
Maafkan aku, aku harus melakukan ini ...
Gumam Amanda di dalam hati, sementara ia tidak sadar bahwa orang yang ada di dalam pelukannya ini begitu kaget dengan apa yang ia lakukan.
Sementara itu, para wartawan tidak ingin ketinggalan berita. Mereka memotret wanita muda itu yang tengah memeluk Evan dengan begitu erat bahkan di hadapan semua orang. Para hadirin yang hadir di sini pun sedari tadi tidak melepas tangannya yang masih membungkam mulutnya yang menganga lebar tidak percaya.
Astaga, apa ini?!
Beryl bahkan hanya bisa berdiri kaku. Ia terbengong sekaligus kaget luar biasa. Apa wanita ini ... adalah salah satu wanita yang pernah dikencani oleh Evan? Pikir Beryl dalam hati.
Sementara itu, Amanda melirik ke arah para pengawal itu yang kemudian menghentikan langkahnya. Mereka juga tampak kebingungan saat melihat Amanda yang tengah berada di dalam pelukan seorang laki-laki.
Bahkan para pengawal itu juga tampak syok saat melihat ke arah kamera yang langsung memotret Amanda di atas panggung. Niat mereka yang ingin segera naik ke atas panggung dan menarik paksa Amanda untuk segera turun, tidak pernah bisa mereka lakukan.
Perlahan, orang-orang itu memilih mundur, mereka tidak ingin menaanggung resiko jika ia harus menyeret Amanda turun dari panggung dan menimbulkan keributan apa lagi mereka tahu bahwa tempat ini dipenuhi oleh kerumunan wartawan.
Dan ketika Amanda melihat mereka yang langsung mundur ke arah belakang, ia pada akhirnya bisa bernapas lega. Spontan, Amanda langsung menarik diri dari pelukan Evan yang masih syok dengan apa yang Amanda lakukan.
"A-apa maksudmu?" Evan melotot tajam saat menatap ke arah Amanda yang kini berdiri dengan tubuh yang gemetar di depannya.
"Maafkan aku ..." Amanda ikut berbisik dan menatap ke arah Evan dengan tatapan menyesal.
"Aku ... aku harus pergi." Setelah merasa cukup aman, Amanda pamit kepada Evan untuk segera pergi dari sini. Sekarang, ia harus pergi, pergi sejauh mungkin agar tidak ditangkap oleh laki-laki tua bangka itu.
"Apa?!" Bahkan Evan masih tidak percaya dengan bisikan perempuan ini.
Setelah apa yang ia lakukan, dia akan pergi ...?!
Sungguh. Semua orang masih syok dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Tidak terkecuali Beryl bahkan ayahnya yang masih menganga lebar di tempat duduknya.
Sementara itu, kilatan-kilatan lampu akibat kamera yang memotret ke arah mereka semakin menyilaukan. Baru saja Amanda akan turun tapi tiba-tiba pertanyaan para wartawan membuat Amanda langsung membeku di atas panggung.
"Jadi ... ini adalah calon isteri anda tuan Evan?"
"Eh?"
"Ini perempuan yang tadi anda maksudkan tuan?"
Evan langsung gugup, sementara Amanda yang tidak tahu apa-apa juga kebingungan dengan pertanyaan itu. Tadi ... dia hanya ingin membuat keributan agar para pengawal itu tidak menangkapnya.
"Nona muda ...?"
Semua orang tiba-tiba bertepuk dengan sangat keras, seluruh para hadirin yang hadir tiba-tiba saling memberikan pujian dan sanjungan oleh sebuah kejutan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
"Wah, anda penuh dengan kejutan tuan Evan?"
"Ini akan menjadi berita yang paling menggemparkan."
"Anda terlihat muda sekali ..."
"Siapa nama anda nona muda ...?"
Sinar kamera itu semakin membuat Amanda pusing, rasa mual tiba-tiba langsung menyergap Amanda saat ini juga hingga berasa ingin muntah.
Astaga! Obat itu bereaksi semakin keras seberapa kuat Amanda berusaha!
Amanda gelagapan, tapi sedetik kemudian Roberto datang bersama dengan isterinya bergabung dengan Evan dan juga Amanda di atas panggung. "Jadi ... apakah ini kejutan untuk ayah?"
Mata Evan membelalak kaget.
"Pada akhirnya kau memperkenalkan calon isterimu kepada ayah. Ya Tuhan, ayah benar-benar senang."
Evan semakin gelagapan, terlebih ia membenci perempuan yang ada di sampingnya ini yang hanya diam saja seperti membenarkan apa yang telah terjadi.
"Sial! Apa yang baru saja perempuan sialan ini lakukan?!"
Tepuk tangan semakin meriah. Mereka tampak bersiul karena membayangkan bahwa sebentar lagi Evan akan menikah.
"Anda cantik sekali nona ..."
"Wah berapa umur anda, anda terlihat sangat muda dibandingkan dengan tuan muda."
"Bagaimana anda bertemu dengan tuan Evan untuk yang pertama kali?"
"Sudah berapa kalian memiliki hubungan sampai-sampai tidak ada siapa pun yang tahu hubungan kalian."
Mata Evan semakin terbelalak kaget akan pertanyaan demi pertanyaan itu, apa lagi saat ayahnya langsung menepuk bahunya bangga.
"Tidak ... ini tidak seperti yang kalian bayangkan, ini ..."
Ha ha ha. Tiba-tiba Roberto langsung memeluk anaknya. "Para hadirin yang terhormat, aku pun juga kaget saat anakku pada akhirnya membawakan seorang perempuan yang sangat cantik. Aku umumkan, bahwa sepertinya aku tidak perlu menunggu lebih lama lagi ... aku pastikan anakku bahwa anakku akan segera menikahi perempuan ini agar kalian tidak terus menerus menyudutkan anakku."
Mata Evan melotot tajam, begitu pun dengan Beryl dan juga Amanda.
"Ayah ...!"
"Why? Ada apa. Anakku? Kamu sudah mengenalkan pacarmu, untuk apa kita menunggu lagi?"
Evan semakin gelagapan. Ia bahkan tidak tahu siapa perempuan yang ada di sampingnya ini. Dan bagaimana bisa ayahnya langsung percaya diri dan mengumumkan tentang pernikahan?!
"Astaga ... Ayah?!"
Tapi sepertinya suara gemuruh tepuk tangan menutup pendengaran siapa pun yang ada di sini. Sedangkan Evan langsung menatap ke arah perempuan asing itu dengan tatapan benci!
Sial! Siapa sebenarnya perempuan ini?!
Dan hal yang membuat Evan semakin benci adalah, perempuan itu hanya diam saja dan semakin membenarkan apa yang sedang terjadi!
Evan langsung bertindak! Ia langsung menarik tangan Amanda dan mencengkeramnya kuat agar perempuan ini mau mengatakan yang sebenarnya.
"Kau ...! Katakan dengan jelas! Sialan apa yang sebenarnya kau rencanakan?! Siapa kau sebenarnya?!" Pekik Evan tepat di telinga Amanda.
Tapi betapa tercengangnya Evan saat ia melihat raut muka gadis itu yang terlihat sangat pucat dan tubuhnya tiba-tiba sangat panas. Keringatnya bercucuran, sekaligus tubuhnya yang tiba-tiba bergetar dengan sangat hebat.
***