebih memilih Amanda dibanding Monika? Itu artinya ada sesuatu nilai plus di mata Evan terhadap Amanda ... dan aku janji ... aku akan membuat mereka saling jatuh cinta."


"Eh? Apa kau yakin ...?"


"Di satu sisi, kita tidak boleh ikut campur bukan? Mereka sendiri yang memutuskan untuk menikah, bukan kita."


"Ya aku tahu ..."


Roberto kemudian merangkul kembali isterinya itu.


"Terima kasih sayang ... karena itu hal yang juga aku pikirkan seharian ini.


***


Dan di sini lah Amanda berada. Sedang mencoba memakai gaun pengantin berwarna putih bersih bersama Melina. Sedang mematut diri di depan cermin sambil menggigit ujung bawah bibirnya sendiri.


"Astaga Amanda, kamu cantik sekali," ucap Melina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa ini tidak terlalu terbuka, Ma ...?"


Melina mengernyit. "Ya, untuk acara ijab qobul memang agak sedikit terbuka. Kalau begitu kita cari kebaya yang lain ya."


Amanda mengangguk. Ia kemudian melihat kepergian Melina dan berusaha untuk mencari kebaya yang lain untuk Amanda pakai di pernikahannya nanti.


Hari ini, kaki Amanda bahkan seperti ingin patah saat Roberto mengajak Amanda berputar mengelilingi gedung, mengecek undangan, mengecek restaurant, dan juga mendatangi MUA lalu sedikit mengancam kepada mereka agar di pesta pernikahan nanti mereka tidak melakukan satu kesalahan apa pun.


"Ini sayang, coba lah yang ini," pinta Melina dengan penuh harap.


Dan lagi-lagi, Amanda tidak bisa membantah. Ia hanya tersenyum lalu mencoba memakainya lagi.


"Astaga, kali ini benar-benar pas." Pekik Melina dan ia tampak senang dengan bertepuk tangan.


"Kau benar-benar cantik sayangku."


Dan lagi-lagi Amanda tersipu, menggigit ujung bawah bibirnya sendiri karena mulai merasa bersalah dengan kedua orang tua ini.


Ya ampun ... bagaimana kalau mereka tahu kalau semua ini pura-pura?


Amanda mulai merasa bersalah.


***


Evan menyangga wajahnya sendiri saat ia menatap ke arah layar televisi. Ternyata benar, berita pernikahannya dengan Amanda terkekspos dengan sangat hebat mengalahkan seorang artis yang kemarin baru saja terkena skandal kasus narkoba.


"Wah, the real sultan."


"Tutup mulutmu, Beryl."


"Mungkin ini akan menjadi pernikahan paling megah seantero negeri."


Evan melenguh panjang.


"Jadi bagaimana Evan ...? Apa kau sudah merasa bersalah pada mereka?"


Evan semakin mengerutkan kening.


***


Prang! Pyar! Bug!


Seseorang yang masih mengenakan seragam dokternya kini terus mengamuk tiada henti padahal di depan ruangan sudah begitu banyak pasien yang sedang mengantri.


"Kurang ajar, kau Evan!"


Monika benar-benar sudah menjadi gila saat mendengar berita televisi yang mengatakan pesta pernikahan Evan benar-benar akan dilaksanakan besok lusa.


"Lihat saja! Aku akan membuat kalian menyesal! Aku akan membuat Evan bertekuk lutut lagi kepadaku!" Teriak Monika dan mengabaikan beberapa perawat yang mendengar teriakannya itu.


***