VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
CEMBURU?



Setelah Amanda menyelesaikan semua tugasnya, pada akhirnya ia bisa beristirahat dengan tenang. Evan juga berada di dalam kamar sedangkan Amanda tengah duduk di sofa sambil melamun menatap ke arah luar jendela.


Amanda termenung memikirkan apakah keputusan yang diambilnya ini sudah tepat atau pun belum. Karena Amanda memutuskan untuk mengikuti seluruh drama yang diberikan oleh Evan kepada dirinya.


Bukan tanpa alasan. Karena jika dia berencana kabur, Amanda sudah yakin seratus persen dia tidak akan pernah mampu melakukannya karena dirinya sadar dijaga dua puluh empat jam oleh pengawal. Lagi pula ...


Tiba-tiba ia memandang ke segala arah. Amanda hanya merasa dia sedikit aman berada di sini. Merasa bahwa semua perlakuan jahat Evan tidak sebanding dengan perlakuan Tante dan Pamannya yang kerap menyiksa dirinya. Lalu ada, Mama Melina ... entah kenapa saat Amanda bertemu dengan Mama Melina, ia merasa sangat berat melepaskan orang yang sangat-sangat tulus menyayanginya setelah sekian lama ia tidak mendapatkan kasih sayang.


Amanda melenguh panjang.


Tapi laki-laki itu ...?


Tiba-tiba ia meremas bagian atas dadanya.


Evan menginginkan ...?


Adalah satu-satunya hal yang ia takutkan saat ini. Membayangkan wajahnya saat itu benar-benar membuat Amanda sangat takut ... bagaimana Amanda mampu melakukannya dengan orang asing?


Tapi ... walau bagaimana pun, Evan nanti akan tetap jadi suaminya bukan? Tapi ... bukan kah pernikahan ini hanya pura-pura ...?


Astaga ...! Bahkan Amanda kebingungan jika terus memikirkannya. Mungkin, apakah nanti Amanda bisa meminta kompensasi kepada Evan ...? Adalah satu-satunya hal yang mungkin ia bisa lakukan saat ini.


***


Senja telah datang dan Amanda berada di dapur. Hari ini dia mengolah menu yang berbeda untuk ia sajikan kepada Evan. Ketika Amanda melihat porsi makanan yang berlebih ia segera mengemas makanan ini ke suatu wadah dan mulai menatanya agar telihat tapi.


Amanda hanya ingin memberikan makanan ini kepada para pengawal yang pasti sangat kelelahan berjaga di luar pintu apartemen. Lagi pula, mereka sangat berjasa karena tadi mereka menjaganya dengan baik saat pergi ke pasar.


Amanda kemudian membuka knop pintu, menatap ke arah dua pengawal yang masih setia berdiri.


"Hey, apa kalian tidak capek? Apa perlu aku bawakan kursi?" Celetuk Amanda.


"Tidak, nona. Kami sudah terbiasa."


"Omong kosong." Amanda kemudian membawakan dua buah kursi dari dalam ruangan untuk ia berikan kepada pengawal itu.


"Nona, ini tidak perlu."


"Tidak apa-apa. Aku yang malah merasa sungkan. Gara-gara aku kalian harus kerja ekstra seperti ini."


Dua orang itu saling tatap. Salah satu penjaga bernama Ronald itu pun hanya mengernyit. "Terima kasih."


Amanda kemudian mengeluarkan bingkisan ke arah mereka. "Ini nasi goreng buatanku. Makan lah selagi hangat."


Mereka kembali saling tatap.


"Tidak apa-apa, ambil lah. Aku sedang membuat banyak."


"Ah, terima kasih nona. Anda baik sekali."


Seorang bernama Liam pun meraih bingkisan itu.


"Maaf ya ... gara-gara aku kalian jadi berdiri sepanjang hari ..."


Ha ha ha. Liam malah tertawa. "Justru saya berterima kasih karena berkat anda saya jadi mempunyai pekerjaan setelah sekian lama menganggur ..."


Sementara itu, terdengar langkahan kaki. Lewat pintu yang sedikit terbuka, Evan melihat ke arah luar saat Amanda tengah berbincang dengan para pengawalnya. Bahkan, Amanda tertawa lebar saat bersama mereka.


"Kenapa dia?"


Dahi Evan mengerut saat melihat Amanda. Apa lagi saat Amanda bercengkerama dengan lelaki bahkan tertawa membuat Evan terganggu akan pemandangan itu.


"Amanda! Apa yang kau lakukan ...?"


Amanda, Liam dan Ronald langsung terdiam. Mereka menatap ke arah Evan secara bersamaan.


"Emm, saya hanya ..."


"Masuk."


"T-tapi ..."


"Kenapa kau tertawa sampai terbahak-bahak seperti itu dengan orang asing?"


Tidak ingin berdebat lebih lama, Amanda segera masuk ke dalam apartemen. Sementara itu, Evan menatap tajam ke arah mereka berdua dengan tatapan kesal. Entah lah, kenapa Evan bisa sekesal ini tadi saat melihat Amanda bisa tertawa terbahak-bahak dengan mereka.


"Emm, apa anda cemburu, Tuan?"


Evan syok ketika mendengar suara itu dari mulut pengawalnya.


"Hey, kau?! Berani-beraninya kau ...?!"


Setelah Evan kembali masuk ke dalam ruangannya, Ronald segera mengeluarkan ponselnya. Melaporkan semua apa yang terjadi hari ini kepada bosnya yang sesungguhnya.


Yaitu ... kepada Tuan Roberto, tentu saja tanpa sepengetahuan Evan.


***


"Kenapa kau senyam senyum dengan para pengawal itu?!"


"Saya hanya memberi mereka makanan Tuan."


"Kenapa tidak meminta izinku dulu? Kau tahu kau membelinya dengan uangku?!"


"Maaf, Tuan. Tapi mereka baik kepada saya dan ..."


"Hey! Ke mana kursi-kursi ini?"


"Maaf, Tuan. Saya berikan kepada mereka karena mereka pasti pegal seharian berdiri di sana."


"Mereka sudah kubayar ...!"


"Tapi saya hanya merasa kasihan ..."


"Kenapa kau baik sekali kepada mereka? Sampai-sampai kau bisa tertawa bebas seperti itu ...?"


Amanda mulai mengernyit. Kenapa Evan tiba-tiba menjadi marah besar?


"Maaf, Tuan."