
"Aku mohon ... lepaskan aku!"
Amanda menjejak-jejakkan kakinya saat ia diangkat oleh pria lainnya ke sebuah pesawat yang nanti akan membawanya terbang pergi entah ke mana.
Amanda mulai ketakutan, tubuhnya bergetar hebat saat menyadari apa yang dikatakan oleh Boby benar adanya. Boby telah menyewa pesawat pribadi, membayar siapa pun orang yang menghalanginya dan berniat untuk membawa Amanda pergi ke sebuah tempat yang Amanda tidak tahu itu di mana.
"Minum ini, sekarang!"
Dan lagi-lagi ketika Amanda bertemu dengan Boby dia akan dipaksa untuk meminum obat. Tapi Amanda segera menggeleng hebat, ia menjejak-jejakkan kaki untuk menghindari pemaksaan ini.
"Apa-apaan ini?! Aku tidak mau! Lepaskan aku!"
"Cepat minum sekarang! Lakukan sekarang juga!"
"Aku tidak mau!"
Amanda terus berontak dan Boby terus memaksa, membuat beberapa orang yang ada di sini akhirnya memegangi kepala Amanda agar menurut.
***
Sementara di tempat lain, Evan berlarian ke sana dan ke mari, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menuju ke sebuah bandara.
Sialan! Boby sialan!
Pada akhirnya Ronald dan Evan mendapatkan sebuah bukti sempurna. Sebuah rekaman dari sebuah mobil ambulance yang terparkir tidak jauh dari kamar perawatan Amanda, menyorot pada seseorang yang Beryl segera tahu bahwa dia adalah Boby. Untung saja, Beryl segera paham kalau itu adalah Boby, karena Beryl adalah satu-satunya orang yang pernah bertemu secara langsung dengan orang itu.
Evan segera melacak keberadaan Boby, menggunakan koneksi dari Ayahnya, bahkan temannya Anderson, ia mencari Boby sampai ke mana pun. Dan setelah ditelusur, Boby telah memesan sebuah pesawat secara pribadi untuk pergi ke Spanyol beberapa jam yang akan datang.
"Sial!"
Beryl sedikit terpana akan perilaku Evan, jujur Beryl tidak tahu kenapa Evan bisa segila ini hanya karena perempuan. Membuat Beryl berpikir, kalau mungkin gadis itu telah menorehkan sesuatu di hati Evan.
"Evan, hati-hati lah."
"Aku tidak mungkin membiarkan isteriku diambil oleh laki-laki bejat seperti dia!"
"Ya, ya. Aku tahu."
Tapi belum sempat Beryl melanjutkan kata-katanya, Evan semakin menginjak gasnya dengan kecepatan tinggi.
***
Amanda seperti sudah terperangkap. Ia menangis histeris ketika ia mulai merasa lemas di sekujur tubuhnya. Ia benar-benar merasakan takut, ia sudah berada dalam keputus asaan.
Amanda hanya bisa jatuh tersungkur, ia sudah melihat botol obat yang entah Amanda tidak tahu itu obat apa tergeletak ke atas lantai. Dan itu artinya, Amanda sudah dipaksa untuk meminum obat itu sampai habis.
Baru sepuluh menit berselang, kini tubuh Amanda tidak berdaya. Bahkan ketika Boby menggendongnya untuk naik ke dalam pesawat Amanda sudah benar-benar tidak mempunyai tenaga.
"Ya Tuhan, tolong aku ..."
Amanda semakin menetes, ia sudah nyaris kehilangan harapan. Dan di tengah keputus asaannya kali ini, ia hanya teringat akan satu nama.
"Evan ..."
Tiba-tiba Amanda mendesiskan nama itu, entah kenapa ia sangat berharap kalau Evan bisa datang. Karena hanya Evan, satu-satunya orang yang mungkin bisa menolongnya.
"Evan, tolong aku ..."
Tapi sepertinya semua sudah terlambat. Beberapa menit lagi, pesawat ini akan benar-benar pergi.
***
"Laki-laki ini, sepertinya sudah tergila-gila."
Beryl hanya bisa menenangkan Evan dengan menepuk bahunya satu kali.
