VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
TUBUHMU BOLEH JUGA



Evan tampak frustrasi ketika ia pada akhirnya kembali ke kantornya dan menemui Beryl tepat di tengah malam seperti ini. Membuat Beryl tampak mengucek matanya berulang kali dan melihat bahwa sepertinya Evan tidak pernah memberinya istirahat.


"Perempuan itu, cepat selidiki perempuan itu secepat mungkin."


"Ayo lah, ini sudah tengah malam. Bisa kah aku mengerjakannya besok?"


Tapi Evan menggeleng. "Waktuku sangat berharga. Aku tidak mau membuang-buang waktu karena aku harus dengan cepat membersihkan namaku."


Beryl mendengus kesal.


"Cari tahu sampai ke akarnya. Cari tahu siapa dia dari yang terkecil sedikit pun. Dan yang paling penting adalah, kenapa dia bisa berada di hotel dan tiba-tiba berlari naik ke atas panggung sambil mengonsumsi obat itu."


"Ya ya ya. Pasti akan aku lakukan."


"Terima kasih Beryl. Hanya kau yang bisa aku andalkan."


Beryl mengernyit. "Oh, ya. Sebaiknya kau segera ke depan. Monika sedang berada di ruang tunggu. Apa kau tidak berpapasan dengannya? Dia tahu kalau kau akan ke sini dan dia berharap bisa bercengkerama denganmu?"


Begitu mendengar nama Monika tiba-tiba hati Evan panas seketika. Setelah semua yang telah terjadi, ia memang sudah malas berurusan dengannya lagi.


"Evan ..." terdengar pintu diketuk, tapi Evan segera melongos begitu saja saaat mengetahui bahwa Monika yang menyapanya.


"Ada hal yang ingin aku sampaikan ..."


"Maaf, tapi sepertinya tidak perlu."


"Evan, kita harus bicara? Mau sampai kapan kau mendiamkan aku?"


Tapi terlambat. Evan sudah menghilang dari balik pintu, sedangkan Monika hanya bisa memandang punggung bagian belakang Evan dengan air mata yang mengalir.


"Jadi, apa benar kalau perempuan itu tunangan Evan?" Tanya Monika kepada Beryl saat di dalam genggamannya ia sedang membaca berita yang sedang panas sekarang. Mengenai Evan bersama dengan seorang perempuan.


"Perempuan itu ...?" Beryl menggaruk-garuk kepala.


"Emm, aku tidak berani menjawabnya, Monik. Lebih baik kau tanyakan saja kepada Evan."


Monika melenguh kecewa ... ia harap bahwa semuanya tidak lah benar.


***


Sementara di tempat lain, Amanda menggedor-gedor pintu tapi sayangnya ia sudah disandera di hotel ini. Amanda lihat pria yang tadi sedang bercengkerama dengan para pengawal dan memintanya agar mereka bisa menjaga di tempat ini.


"Ya Tuhan, kenapa ada banyak sekali orang yang menyekapku?"


"Kenapa tadi dia mengatakan bahwa aku menggodanya?"


Amanda menahan tangis. Setelah kepergian pria itu, Amanda dilanda kebingungan yang teramat hebat. Ia tidak bisa mengingat apa pun, yang ia ingat adalah ketika dirinya berusaha untuk keluar dari tangan laki-laki tua bangka yang membelinya.


Tunggu. Tunggu.


Aku harus tenang ... aku harus tenang.


Amanda kemudian duduk di ujung ranjang, Amanda mulai menarik napas panjang, menarik napas dalam lalu mengeluarkannya lagi. Amanda mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.


Yang Amanda ingat saat itu, Amanda berlari ... mencari perlindungan ketika obat itu mulai memengaruhinya. Lalu ... Amanda melihat begitu banyak orang, sesaat setelah itu Amanda mulai berpikir bahwa saat ia naik ke atas panggung ia bisa menyelamatkan diri.


