VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
AKU MENCINTAIMU



Ternyata, Evan benar dalam ucapannya. Ia benar-benar berperilaku seperti suami yang baik kepada Amanda. Hari ini tepat tiga puluh hari mereka benar-benar menjadi suami isteri. Evan memberikan Amanda kepercayaan penuh, ia tidak lagi memberikan pengawalan hingga Amanda bisa sedikit bebas dan bernapas lega.


Lagi pula Amanda juga tidak akan pernah kabur, menurutnya di sini adalah tempat yang paling aman. Evan juga selalu berbuat baik kepadanya hingga tanpa sadar membuat Amanda benar-benar nyaman.


Seperti isteri yang selayaknya, Amanda mengurus Evan dengan baik. Memasakkan Evan makanan, menyiapkan air hangat saat Evan pulang bekerja, menata seluruh pakaian Evan, dan melayani Evan dengan sepenuh hati.


Namun, hanya ada satu yang tidak mereka lakukan, yaitu berhubungan layaknya suami isteri. Evan sudah pernah berjanji kepada Amanda untuk menunggu sampai Amanda benar-benar siap. Dan Amanda selalu berterima kasih karena Evan telah menepati janji kepada dirinya.


Selama tiga puluh hari lamanya Evan memasang wajah baik, tapi entah kenapa hari ini Amanda memergoki Evan bermuka masam.


"Kenapa kau tidak menyentuh makananku sama sekali?"


Evan hanya melenguh begitu saja. Ia menggelengkan kepala dan malah meninggalkan meja makan.


"Kenapa? Kenapa ada masalah?"


Lagi-lagi Evan diam. Amanda bersumpah, baru pertama kali Amanda didiamkan seperti ini.


"Evan?"


Tapi Evan malah tidur di atas tempat tidur, menyingkirkannya dan tidak memperdulikan Amanda.


"Kau kenapa?"


Evan masih diam saja. Ia mesih memasang wajah kesal hingga membuat Amanda mulai merasa takut. Satu hal yang ada di pikiran Amanda kali ini, apa mungkin Evan sudah mulai bosan kepada dirinya?


"Kau bosan padaku?"


Mendengar hal itu mata Evan melebar. "What? Apa yang kau bicarakan?"


"Sedari tadi kau mendiamkanku." Tanpa sadar ada air mata yang mengalir di kedua sudut pipinya. Entah kenapa Amanda merasa takut.


Dan melihat Amanda yang menangis seperti itu, sedikit membuat Evan tersentak.


"Astaga, kenapa kau menangis?"


"Kau membuatku takut."


Evan kemudian bangkit dan kini duduk mengikuti Amanda. Mungkin, sebaiknya ia memberi tahu apa alasannya kenapa dia seperti ini, karena kalau tidak Amanda mungkin tidak akan pernah bisa berhenti untuk menangis.


"Ingat, aku sudah memberimu uang dan kartu, kan?"


Amanda mengangguk. "Ya, aku simpan di dalam laci."


Astaga ...!


Itu lah hal yang membuat Evan ingin ngamuk.


"Kenapa kau hanya menyimpannya saja?! Kenapa kau tidak memakainya?! Sudah sejak satu bulan yang lalu aku memberimu itu, tapi kau hanya memakainya saat membeli sayur dan keperluan rumah tangga?! Apa kau tidak ingin berbelanja? Apa kau tidak ingin membeli emas, berlian, tas, sepatu atau keperluan lainnya yang membuatmu senang? Aku sudah memberimu kartu yang bahkan bisa membeli apartemen ratusan lantai, tapi kenapa kau membiarkannya saja?!"


"Eh?"


Amanda masih kaget dengan apa yang baru saja Evan katakan. Sungguh. Ini kalimat terpanjang yang baru saja ia dengar.


"Kita sudah sepakat kan kalau kita akan menjadi suami dan isteri? Jadi, biarkan aku memberimu kebahagiaan dengan memberimu uang. Jadikan aku berguna, biarkan kamu senang mempunyai suami yang kaya seperti aku."


