
Suara gemericik air terdengar begitu ketara saat Amanda mandi kali ini. Amanda ... masih betah berada di dalam kamar mandi setelah seharian ini ia begitu beban memikirkan masalah yang datang bertubi-tubi kepada dirinya.
Amanda merasa tenang saat ia merasakan air mengalir melewati kepala dan kini membasahi seluruh tubuhnya. Benar kata orang, mungkin mandi adalah terapi terbaik untuk menghilangkan beban yang ada.
Malam begitu larut dan bersamaan dengan itu, Evan terlihat baru pulang. Dasinya sudah ia longgarkan dan kemejanya sudah kusut dan keluar ke mana-mana ketika ia meraih knop pintu untuk membukanya.
Entah lah, Evan tidak tahu kenapa dia langsung masuk ke dalam hotel dan menemui Amanda, padahal jelas-jelas ia mempunyai apartemen.
Begitu pintu dibuka, Evan langsung ambruk ke atas sofa sedangkan Amanda yang tidak tahu bahwa Evan berada di sini langsung keluar dari kamar mandi dan hanya berjalan menggunakan handuk biasa.
Amanda berjalan santai sementara Evan yang baru pertama kali melihat Amanda langsung syok setengah mati. Ia langsung memuntahkan minuman yang baru saja ia tenggak dan terbatuk-batuk.
"Uhuk, uhuk, uhuk!"
Amanda juga kaget, saat ia akan meraih t-shirt yang ada di atas kursi langsung tunggang langgang pergi ke kamar mandi lagi.
"A-apa yang kau lakukan?! Kau mengintipku?!" Teriak Amanda dari dalam kamar mandi.
"Jangan terlalu percaya diri! Kau sendiri yang memamerkan bentuk tubuhmu!"
"Bohong!"
"Kau sendiri yang datang menggodaku!"
"Tutup mulutmu!"
"Cepat ganti baju dan ke sini sekarang juga! Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu! Dan ini penting!"
Sedangkan di dalam kamar mandi Amanda masih memeluk dirinya sendiri. Sungguh, ia masih merasa takut dan terancam dengan apa yang ia alami barusan.
***
Saat ini, mereka duduk berhadapan di meja makan. Situasi awkward memuncak, Amanda masih saja menatap pada makanan yang mungkin sudah dingin karena sedari tadi ia hanya mendiamkannya. Pun begitu dengan Evan, jujur saja dia sudah melihat saat tadi Amanda sempat membuka handuk walau sedikit.
"Kau ...? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Jangan percaya diri! Bentuk tubuhmu bukan tipeku!"
Mata Amanda melotot tajam. "Jadi, ternyata benar kau sudah melihatnya?"
Evan hanya melenguh. "Maaf, tapi bentukanmu yang kurus kerempeng seperti itu tidak membuatku *****!"
"Dasar kurang ajar!"
"Jadi sekarang kau berani meneriakiku?! Apa kau tidak sadar apa yang sudah kau lakukan kepadaku! Dan ini ...!" Tiba-tiba Evan sudah melempar sebuah surat ke atas meja. "Ini bentuk pertanggung jawabanmu! Ini adalah surat yang harus kau tanda tangani karena telah membuatku kesusahan selama ini!"
"A-apa ini?" Amanda meraih sebuah amplop cokelat dan mulai membukanya.
"Kemarin kau sedang bermain drama kan? Oke, aku sudah memutuskan untuk mengimbangi actingmu."
Dahi Amanda mengerut merasa masih tidak mengerti.
"Besok, aku akan melakukan konferensi pers dan semua itu adalah teks, di mana kau harus bicara di depan wartawan." Evan mempersilahkan Amanda untuk membaca surat itu, dan seketika itu juga mata Amanda langsung melotot tajam membaca semua isi surat ini.
"Secara singkat, kau akan mengatakan bahwa hubungan kita tidak cocok. Dan mengatakan bahwa kau selingkuh dan menginginkan sendiri untuk mengakhiri hubungan ini. Kau juga harus mengatakan bahwa aku sebenarnya orang yang baik, dan kau yang kejam dan telah meninggalkan aku ..."
Amanda tercekat. "Omong kosong ..."
"Hey!" Evan menjitak kepala Amanda. "Kau sendiri yang sudah mengacaukan hidupku. Kau yang bermain drama dan aku hanya mengimbanginya. Kau tidak perlu protes!"
Amanda membaca lagi lembar demi lembar tentang semua isi perjanjian ini. Tentang Amanda yang harus mengatakan bahwa ini semua murni kesalahannya, murni karena dirinya yang selingkuh dan ia yang salah. Lalu, mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya.
Apakah harus seperti ini ...?
"Baca lah. Dan besok aku akan membawamu ke hadapan para wartawan. Dan jangan lupa untuk tidur nyenyak karena aku juga akan pulang ke tempat tinggalku."
"T-tunggu."
Evan nengernyit, ia sudah bangkit dan terpaksa berbalik menatap ke arah perempuan itu.
"Aku ... aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa? Bukan kah kau harus bertanggung jawab? Ingatlah! Kau sudah hampir merusak nama baikku dan menyebabkan semua rumor menyebar dengan begitu cepat? Aku sudah menyediakan televisi dan kau pasti paham bagaimana berita itu merugikan aku! Untuk itu kah harus bertanggung jawab."
Amanda tercekat akan semua ucapan dari Evan. Ya, Evan memang ada benarnya juga. Jujur, memang dirinya lah yang mengakibatkan semua hal buruk mengenai Evan.
Tapi ...
Bukan itu yang sebenarnya Amanda pikirkan.
Tapi kondisinya setelah ia mengatakan itu semua kepada wartawan. Apakah itu berarti dia akan pulang dan bertemu dengan paman dan bibinya?
Bisa-bisa, Amanda dijual lagi?
Evan melangkah lagi untuk segera pergi dari tempat ini, tapi tiba-tiba Amanda segera lari untuk mencegatnya.
"Tunggu. Tunggu aku."
"Mau apa lagi?"
"Setelah aku mengatakan ini semua, apa itu artinya aku akan pulang?"
"Terserah! Aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi!"
"Saat konferensi pers itu berlangsung, bisa-bisa aku ditemukan oleh paman dan bibi. Lalu ba-bagaimana kalau aku dijual lagi?" Ucapan Amanda mulai terbata dan menatap ke arah Evan dengan putus asa.
"Bukan urusanku!" Evan berusaha pergi lagi tapi kini tangannya ditahan oleh Amanda.
"T-tolong aku ..." Pintanya memohon.
Tapi tiba-tiba Evan mendorong tubuh Amanda hingga Amanda jatuh ke atas lantai.
"Sudah kubilang bukan urusanku. Mau kau dijual lagi, mau kau dijadikan perempuan malam pun aku tidak perduli. Yang aku perdulikan kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan kepadaku."
Amanda terisak.
"Tapi ... aku mohon."
"Aku tidak mau berurusan denganmu! Pergi lah! Dan menjauh dari hidupku setelah hari esok tiba!"
Brak!
Dan tiba-tiba pintu ditutup dengan paksa lagi.
***