
Pagi menjelang dan suasana hati Evan kembali senang. Ketika ia mandi pun, ia bersenandung hingga Amanda benar-benar kesal. Di dapur, saat ia berkutat dengan masakan pun harus berulang kali menahan perasaannya.
"Kau masak apa hari ini?"
"Sayur asem."
"Gorengkan aku tahu juga ya."
"Sudah ada ikan. Mubadzir."
"Hm." Evan berdehem.
"Kau jutek sekali."
"Menurutmu?" Saat ia menoleh ke belakang, Amanda baru sadar kalau Evan belum siap-siap memakai kemejanya padahal seharusnya ia bekerja.
"Hari ini, apa kau tidak kerja?"
"Aku sengaja ambil jatah liburku."
"Eh?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan apa tidak boleh?"
"Jalan-jalan?"
***
Sungguh. Acara ini benar-benar mendadak. Saat ini Amanda sudah tiba pada sebuah penginapan yang ada di puncak dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke sini.
"Ini di mana?"
"Di bawah sana ada kebun teh, besok kita akan ke sana pagi-pagi sekali. Lalu di ujung sana ada danau, kemudian tidak jauh dari sini, ada begitu banyak tempat bermain seperti flying fox yang pastinya akan kau suka."
"Kenapa tiba-tiba kau mengajakku ke sini?"
"Aku ingin kau istirahat. Setiap hari kau mengurusiku. Hari ini sampai tiga hari ke depan aku ingin kau istirahat. Ada pelayan di vila nanti hingga kau bisa beristirahat."
Mata Amanda benar-benar berbinar-binar. Melihat semua perlakuan Evan yang sangat baik ini memang benar bahwa, mencintai seorang Evan memang sangat mudah sekali.
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Untuk semua ini."
"Kau pantas menerimanya Amanda."
Senyuman Amanda mengembang saat Evan menarik tangannya. Kini, hari memang sudah senja hingga Amanda dan Evan harus masuk ke dalam rumah. Benar saja, makanan sudah tersaji oleh para pelayan.
Amanda menyuruh Amanda untuk duduk di balkon, memandang ke bawah sana dan Evan sendiri yang membawakan Amanda makanan.
"Aku bisa sendiri."
"Anggap saja, ini sebagai balasan untukku karena kau mengurusku dengan sangat baik."
Amanda terkekeh, sebenarnya ini memang kewajibannya. Lagi pula memang tugas isteri seperti ini kan?
Mereka menatap ke arah senja yang hampir tenggelam. Ternyata memang benar, suasana asri pepohonan di sini nyatanya memang selalu meneduhkan hati kala melihat matahari yang akan tenggelam.
"Amanda ...?"
"Hm."
Amanda meletakkan sendok dan menatap ke arah Evan.
"Ceritakan lebih banyak tentangmu. Aku ingin mendengar banyak tentangmu."
"Aku?"
Evan mengangguk.
"Tidak ada yang spesial dariku."
Evan melenguh.
"Katakan saja. Aku ingin mendengarnya."
"Aku hanya anak yatim piatu. Kau tahu itu? Paman, Bibi juga sepupuku tidak pernah menganggapku ada. Mereka terus menyiksaku setiap waktu tanpa belas kasih." Amanda merasakan pahit di mulut saat mengingat itu semua.
"Tapi mereka tetap satu-satunya saudaramu?"
"Ya. Tapi, mungkin mereka tidak menganggapnya seperti demikian. Bahkan rumah serta perusahaan Ayahku kini sudah berbalik menjadi nama mereka. Kau tahu kan? Sebegitu culasnya mereka."
Tapi Evan malah terkekeh.
"Kau tidak tahu kan kalau aku diam-diam sudah merebutnya dari mereka?"
Evan mengangguk. "Perusahaan itu sudah aku rebut dari mereka. Dan rumahmu, juga sudah aku alihkan semuanya menggunakan namamu."
"Astaga. Evan. Kau bercanda."
Ha ha ha. Evan tertawa. "Sebentar lagi kau pasti akan melihat mereka lagi dan meminta tolong padamu untuk dicarikan rumah."
Amanda masih membungkam mulutnya sendiri. "Kau benar-benar ..."
"Hebat kan?"
Amanda menelan salivanya dengan susah payah. Jujur, ini adalah sesuatu hal paling luar biasa.
