VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
TELEFON DARI ANDERSON



Amanda meringkuk. Dia pergi ke kamarnya sendiri dengan posisi tidur walau pun Evan tahu kalau dia sedang tidak tidur.


"Sudah aku katakan kalau kita harus satu kamar."


Amanda diam, membuat Evan menghela napas.


"Hey, aku tahu kau belum tidur."


"Apa kau ingin mengerjaiku lagi? Aku tahu selama kemarin kau sedang mengerjaiku."


Evan mengernyit. "Kalau tahu, kenapa kau mau-mau saja?"


"Karena aku takut terusir. Kau tahu jika aku keluar, aku akan benar-benar menjadi pel*cur rendahan."


Evan menghela napas. "Kau tersinggung?"


Amanda menggeleng. "Secara teknis ya. Tapi apa kuasaku? Aku tidak mempunyai hak untuk bisa protes oleh orang berkuasa sepertimu."


Mendengar jawabannya yang semakin berani, Evan menghela napas. "Bicaramu seolah-olah kau ingin tampil menyedihkan di depanku."


Amanda menghela napas.


"Aku minta maaf padamu, tapi aku juga ingin berterima kasih padamu. Berkat dirimu, aku terbebas dari Paman dan Bibi untuk sementara. Nanti, setelah pernikahan ini tinggal aku mencari cara lain agar bisa benar-benar terbebas dari Paman dan Bibi."


Evan memandang Amanda lekat-lekat dari arah belakang. Evan juga melihat suara putus asa yang terasa sangat berat. Jujur, Evan juga merasa kasihan, gadis ini mungkin juga merasa bahwa dia juga sangat berat menjalani kehidupan.


"Maaf." Tiba-tiba Evan mengatakan hal itu. "Aku tidak bisa mengerem ucapanku. Aku minta maaf."


Pada akhirnya Amanda menoleh, tapi sepertinya Evan terlalu gengsi. Ia memilih pergi keluar dari kamar. Tapi sebelum itu, ia menoleh ke arah Amanda. "Aku harap kau segera pindah ke kamarku sekarang, karena kalau tidak, aku tidak akan mengerjaimu, tapi akan melakukannya secara sungguh-sungguh! Kau selalu tahu aku memang menginginkan tubuhmu itu."


Secepat kilat mata Amanda melebar lalu segera turun dari ranjang. Sial! Dasar laki-laki ini!


"Hey! Kita sudah menjadi suami isteri, tidak ada salahnya kau melayaniku."


"Tutup mulut anda!!!"


Sementara Evan, hanya bisa tertawa di dalam hati.


***


Evan memijat kepalanya saat ia duduk dan memegangi berkas demi berkas laporan yang sama sekali tidak membuatnya berniat. Sebuah pekerjaan yang tidak berasal dari hati memang berakhir seperti ini, bukan? Evan memang menyelesaikannya sampai selesai, tapi ia masih tetap saja merasa berat saat melakukannya.


"Kau tidak ke hutan lagi untuk hunting foto?"


"Ciih, kau meledekku? Keinginanku sebagai fotografer sudah sirna sejak aku dipaksa untuk meneruskan perusahaan Ayahku dan juga menikah dengan perempuan itu."


Ha ha ha. Beryl tertawa dengan sangat keras. "Emm, mengenai perempuan itu, sepertinya aku mulai menyukainya. Dia gadis polos, bukan perempuan yang suka memanfaatkan orang lain seperti Monika."


Evan menaikkan alisnya.


"Oh iya ini." Tiba-tiba Beryl memberikan sebuah diska lepas kepada Evan.


"Apa ini?"


"Foto-foto pernikahanmu dengan Amanda."


Mendengar hal itu, tiba-tiba Evan langsung menancapkan itu ke laptop miliknya. Membuka satu persatu foto Amanda dengan seksama hingga tanpa sadar meluangkan waktu begitu lama sampai-sampai ia melupakan Beryl.


"Ehem. Sepertinya kau mulai tertarik dengan perempuan itu."


"Omong kosong." Cepat-cepat Evan menutup laptopnya karena merasa gengsi.


Ha ha ha. Beryl tertawa. "Kau tidak bisa membohongiku."


Evan menggaruk-garuk kepalanya sendiri.


"Ya sudah, aku pergi dulu."


"Beryl, tunggu."


Beryl menoleh ke arah Evan.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."


"Apa itu?"


"Kau tahu kan, pengawal yang kemarin kau berikan padaku. Astaga, siapa namanya ..." Evan mengingat-ingat. "Ah, ya. Ronald. Namanya Ronald."


"Memangnya kenapa?"


"Sepertinya ada yang tidak beres tentangnya, bisa kah kau mencari tahu?"


"Oke, oke. Baik lah. Apa maksudmu mengenai hal tidak beres?"


Beryl menghela napas.


"Ya, ya. Oke."


Setelah kepergian Beryl, diam-diam Evan membuka lagi laptopnya, lagi-lagi memerhatikan foto pernikahannya dengan Amanda.


Senyum tipis mengembang. Perempuan yang ada di sampingnya memang sangat cantik di matanya. Sifatnya yang apa adanya entah kenapa menghangatkan hatinya lagi.


Rasanya, Evan ingin cepat pulang untuk menemuinya lagi dan lagi.


Astaga ...!!!


Tiba-tiba Evan segera mengacak rambutnya lagi.


Apa yang baru saja aku pikirkan?!


Lalu, terdengar suara ponselnya yang berdering nyaring. Sebuah nama ... teman lamanya menelefonnya.


"Evan."


"Hei, ada apa ... aku kira kau sudah mati sehingga tidak pernah mengirimiku kabar."


"Tutup mulutmu, Ev."


"Hei!!! Dalam satu hari kenapa ada dua orang yang menyuruhku menutup mulut?"


"Aku butuh tempat untuk melarikan diri?"


"What ...?"


"Aku butuh pulaumu. Aku pinjam pulaumu untuk sementara waktu."


"Apa ini karena perempuan itu? Ah, ya, siapa namanya? Melia?"


"Ya," Anderson menjawab dengan mantap.


"Sudah terlalu lama kau mengejarnya."


"Aku butuh tempat."


"Kau berencana ingin menculiknya?"


"Aku ingin mendapatkannya."


"Apa yang beda?"


"Aku benar-benar butuh tempat."


"Segila itu kah kau dengan perempuan itu?"


Ada helaan napas yang terasa sangat berat.


"Dasar!!! Kenapa kau menghubungiku setiap kali membutuhkan bantuan. Kau bahkan tidak hadir di acara pernikahanku."


"Kamu tahu kalau aku sibuk dengan perempuanku."


"Ya, ya ya. Aku paham, bahkan seluruh teman-teman kita sudah paham akan hal itu. Kamu memang tergila-gila dengannya. Terobsesi dengan satu perempuan dari dulu sampai sekarang dan tidak akan pernah berubah. Sudah menjadi rahasia umum, An."


"Aku butuh pulaumu."


Evan melenguh panjang.


"Aku tidak mau ikut campur dengan drama penculikan itu."


"Aku jamin kamu tidak terlibat."


Evan memijat kepalanya. Kenapa Anderson selalu merepotkan.


"Oke, oke. Baik lah, gunakan sesukamu."


"Terima kasih ... dan, salam untuk isterimu. Jangan salahkan aku kalau nanti kamu juga ikut tergila-gila dengannya."


"Tidak mungkin. Kau harus tahu dia perempuan seperti apa. Huh."


Lalu telefon itu ditutup. Membuat Evan lagi-lagi menghela napas.


"Dasar merepotkan."


***