VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
AKU INGIN MENJADI ISTERIMU



Hari ini adalah hari di mana semua orang menunggunya dengan begitu sangat. Hari di mana Evan bisa segera bebas dari perempuan yang membuat gempar seluruh negeri. Monika yang ternyata mempunyai rencana yang akan mengikat Evan, sementara Amanda yang ketakutan setengah mati kalau nanti Paman dan Bibinya datang untuk menyuliknya lagi.


"Aku harus bagaimana ...?" Amanda menangis histeris saat ia meratapi dirinya sendiri. Menatap ke arah jam yang memasuki waktu shubuh dan selama semalaman ia benar-benar tidak bisa tidur.


Sementara di tempat lain, ada Monika yang tersenyum bangga mematut dirinya sendiri di depan cermin. Ia nekat menyuruh Max teman baiknya sewaktu kuliah dulu untuk merias dirinya dan kini sibuk memilih gaun untuk ia pakai.


"Sebenarnya kau mau ke mana, Monika? Kau menyuruhku untuk mendandanimu di waktu shubuh seperti ini?" Max mulai protes, ia menguap beberapa kali dan menatap ke arah Monika yang sangat membuatnya curiga.


Tapi Monika hanya tersenyum manis dan menatap ke arah Max dengan sejuta misteri.


"Nanti nonton lah televisi saja. Pasti aku akan muncul di sana."


"Eh?"


Monika hanya terkekeh, sementara Max mengerutkan kening menatap ke arah Monika yang sepertinya sudah mulai gila. Dirinya sudah mulai merasa aneh, melihat sikap Monika sepertinya ia telah membuat sebuah rencana besar yang mungkin saja dia mampu berbuat nekat. Apa lagi saat Monika tersenyum seperti itu, entah kenapa membuat bulu kuduk Max meremang seketika.


"Katakan lah, kau membuatku takut."


"Kau tahu Evan?"


"Emm ya."


"Aku akan membuat dia menjadi milikku lagi. Aku akan mengatakan kepada para wartawan kalau aku adalah orang yang sebenarnya ingin ia nikahi. Sesaat setelah Evan mengumumkan bahwa perempuan gila itu bukan lah orang yang ia nikahi, aku akan datang ke panggung dan mengatakan bahwa semuanya telah salah paham."


"A-apa?"


Monika hanya meringis.


"Kau gila?"


"Why? Perempuan itu juga melakukan hal licik untuk mendapatkan Evan, dan sekarang aku juga bisa melakukan sesuatu yang lebih nekat untuk memilikinya bukan?"


Max menarik napas panjang.


"Oh ya. Jangan katakan kepada siapa pun rencana ini, oke? Kau tahu kalau aku adalah teman baikmu."


Max menjitak kepalanya sendiri. "Tapi Evan juga temanku ... kau tidak bisa menjebaknya."


"Turuti aku, Max. Aku tahu kau pernah mencintaiku dan tidak akan pernah tega untuk menyakitiku kan?"


Max memutar kedua bola mata. Sejak kapan aku mencintaimu?! Pikir Max dalam hati.


Ternyata Monika tidak berbeda dengan dirinya yang ada di masa lalu. Dia adalah orang yang sama, orang yang selalu tampil percaya diri.


***


Pukul sembilan dan Evan sudah berada di sebuah ruangan yang sama dengan Amanda. Ia nekat pergi ke sini bersama dengan Beryl hanya untuk memastikan bahwa perempuan ini tidak akan macam-macam dan harus menghafal seluruh draft yang ia kirimkan kepadanya.


Ya, mau tidak mau Amanda dipaksa untuk mengatakan semua itu kepada para wartawan. Evan meminta pertanggung jawaban kepada Amanda agar ia mau melakukan itu untuk menebus kesalahannya di waktu itu.


"Jadi, sebaiknya kita harus pergi."


"T-tunggu."


"Kau kenapa membuat hidupku selalu susah?"


Amanda menggeleng dan ia nekat untuk tetap duduk di drpan cermin. Ia meremas tangannya karena merasa takut.


"Bagaimana nasibku setelah ini? Bagaimana jika aku ditangkap lagi oleh Paman dan Bibi dan dijual lagi?"


"Sudah aku katakan itu bukan urusanku."


"Tapi bisa kah kau menolongku?" Ada air mata yang tidak sengaja jatuh hingga berakhir terisak yang tidak tertahankan. Amanda terlihat sangat putus asa, ia tidak tahu bagaimana lagi jika nanti Paman dan Bibinya datang dan mulai membawanya lagi.


"Sudah aku katakan aku tidak mau tahu." Evan mulai geram. "Yang aku pikirkan hanya diriku sendiri, dan mari kita pergi!"


Amanda masih menggeleng, ia benar-benar tidak mau. "Aku ... aku mohon, tolong aku ..."


"Astaga! Perempuan ini benar-benar!" Evan semakin ingin marah. Bukan kah kemarin wanita ini yang ngeyel ingin pergi? Tetapi kenapa sekarang dia bersi keras untuk tetap tinggal?!"


"Kau ...?!"


"Aku takut ..."


Sungguh, Amanda benar-benar ketakutan. Ia sudah berada di titik keputus asaan yang teramat sangat, hingga pada akhirnya Evan benar-benar tidak sabar ... ia kemudian menyeret Amanda untuk segera keluar dari ruangan ini dan disaksikan oleh Beryl dengan mata yang berkerut.


"Tolong aku ... aku mohon."


"Kau gila?"


Amanda semakin putus asa. "Aku ... aku benar-benar bisa menjadi isterimu."


Mendengar hal itu kedua mata Evan melebar, begitu pun juga dengan Beryl.


"Aku tahu kau orang baik, setidaknya kau tidak pernah berusaha melecehkan aku. Aku ... aku mengatakan hal yang sungguh-sungguh, aku ingin menjadi isterimu. Aku janji aku tidak akan merepotkanmu, aku akan selalu membantumu. Aku akan berusaha tidak menjadi beban untukmu, kalau kau merasa aku beban ... aku ... aku akan mencari pekerjaan dan ... dan ikut menopang ekonomi keluarga kita."


"Ha ...?!"


Kedua mulut Evan dan Beryl melebar secara bersamaan.


"Kau! Benar-benar!"


Evan kemudian menatap ke arah Beryl yang masih membuka mulutnya lebar-lebar.


"Beryl! Urus perempuan ini agar dia bisa diajak bekerja sama!" Teriak Evan dengan sangat keras.


***


Hai, makasih udah ngikutin cerita ini :)


like, vote komen ya... makasih...