Astaga ...!


Mata Amanda mulai melotot tajam ketika sedikit demi sedikit ia mampu mengingatnya.


"Apa dia laki-laki itu? Apa dia laki-laki yang tadi malam kupeluk untuk kumintai pertolongan?"


Amanda mulai membungkam mulutnya sendiri, perlahan ingatannya mulai tersambung satu persatu. Dan sesuatu hal yang mengutuk perbuatannya sendiri adalah saat ia ...


"Astaga ...! Aku tidak menggodanya!"


"Tidak! Ini pengaruh obat! Aku tidak pernah dengan sengaja menggodanya!" Pekiknya sendiri.


"Tidak sengaja apanya?! Jelas-jelas kau bahkan hampir meniduriku! Apa kau tidak ingat kau memaksaku untuk membuka baju?"


Amanda hampir jatuh saat tiba-tiba pintu dibuka. Laki-laki yang ada di ujung pintu adalah laki-laki yang tadi mengatainya tidak-tidak.


"Dasar agresif ...!"


Amanda menggeleng-geleng keras. "K-kau?"


"Ya, aku. Apa menurutmu aku setan?"


"T-tidak. Itu semua pengaruh obat dan aku ..."


"Jangan bohong. Kau sendiri yang meminum obat itu untuk menggodaku kan?"


"Bukan. Aku tidak pernah ..."


Tapi baru saja Amanda akan melanjutkan kata-katanya Evan sudah melemparkan sebuah bungkusan makanan ke arahnya.


"Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikimu. Ingat! Jika kau macam-macam denganku aku tidak akan segan-segan untuk memberimu hukuman."


Amanda menggeleng. "Aku ... aku bisa jelaskan."


Tapi Evan hanya berdecih. "Jadi, kau sudah mengingat semuanya?"


Amanda mengangguk sekaligus menyeka air matanya.


"Aku terpaksa melakukan itu ... kalau kau mau, aku bisa bercerita kepada para wartawan kalau sebenarnya kita bukan apa-apa."


Ha ha ha. Evan malah tertawa dengan sangat keras.


"Dasar bodoh. Apa semuanya bisa semudah itu? Dengar! Kau sudah merusak semuanya! Apa kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan?! Dan ayahku ...! Kau telah membuatnya salah paham dan sekarang dia bahkan sudah menyiapkan acara pernikahan."


Amanda menggeleng-geleng. "Aku ... aku bisa jelaskan. Aku ... aku hanya putus asa."


Tiba-tiba Evan sudah berjalan ke arah dirinya, dengan mata yang menyala dan aura kebencian yang menjalar ke mana-mana. Membuat Amanda ketakutan dan langsung mundur ke arah belakang.


"Kau ...! Kau wanita paling menyedihkan yang baru pertama kali aku temui! Jelaskan! Jelaskan rencana apa yang sedang kau susun! Caramu mendapatkan pria adalah cara paling licik yang pernah kutemui! Sebutkan berapa uang yang kau butuhkan! Itu kan yang kau mau?"


Amanda menggeleng, kini ia sudah tidak bisa ke mana-mana lagi saat tubuhnya terkunci. Punggungnya sudah menempel di dinding sedangkan Evan hanya berjarak kurang dari sepuluh senti meter di hadapannya.


"Katakan!"


Amanda menangis ...


"Aku ... bisa jelaskan ... tapi bisa kah kau mundur ..."


Tapi tangan Evan sudah mencengkeram mulut Amanda dengan sangat kasar. Mencengkeram bibirnya dan menatapnya dalam-dalam.


"Bajingan kecil, bisa-bisanya kau ..."


"Maafkan aku ... aku ..."


"Baik lah, berhubung kau tadi ingin meniduriku, aku akan kabulkan. Lagi pula tubuhmu boleh juga."


Mendengar kata-kata itu, mata Amanda terbelalak kaget.


"A-apa?"


***