VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
MALAM PERTAMA



Dulu, Amanda pernah bermimpi kalau suatu saat nanti, ia akan menikah dengan seseorang yang sangat menyayanginya. Tersenyum indah penuh ketulusan saat memandang ke arah dirinya dan mengharapkan tua bersama lalu bergandengan tangan menuju senja.


Tapi tiba-tiba, harapan itu pupus begitu saja setelah kini ia duduk, bersebelahan dengan seorang lelaki dan tengah mengucapkan ijab qabul yang Amanda tahu, bahwa itu semua hanya kepura-puraan. Pun begitu dengan senyumannya, Amanda yang pernah berharap bahwa ketika dia menikah ada orang yang menatapnya dengan tulus, kini ia harus menerima fakta bahwa senyuman ini, sentuhan ini dan semua hal yang sudah ia lewati penuh dengan drama dan kepura-puraan.


Evan bahkan mampu segala macam cara, ia mampu mengurusi pernikahan ini secepat kilat bersama dengan Ayahnya. Bahkan, tadi pagi Amanda dibuat syok dan hampir mati berdiri melihat kehadiran Paman dan Bibinya, serta anak kembarnya Stefa dan Stefi.


Bukan tanpa alasan, Evan masih memerlukan wali dari pihak Amanda karena orang tua Amanda sudah lama meninggal.


"Tenang saja ... mereka tidak akan pernah menyakitimu selagi kau menjadi isteriku," adalah dari ucapan Evan dan Amanda hanya bisa menggantungkan hidupnya dari kata itu.


Saat ini semua orang bersorak sorai. Para tamu yang hadir di sini mengucapkan ucapan terima kasih dan membuat Amanda semakin insecure dengan dirinya sendiri.


Amanda nyaris tidak mengundang siapa pun. Yang datang ke sini hanya lah kerabat, kolega, rekan bisnis, sahabat dari keluarga mempelai laki-laki tanpa ada satu pun dari pihak Amanda.


"Astaga, kenapa lama sekali ...?"


Evan sudah mulai muak dengan semua orang yang terus datang silih berganti dan satu persatu menyalaminya.


"Selamat, selamat, selamat ..." kata-kata yang sudah membuat telinga Evan sakit seharian ini.


"Wah wah, akhirnya kau jadi menikah juga, Bro." Beryl yang kini naik ke atas panggung pelaminan tampak tersenyum dengan sangat lebar. Ia tengah mengedipkan mata satu kali ke arah Amanda penuh arti.


"Pergi lah! Aku sudah sumpek! Kapan acara ini berakhir?"


"Wah wah. Sepertinya ada yang benar-benar tidak tahan dengan acara malam pertama."


Deg.


Jantung Amanda nyaris berhenti untuk berdetak saat mendengar kalimat itu.


Hingga pada akhirnya waktu terus bergulir dan sampai di suatu titik, acara ini benar-benar berakhir. Semua tamu undangan nyaris sudah tidak ada dan hanya menyisakan beberapa kerabat dari keluarga Evan.


"Sayang, astaga ... akhirnya kau benar-benar menjadi anakku."


"Mama ..."


Melina langsung memeluk Amanda erat-erat.


"Oh, ya. Ini untukmu." Tiba-tiba Melina sudah menyerahkan sebuah kotakan berwarna merah untuk Amanda.


"Apa ini, Ma ..."


"Evan, Amanda sudah sangat lelah. Sebaiknya kau bawa Amanda segera beristirahat."


"Aku juga lelah." Evan kemudian melirik ke arah Amanda. "Kau masih bisa berjalan kan? Jangan manja. Ayo ikut aku." Perintah Evan.


"Hey! Kenapa kau kasar sekali dengan isterimu." Hardik Mamanya


Tapi Evan hanya menanggapinya dengan cuek.


"Ayo cepat!"


Roberto dan Melina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat perlakuan anaknya itu.


***


Keringat dingin Amanda mulai bercucuran, wajahnya pucat pasi ketika pada akhirnya Amanda nenyadari bahwa hanya ada mereka berdua berada di dalam apartemen. Sebuah cincin emas permata juga telah ada di jemarinya sebagai tanda bahwa dirinya memang sudah menikah dengan Evan.


Jantung Amada berdegup dengan sangat kencang ketika melihat Evan melengang santai dan tengah membuka kancing kemejanya.


"Emm, kalau begitu saya akan ke kamar." Buru-buru Amanda berlari ke arah kamar tapi secepat kilat Evan menjambaknya dari belakang.


"Kau mau ke mana?"


"Ah, saya ... saya ingin ke kamar saya Tuan."


Ha ha ha. Evan tertawa dengan sangat keras. "Apa kau lupa kita sudah menikah? Cepat masuk ke kamarku sekarang juga!"


Mata Amanda melotot tajam. "M-mau apa anda?!"


"Tentu saja menikmati malam pertama kita."


Amanda syok setengah mati. Ternyata benar apa yang ia takutkan selama ini ...!


"T-tunggu!"


"Aw."


Belum sempat Amanda berbicara, tiba-tiba Evan sudah menarik lengannya, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.


***