VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
HAL YANG TAK TERDUGA



Amanda ketakutan, ia putus asa, ia duduk bersimpuh dan hanya menutup mukanya sendiri dengan kedua tangannya sambil terisak.


"Maaf, aku tidak bisa membantumu banyak. Lebih baik kau segera keluar dari tempat ini dan menjelaskan tentang semuanya. Ingat! Katakan apa yang ada di dalam isi draft yang sudah aku berikan kemarin."


"Tolong aku ..."


Beryl menggeleng, ia menatap ke arah para bodyguard seperti memberikan sinyal untuk segera membawa perempuan ini dan memaksa perempuan ini untuk menurut.


Beryl kemudian berjalan keluar, melengang dan tanpa sadar ponselnya berbunyi nyaring. Nama Max muncul hingga ia mengerutkan keningnya.


Mau apa teman lamanya menghubunginya?


"Katakan pada Evan karena sepertinya dia akan segera terkena masalah."


"Eh?"


***


Evan menarik napas panjang, ia menatap ke arah jam yang melingkar di tangan kanannya dan ia sedang menunggu Amanda dengan kerutan yang ada di dahinya.


Tiba-tiba ia menyunggingkan senyuman sinis. Perempuan itu ...? Apa dia benar-benar seputus asa itu? Bisa-bisanya dia mengatakan bahwa dia ingin menjadi isterinya? Dan apa dia bilang tadi? Ia ingin mencari pekerjaan untuk menopang kebutuhan ekonomi?


Ha ha ha.


Tiba-tiba Evan tertawa dengan sangat renyah.


"Kenapa dia lucu sekali? Apa dia tidak tahu seberapa kaya aku? Bisa-bisanya dia sok-sokan ingin bekerja demi menolong kebutuhan? Ha ha ha."


Evan mendengus, ia menatap ke arah kerumuman para wartawan di balik layar monitor sambil menghela napas. Sedetik kemudian ia melihat para bodyguard sudah membawa Amanda dengan gaun berwarna putih itu ke hadapan Evan.


Dahi Evan mengerut saat melihat Amanda dengan mata sembabnya, tatapan putus asa itu tiba-tiba membuat Evan sedikit iba tetapi secepat kilat ia langsung menggelengkan kepala.


"Sebaiknya kau sudah menghafalkan seluruh draft yang sudah aku beri, jika tidak, aku yakin aku akan menghabisimu ...! Atau aku akan melemparkanmu ke tempat pelacuran yang pasti akan membuatmu terasa ingin mati."


Amanda semakin menangis. Dirinya memang sudah tamat sekarang ini. Sudah tidak ada jalan keluar bagi dirinya untuk bisa melepaskan diri.


Hingga pada akhirnya Evan menarik tangan Amanda untuk maju ke atas sana untuk segera memberikan klarifikasi. Tapi baru satu langkah Evan naik ke atas tangga, ia melihat Monika berada di sana, dengan senyuman mengembang penuh arti dan berdiri di sudut ruangan.


Monika ...?


Sekali lagi dahi Evan mengerut.


Mau apa dia ke sini?


Tapi sebelum Evan berpikir lebih jauh lagi, tiba-tiba Monika pergi, menjauh dari Evan dan meninggalkan Evan dengan pikiran yang meresahkan.


Lalu, tatapan Evan kembali kepada Amanda yang masih menangis, dengan paksa ia menariknya lagi dan memaksa Amanda untuk naik ke atas meja sana.


Sementara itu di tempat lain Beryl berlari dengan secepat kilat. Baru saja ia mendapatkan kabar dari Max dan itu benar-benar membuatnya khawatir setengah mati.


Gawat. Ini benar-benar gawat!


Beryl berlari dan sedikit tertegun saat melihat Evan sudah naik ke atas panggung dan sedang membawa mic berada di sana, sementara Beryl juga melihat Monika juga bersiap naik ke atas panggung.


Sial! Pasti setelah Evan mengumumkan kalau wanita itu bukan isterinya, Monika akan naik ke atas panggung dan berbicara bahwa dia adalah tunangan yang sebenarnya.


Sial!


Beryl segera memutar otak. Ia menatap ke arah para kerumuman kepada para wartawan dan segera mencari cara agar Evan bisa terbebas dari perempuan penjilat itu.


"Terima kasih kalian sudah datang ... karena hari ini saya akan memberikan klarifikasi bahwa ..." Evan mulai berbicara, membuat Beryl semakin panik.


