VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
BELAJAR MENCINTAI



Ketika Evan menggendong Amanda untuk dibawa ke rumah sakit, kedua pengawal yang ada di depan pintu kaget luar biasa. Mereka juga sebenarnya curiga karena sudah begitu lama kedua majikannya itu berada di apartemen tanpa keluar tidak seperti biasanya.


Sesegera mungkin mereka mengikuti Evan ke rumah sakit, Ronald mengernyitkan dahi saat ia juga membuat laporan kepada Roberto mengenai kondisi Amanda saat ini.


Sedari tadi Evan terus memegangi tangan Amanda, ketika Amanda di dorong menyusuri lorong rumah sakit, Evan tidak mampu untuk melepaskan tangan itu.


Evan benar-benar khawatir, tubuh Amanda begitu panas bahkan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan suhu hingga membuat Evan ketakutan kalau sampai terjadi apa-apa dengan Amanda.


"Mohon maaf, keluarga pasien hanya bisa menunggu di luar ruangan, Pak." Begitu ucap salah satu perawat hingga membuat Evan segera mundur ke belakang.


Dengan sangat terpaksa Evan hanya bisa duduk di luar, meremas kedua tangannya sambil terus berdoa kepada Tuhan demi kesembuhan Amanda.


"Evan ..." belum selesai rasa khawatir itu tiba-tiba terdengar sebuah suara. Monika muncul dari balik lorong dan juga kaget melihat Evan berada di sini.


"Evan, kenapa kau ke sini?" Buru-buru Monika berlari ke arah Evan. Tatapannya menuju ke arah ruang UGD. "Apa Ayah yang sakit? Atau Mama yang sakit?" Kerutan di dahinya membuat Evan muak.


Sial! Kenapa ia bisa bertemu dengannya?!


"Mau sampai kapan kau sebut orang tuaku seperti itu?! Sudah berapa kali aku bilang kalau ..."


"Aku tetap berusaha untuk membuka hatimu kembali, sayang. Soal kemarin malam maaf, aku ... aku kelewatan dan aku ..."


"Monika, stop!" Evan langsung mundur ke arah belakang saat Monika ingin memeluknya. "Kau tahu siapa yang ada di dalam? Dia isteriku, dan kau tidak pantas memeluk orang yang sudah mempunyai isteri."


"E-Evan ... kau bercanda."


Buru-buru Evan menggeleng.


"Evan, tinggalkan perempuan sialan itu dan kembali padaku. Aku yakin kau masih mempunyai rasa untukku sama seperti apa yang aku katakan kemarin."


"Astaga, Monika. Aku baru sadar kalau kau sejahat ini."


Evan menghela napasnya berat ketika ia memandang ke arah Monika. "Kau tahu ...? Kehadiranmu saat ini tiba-tiba membuatku sadar bahwa, setiap hari yang aku habiskan untuk menyesali perpisahan kita adalah sebuah tindakan yang sangat bodoh."


"Evan, kau bicara apa?"


"Ya, aku akui malam itu aku hampir terjebak olehmu. Aku akui juga kalau sampai saat malam itu aku memang masih memiliki rasa untukmu. Mustahil rasanya tiba-tiba melupakan hubungan yang sudah lama terjalin begitu lama. Bahkan ketika aku pulang, sampai-sampai aku mabuk dan bahkan menyakiti isteriku karena terlalu frustrasi dengan ucapanmu."


Mendengar hal itu tiba-tiba Monika tersenyum bangga.


"Ya, sayang. Akhirnya kau paham."


"Tapi, saat ini sekarang sudah berbeda. Mendengar ucapanmu yang selalu gampang untuk membuang sesuatu dan menyuruhku dengan begitu mudah untuk membuang isteriku, membuatku sadar kalau kau bukan perempuan baik yang pantas untuk dipertahankan."


Mendengar hal itu mata Monika melotot dengan sangat lebar.


Tiba-tiba Evan berjalan ke arah Monika dan membisikkan sesuatu. "Kau tahu? Kau pernah mengatakan bahwa aku tidak mungkin tidur dengan perempuan lain karena menurutmu aku tidak bisa melupakanmu bukan?"


Tiba-tiba Evan tertawa. "Kau salah besar!"


"E-Evan, jangan-jangan ..."


"Keluarga Ibu Amanda," begitu perawat menyerukan nama itu, Evan segera menjauh dari Monika dan segera masuk ke dalam ruang perawatan.


Dan untuk kesekian kalinya, Monika merasa terabaikan.


***


Amanda memijat kepalanya ketika perlahan-lahan ia membuka mata. Ditatapnya segala ruangan yang ada di sekitar, semua terasa begitu megah bernuansa biru yang Amanda sadari bahwa ini bukan lah kamar di mana seharusnya ia berada.


"Amanda, kau sadar ...?"


Hal yang pertama kali Evan lihat adalah wajah Evan. Ia tengah menunduk ke arah dirinya dan Amanda merasakan jarinya menggenggam erat tangan kanannya.


"Aku di mana?"


"Kau di rumah sakit. Aku baru saja memindahkanmu ke ruang VIP."


Amanda terperanjat kaget. "Aku ...?" Bahkan Amanda baru sadar bahwa ada infus yang menancap di tangan kirinya.


"Tubuhmu panas sampai empat puluh derajat, kau juga belum makan, untuk itu dokter memberimu infus."


Amanda menggeleng. "Aku tidak mau di sini, kita belum menyelesaikan pembicaraan kita."


"Amanda, stop. Sekarang beristirahat lah!"


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi, Amanda."


"Perceraian kita bagaimana?"


"Sudah aku bilang kalau tidak ada perceraian."


"Tapi aku tidak membutuhkan tanggung jawabmu."


"Tapi aku ingin bertanggung jawab."


"Jangan terlalu memaksa. Kita tidak bisa melanjutkan hubungan kalau tidak saling cinta. Aku selalu percaya pernikahan dibangun dengan cinta. Dan kita tahu kalau aku tidak mencintaimu, dan kau tidak mencintaiku."


"Baik lah kalau begitu." Tiba-tiba Evan melenguh panjang ketika mendengar penjelasan dari Amanda.


"Kalau begitu kita cerai?" Tatap Amanda penuh harap.


"Kalau begitu kita bisa belajar untuk saling mencintai satu sama lain."


Dan mendengar hal itu mata Amanda terbelalak kaget.


"A-apa?!"


"Aku tidak bercanda. Mari kita belajar saling mencintai." Ucapnya lagi.


***


06:28