"Tenang lah, isterimu pasti akan kembali. Kau tidak perlu cemas ..."
Tapi tidak ada yang mampu mengetahui betapa khawatirnya Evan kali ini. Evan sungguh tidak tahu bagaimana jadinya kalau ia benar-benar ditinggalkan.
Ada air mata yang menggenang, dan itu membuat Beryl sedikit tersentak.
Baru kali ini ada wanita yang mampu membuat Evan sefrustrasi sekarang ini. Bahkan perlakuan Evan kepada Monika, mantan pacarnya dulu, berbeda dengan perlakuan Evan kepad Amanda.
Ternyata benar ... Evan memang sedang jatuh cinta.
***
.
.
. Note : dibawah ini cerita baru yang di-posting di w a t t p a d.. kalau berkenan harap mampir kesana.. thank u ... akunku denands judulnya Having His Baby
.
.
HAVING HIS BABY
Mata Anne mulai berair ketika ia melakukannya. Terduduk lemas di dalam toilet saat menghitungi detikan jam dengan sangat hati-hati. Kini matanya terpejam, ia benar-benar tidak berani melihat benda putih berukuran sepuluh senti meter itu yang kini berada dalam genggamannya.
"Pasti negatif, pasti negatif." Bahkan sampai saat ini, Anne masih berusaha menenangkan hatinya. Jadwal bulanannya terlambat lebih dari sepuluh hari, dan Anne, masih berharap semua akan baik-baik saja. Lagi pula, Anne baru menjalani kegiatan ospek satu minggu yang lalu, dan Anne benar-benar tidak mungkin bisa melanjutkan hidup jika tanda yang dimunculkan oleh benda itu bergaris dua.
Tidak. Anne yakin kalau hasilnya negatif. Seingatnya, jadwal bulanannya memang kadang tidak teratur. Kadang maju, dan kadang mundur tidak sesuai dengan tanggalnya. Dan Anne berharap, bahwa untuk kali ini saja dia juga mengalami hal seperti itu.
Dan sekarang, akhirnya Anne berani membuka mata. Keringat dingin mulai bercucuran bersamaan dengan tangannya yang bergetar. Anne kemudian menunduk, matanya langsung menyala lebar ketika menatap benda putih itu.
"T-tidak. Ini tidak mungkin!"
Syok. Anne benar-benar syok. Detik itu juga wajah Anne memucat saat melihat dua garis terpampang jelas dari benda putih itu. Secepat kilat benda itu terlempar begitu saja. Tangannya bergetar bersamaan dengan bibirnya yang membiru saking pasinya.
Tidak mungkin...!
"Aku tidak mungkin hamil!"
Mata hitam itu kini berair dengan sangat deras. Wajah syok, kecewa, marah dan sedih kini bercampur menjadi satu hingga membuatnya benar-benar frustrasi.
Ya Tuhan, aku baru berumur delapan belas tahun dan aku tidak mungkin hamil.
Anne mulai mengutuk dirinya sendiri. Ini benar-benar sebuah kesalahan besar. Bagaimana letak tanggung jawabnya kepada Ibu asuhnya selama ini? Yang dulu dengan berat hati melepaskan Anne untuk kuliah di Jakarta. Yang dulu sempat menasehati Anne untuk tetap berada di Bandung.
Dan detik itu juga, Anne membuang semua kepercayaan itu. Anne ingat betul ketika dulu Anne bersusah payah untuk membujuk Bunda Airin. Dan ketika kesempatan telah didapat, Anne malah membuangnya begitu saja.
Tangan Anne kembali bergetar. Rasa takut, sedih marah mulai menyerangnya secara bersamaan. Seharusnya ia tidak menuruti semua perkataan teman-temannya satu bulan yang lalu. Rasa sesal kini menggerogoti seluruh jiwanya, teringat akan kejadian satu bulan yang lalu ketika Anne terbangun telanjang di sebuah kamar bersama dengan pria itu.
"Laki-laki itu." Hal yang langsung Anne ingat adalah wajah dari laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan belum Anne ketahui siapa namanya. Laki-laki yang telah membuatnya hamil seperti ini.
Aku... harus mencari laki-laki itu. Isaknya dalam hati.
***