Sementara itu, di sisi lain, Amanda semakin ketakutan ketika ia ternyata melihat Paman dan Bibinya berada di area gedung ini. Mereka berada di sudut sana dan sedang mengawasi dirinya.


Astaga ...!


Kenapa Paman dan Bibi berada di sini?


Kenapa perempuan ini menangis?


Evan mengikuti arah pandang Amanda, dan sepertinya ia mulai paham akan situasinya. Ternyata benar, Paman dan Bibinya hadir di sini untuk memastikan akan sesuatu hal.


"T-tolong aku ..."


Tapi Evan menggeleng dengan bengis.


"Bukan urusanku!" Bisiknya hingga membuat Amanda semakin ketakutan.


"Jadi aku di sini akan memberikan klarifikasi bahwa ..." Evan meneruskan kalimatnya tapi tiba-tiba, Beryl segera naik ke atas panggung.


"Beryl, apa-apaan ini?!"


Beryl meraih mic itu dengan paksa dan membuat para wartawan itu memotret seluruh apa yang dilakukan Beryl. Lalu secepat kilat Beryl mulai membisikkan sesuatu ke telinga Evan dan menyuruh Evan untuk melihat ke arah Monika yang sudah bersiap untuk naik ke atas panggung dan melancarkan rencananya untuk menjebak Evan.


"Apa?!"


Beryl mengangguk. "Sebaiknya kau harus waspada," ucap Beryl lalu ia segera turun dari panggung setelah ia menjelaskan tentang semuanya.


Kurang ajar ... Monika benar-benar ...!


Berani-beraninya kau merencanakan sesuatu yang bodoh seperti itu! Pekik Evan di dalam hati.


"Jadi, apa yang akan anda klarifikasi tuan Evan?" Sepertinya para wartawan sudah tidak sabar untuk menunggu. Sementara Evan semakin kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan.


Sungguh. Evan seperti diburu oleh waktu. Ia mencengkeram mic kuat-kuat sambil menatap ke arah Amanda sebentar sebelum akhirnya ia membawa mic itu kembali ke depan mulutnya.


Evan melihat Amanda lagi, ia tampak tertunduk ketakutan saat melihat Paman dan Bibinya berada di ujung ruangan, sementara Evan panik sendirian ketika ia memikirkan bahwa Monika bisa melakukan hal senekat itu.


Sial!


Aku terpaksa melakukan ini!


Perempuan ini apa benar bisa ia manfaatkan?!


"Jadi, apa yang akan anda klarifikasi?"


Evan melirik ke arah Monika yang bergegas menaiki tangga.


Sial! Sial! Sial!


Perempuan itu benar-benar benalu! Kalau saja dia terlambat satu detik saja, Monika pasti akan langsung memberikan pengumuman menjijikkan itu!


Evan segera mengambil mic dan tiba-tiba langsung menggenggam erat tangan Amanda.


"Jadi, aku akan memberikan kalian kabar bahagia. Satu pekan lagi aku dan Amanda akan segera melangsungkan pernikahan."


Dan semua orang syok melihat keputusan yang diambil oleh Evan. Mereka semua terbelalak kaget dan saling terpana satu sama lain.


Monika juga langsung membungkam mulutnya sendiri, Amada yang langsung mendongak menatap ke arah Evan dengan tatapan tidak percaya, sekaligus Paman dan Bibi Amanda yang hampir pingsan karena dibuatnya.


"Maaf karena kemarin aku belum sempat memberikan pengumuman resmi ini karena kalian tahu kalau calon isteriku demam panggung dan pingsan."


Evan segera menarik Amanda dan merangkulnya erat-erat, menatap ke arah Amanda dengan senyuman yang paling lebar, membuat Amanda terpana karena sebenarnya ... bukan ini yang sebenarnya direncanakan oleh Evan.


Jadi ... apa yang sebenarnya terjadi?


Jantung Amanda berdegup dengan sangat kencang. Ia semakin mendongak dan menatap ke arah Evan dengan tatapan lekat-lekat. Sedetik kemudian ia juga melihat ke arah Paman dan Bibinya yang kini meringsut mundur ke belakang. Sungguh. Ada perasaan lega membuncah, di satu sisi ia merasa lega karena ia telah diselamatkan, lalu di sisi lain ... ia kembali jatuh ke jurang di mana Amanda tidak tahu, akan nasib apa yang akan ia hadapi nanti bersama dengan Evan.


***


Haii, aku kembali.. hehehe... ikutin terus cerita ini ya... makasih...