Amanda menggigit ujung bawah bibirnya.


"Jadi ini yang membuatmu marah?"


"Ya. Dan aku sangat marah."


"Maaf."


Tapi Evan kembali diam seperti anak kecil.


"Aku bilang maaf."


"Aku tidak mau tahu, kau harus menggunakan uang itu. Kau isteriku, Amanda. Kau pantas bahagia menjadi isteri dari seorang yang kaya raya seperti ini."


"Menurutmu, apa bahagia bisa diukur dengan uang."


"Tapi setidaknya itu bisa membuatmu senang kan? Bisa membeli apa pun yang kau mau."


"Iya, sih."


Evan mendengus, tapi Amanda melirik ke arah Evan.


"Aku sudah bahagia asal kau tahu."


Mendengar hal itu Evan mendongak.


"Sebenarnya aku tidak perlu uang untuk bisa bahagia. Saat bersamamu, menjadi isterimu, aku sudah sangat bahagia sekarang ini," celetuk Amanda tapi ia langsung memalingkan wajah. Tiba-tiba ia merasa malu, ia tidak tahu kenapa ia tadi bisa mengucapkan hal itu di depan Evan.


"Apa? Katakan sekali lagi." Evan memaksa. Seketika ia tersenyum, entah kenapa perkataan Amanda tadi membuatnya merasa senang bahkan ia terus menyunggingkan sebuah senyuman.


"Makananmu keburu dingin. Kau harus makan." Buru-buru Amanda ingin menghindar, tapi Evan segera menariknya dan jatuh ke arah tempat tidur.


Secepat kilat, Evan langsung menindihnya. Ia membawa Amanda di bawahnya dan ingin menggoda Amanda sekali lagi.


"Katakan, kau bahagia."


"Evan, aku ingin makan. Aku lapar."


"Katakan!"


"Apa? Aku tiba-tiba lupa."


"Katakan kau bahagia denganku."


"Evan aku ..."


"Aku mohon."


Melihat Evan yang terus memaksa, pada akhirnya Amanda menyerah juga.


"Ya, Evan. Aku bahagia sekarang."


Ha ha ha. Evan terkekeh mendengarnya.


"Apanya yang lucu?"


"Ah, tidak. Hanya saja aku senang mendengarnya."


"Aku lapar, aku ingin makan."


"Tunggu dulu. Aku masih ingin bersamamu."


"Kau tahu? Aku juga bahagia denganmu."


"Eh?" Lidah Amanda langsung kelu saat mendengar itu.


"Aku bilang, aku juga bahagia saat bersamamu."


"Evan?"


"Katakan! Apa kau sudah mulai mencintaiku?"


Amanda langsung syok mendengar pertanyaan itu.


"Katakan, apa kau mencintaiku?"


"Evan, aku?"


"Katakan ya atau tidak."


Evan terus memaksa seperti tadi.


"Katakan yang sejujurnya Amanda."


"Aku ...?"


"Ya atau tidak?"


"Menurutmu? Saat kau selalu baik kepadaku, apa itu tidak membuat jantungku melompat setiap waktu?"


"Jadi?"


"Mungkin ..."


"Mungkin apanya?"


"Mungkin aku sudah jatuh cinta padamu."


Perasaan Evan langsung bahagia saat mendengarnya. Menatap mata Amanda yang selalu polos dan apa adanya ini, Evan langsung tahu kalau Amanda memang berkata jujur.


"Terima kasih."


Tiba-tiba Evan langsung melepaskan diri. Ia kemudian menjauh dari Amanda dan beranjak pergi.


"Katamu kau lapar. Ayo kita makan. Selera makanku tiba-tiba juga langsung meningkat."


"Hey!" Amanda langsung bangkit. Ia baru saja mengutarakan perasaannya, tapi kenapa dia tidak? Amanda baru tahu kalau Evan memang seegois ini.


"Evan!"


"Aku lapar, isteriku. Ayo makan."


***