VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
PINGSAN



Sementara di sudut lain, ada seseorang yang sedang membanting apa pun yang ada di atas meja dengan sangat keras. Boby, orang yang dulu pernah hampir membeli Amanda berteriak frustrasi karena ia tidak bisa mendapatkan perempuan itu.


Tidak ada yang tahu, bahwa Boby sudah sangat lama terobsesi dengan Amanda. Bahkan sejak Amanda duduk di sekolah dasar, saat dulu ia menjadi rekan bisnis almarhum orang tuanya, dia sudah tergila-gila akan kecantikan itu.


Astaga ...! Kenapa Amanda tidak mengingat satu apa pun tentang dirinya?!


Boby lagi-lagi menghancurkan barang apa pun di dekatnya. Dan kini ia tidak terima saat atasannya, sekaligus orang yang paling berkuasa di kantornya tiba-tiba mengatakan bahwa Amanda adalah isterinya.


Sialan! Ini pasti ada yang salah!


Boby disuruh untuk mundur. Lewat kaki tangannya, tiba-tiba Boby dipanggil ke ruangan Beryl si cecunguk itu dan mengayakan bahwa dia tidak boleh menganggu Amanda dan diancam akan dibuat menderita jika ia melanggar itu.


Tapi, saat Boby berusaha untuk melupakan Amanda, kenapa dia merasa sangat frustrasi? Boby tidak pernah rela, ia tidak pernah bisa untuk melupakannya.


Amanda! Aku harus mendapatkanmu kembali! Tekadnya dalam hati.


***


Amanda sudah muak dengan kegilaan ini. Amanda tidak tahu apa yang ada di otak Evan hingga membuat kepala Amanda seperti meledak. Wajah pucat Amanda semakin pucat saat ia menatap ke arah Evan dengan tatapan ketidak percayaan.


"Amanda, kau harus makan!"


"Tuan, saya ingin bercerai."


"Wajahmu pucat, kau harus makan ..."


Tapi Amanda tetap menggeleng, ia tetap harus meluruskan semuanya.


"Kau bilang kau berterima kasih padaku karena dengan pernikahan ini kau bisa bebas dengan Paman dan Bibimu, sekarang jika kau menjadi isteriku selamanya bukan kah kau bisa bernapas lega?"


Amanda semakin terisak. "Kau ... sama saja dengan mereka ...!" Suara Amanda bergetar, lagi-lagi ia menangis menatap ke arah Evan. "Aku yakin, aku bisa kabur dari kalian. Aku akan pergi sejauh mungkin dari kota ini."


"Amanda ..."


Amanda ingin berusaha pergi tapi sepecat kilat Evan menarik tangannya. Betapa terkejutnya Evan saat merasakan kulit Amanda yang begitu panas. Suhu tubuhnya meningkat hingga Evan langsung berdiri dan memegang kedua bahunya.


"Kau ... kau sakit?"


Evan berdehem.


"Istirahat lah, itu hanya emosi sesaatmu saja. Kau hanya marah dan kecewa padaku sehingga kamu tidak perpikir panjang dan menuntut cerai padaku. Apa kau lupa ... jika kita berpisah, bagaimana nasibmu nanti? Paman dan Bibimu pasti akan mencarimu lagi."


Air mata itu menetes lagi. Rasanya menyesakkan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Evan, tapi ... Amanda harus bagaimana? Hidupnya seperti buah simalakama yang tak pernah usai. Apakah memang hidupnya harus semenderita ini?


Evan melihat Amanda lagi yang meringkuk membelakanginya.


"Kamu bahkan tidak bisa menjawab ... kamu pasti juga berpikir hal seperti itu bukan? Aku tahu kamu sedang bingung sekarang."


Amanda meremas tangannya sendiri sambil menahan napas.


"Aku mengerti kenapa emosimu bisa meledak-ledak seperti itu. Maafkan aku telah menyulitkanmu.


Tapi Amanda menggeleng. "Lalu ... menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Di sini dengan orang yang baru saja memperkosaku?"


Perlu usaha yang sangat keras ketika Amanda mengatakan hal itu, Amanda menelan salivanya berat saat ia mulai merasakan pening yang ada di kepalanya.


"Berhenti lah. Kau harus istirahat dan kau harus makan."


Tapi tetap saja Amanda menggeleng.


"Amanda jangan keras kepala. Aku beri kamu waktu hingga kamu bisa berpikir jernih dan kita bisa bicara baik-baik."


Amanda menggeleng. Entah lah, semuanya terasa menyakitkan, membuat Amanda segera melangkah pergi untuk menjauh dari Evan. Tapi, begitu ia menjejakkan kakinya dan menopang seluruh tubuhnya ia tiba-tiba limbung.


"Astaga, Amanda ..."


Amanda hampir terjatuh jika Evan tidak menangkapnya. Ingin sekali Amanda melepas pelukan itu, tapi tiba-tiba kegelapan mulai menguasainya. Membuat Amanda akhirnya terlelap jatuh tidak sadarkan diri.


"Amanda, Amanda, Amanda!"


Tapi sayang, Evan tidak bisa membangunkan gadis ini.