"Tidak aku sendiri, Amanda. Tapi sebenarnya ini ide dari Ayahku."
"Ayah Roberto?"
"Dan apa yang lebih mengejutkan lagi?"
Amanda kembali mendongak.
"Ayahmu ternyata teman dekat dari Ayahku. Itu sebabnya kenapa Ayahku begitu sayang denganmu."
"Astaga." Amanda membungkam mulutnya sendiri. "Aku harus berkirim kabar kepada Ayah. Aku harus mengucapkan terima kasih."
"Iya. Tapi sebaiknya besok saja kalau kita sudah pulang kita mengunjunginya. Pasti mereka senang."
Amanda mengangguk setuju.
"Lalu, ceritakan hal lain tentangmu."
"Tidak ada hal menarik lagi, Evan. Kau tahu aku tidak pernah bersosialisasi. Paman dan Bibi melarangku hingga aku tidak mempunyai teman." Amanda menggigit ujung bawah bibirnya sendiri.
Evan kemudian duduk di samping Amanda. Meregangkan otot-ototnya dan kembali menatap ke arah mentari yang sebentar lagi akan tenggelam.
"Oh, ya mengenai Boby dan Monika ...?"
"Sudah jangan perdulikan mereka. Aku sudah yakin seratus persen mereka tidak akan mengganggumu lagi. Kau tahu siapa aku kan?"
"Emm, ya." Amanda bernapas lega.
"Sudah waktunya kita memikirkan diri kita sendiri, Amanda. Kau selalu tahu aku selalu berusaha untuk memperjuangkan hubungan kita."
Amanda yang akan menyendokkan makanan ke mulutnya kembali tidak ia lakukan. Jantungnya selalu berdegup jika Evan membahas tentang hubungan mereka.
"Aku selalu berpikir, aku selalu merasa bersalah padamu asal kau tahu?" Tiba-tiba Amanda mengucapkan hal itu.
"Untuk?"
"Karena pada dasarnya aku seperti menjebakmu sampai akhirnya kau menikahiku. Setiap hari aku berpikir tentang hal ini, aku hanya takut jika kau menyesalinya."
Tapi sesaat kemudian, Evan terkekeh.
"Untuk apa aku menyesalinya? Aku sudah katakan aku bahagia bersamamu."
Jantung Amanda kembali bergetar.
"Aku malah bersyukur pada saat itu kau tiba-tiba naik ke atas panggung."
Amanda menatap Evan erat-erat.
"Jiika kau waktu itu tidak datang, mungkin aku tidak akan pernah sebahagia ini."
Napas Amanda tiba-tiba tertahan. Tangannya bergetar bersamaan dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, Amanda. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi yang jelas, aku merasa bahwa aku tidak bisa kehilanganmu."
"E-Evan?"
"Kau bilang tidak ada yang spesial darimu. Tapi menurutku kau lebih dari kata spesial. Buktinya kau berhasil membuat aku jatuh cinta."
Amanda hampir ingin menangis haru saat ini.
"Kau bilang mudah bagimu untuk mencintaiku, dan asal kau tahu, ternyata aku juga mudah mencintaimu. Melihatmu setiap hari mengurusiku dengan baik adalah sesuatu hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Kau tidak pernah berbicara kasar, kau berlaku selayaknya isteri yang patuh dan aku selalu menyukai itu. Kau benar-benar baik, Amanda. Dan aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu."
Amanda terdiam saat Evan berbicara panjang lebar seperti itu. Hingga sampai pada akhirnya matahari benar-benar tenggelam dan mereka hanya ditemani oleh lampu yang temaram.
Mereka menatap satu sama lain, sampai pada suatu ketika Evan akhirnya meraih wajah Amanda. Menyondongkan wajah miliknya ke arah Amanda hingga pada akhirnya bibir mereka menempel dan tanpa sadar Evan mencecapnya dengan begitu dalam.
Mereka begitu lama beradu dalam pagutan, dan saat Evan menarik wajahnya, tatapan penuh hasrat tergambar jelas dari kedua mata milik Evan, membuat Amanda mengerti akan jenis tatapan itu.
"Evan?"
"Amanda, sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku menginginkanmu." Evan kemudian menarik tangan Amanda, membawanya ke dalam kamar dan segera mengunci kamar dengan rapat.
***