
Amanda merasa bahwa dirinya sudah tidak mempunyai harga diri lagi. Kehormatannya dirusak secara paksa hingga membuat hatinya sangat tersiksa. Ia ingin kabur, tetapi ia tidak bisa. Ada dua penjaga yang pasti akan menangkapnya kembali hingga ia tidak bisa ke mana-mana.
Amanda menangis sesenggukan. Setelah semuanya usai, ia langsung mengambil selembar baju yang bahkan sudah sobek dan segera berlari ke arah kamar lalu menguncinya rapat-rapat.
Sungguh. Amanda benar-benar terluka. Pelecehan yang baru saja ia dapatkan nyatanya memang terasa menyakitkan.
***
Malam dengan sangat cepat disambut oleh mentari pagi yang muncul dari arah timur. Waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, mau tidak mau membuat sinarnya sedikit terik ketika tidak sengaja menerpa wajah Evan saat tidak sengaja menelisip melalui kaca jendela.
Evan mendesis, merasakan pening pada kepalanya saat ia membuka matanya kali ini. Kepalanya terasa sangat sakit, pandangannya masih kabur saat ia membuka lebar kedua matanya.
"Astaga, jam berapa ini?" Evan masih belum sadar dengan apa yang terjadi malam tadi. Ia hanya menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul sembilan hingga ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Sial! Aku bangun kesiangan!" Menyadari bahwa Evan harus ke kantor, Evan segera bangkit dari sofa dan betapa terkejutnya dia kalau Evan sedang telanjang bulat saat ini.
Astaga! Apa-apaan ini?!
Begitu Evan bangkit, ia kembali terkejut saat melihat pakaiannya bertebaran. Seluruh kemeja dan celananya lepas dan berceceran di atas lantai. Lalu betapa syoknya Evan saat ia juga melihat pakaian Amanda. Semuanya penuh dengan sobekan hingga membuat Evan tercekat kaget.
Astaga!
Seluruh tubuh Evan terasa lemas, sendi-sendinya bahkan seperti mati rasa hingga ia merasa tidak bisa berdiri lagi. Evan syok. Benar-benar syok. Saat ia melihat ke sekeliling ruang tamu semua benar-benar berantakan.
Evan menelan salivanya berat. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi malam ini, dan ketika ia melihat ceceran darah yang sudah mengering di atas sofa tempatnya berbaring dan juga di atas lantai yang putih, ingatannya tiba-tiba langsung teringat akan apa yang baru saja ia lakukan tadi malam.
"A-Amanda ...!"
Evan membungkam mulutnya sendiri. Tangannya bergetar dengan sangat hebat saat ia kembali mengingat sebuah kesalahan yang sudah ia lakukan tadi malam.
"Astaga, tidak mungkin! Ini mampi? Ini pasti mimpi kan?!"
Amanda, di mana dia sekarang?! Dia harus menjelaskan semuanya.
Buru-buru Evan memakai pakaiannya, dan satu hal yang ia pikirkan adalah kamar miliknya. Tapi betapa terkejutnya Evan saat ia membuka, pintu itu terkunci dengan begitu rapat.
"Amanda! Buka pintunya!"
Tidak ada sahutan.
"Amanda?! Apa kau tidur?! Kau ... kau harus menjelaskan semuanya! Buka pintunya!"
Kata-kata Evan mulai acak-acakan. Ia sudah sangat frustrasi saat ini. Tapi, ia membutuhkan penjelasan Amanda saat ini, kenapa ada begitu banyak pakaian tercecer dan juga ...
Ya Tuhan, darah apa itu?!
"Amanda! Buka pintunya!"
"Mustahil kau tidak mendengarku! Buka pintunya!"
Tetapi tetap saja, Amanda bergeming dan sama sekali tidak menyahut Evan yang terus berteriak keras memanggil namanya.
"Amanda!"
"Amanda!"
Hingga satu jam pun berlalu, Evan terus berteriak tapi tetap saja, tidak ada sahutan dari dalam hingga membuat Evan benar-benar frustrasi.
"Buka pintunya atau aku dobrak!"
***
Sementara di dalam sana, Amanda meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri pada ujung dinding dan terus menangis tiada henti. Ia sudah tidak kuasa untuk membuka pintu itu, ia takut, ia marah dan ia tidak tahu harus melakukan apa.
Kehormatannya hilang, harga dirinya diinjak-injak oleh laki-laki yang pernah Amanda kira bahwa dia adalah laki-laki berbeda. Hatinya hancur berkeping-keping, hidupnya terasa sudah berakhir saat ia kembali mengingat apa yang sudah terjadi.
Air mata itu kembali tumpah, ia merasa ketakutan. Amanda merasa sendirian sekarang ini. Tidak ada orang yang membantunya dan Amanda sadar bahwa ia harus menghadapi semua ini sendiri.
"Amanda keluar!"
Dan lagi-lagi, jeritan itu membahana ke seluruh sudut ruang. Tapi tetap saja, Amanda tidak ada niatan sedikit pun untuk membuka pintu itu.
Di luar sana, Evan sudah mengeluarkan pita suaranya yang tersisa untuk menyuruh Amanda keluar, tapi nyatanya Amanda masih kekeh dengan tindakannya. Ia tetap berada di dalam tanpa mau membuka pintu. Amanda diam seribu bahasa hingga membuat Evan mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Tindakan Amanda sudah menjelaskan tentang semuanya. Bahwa mungkin memang benar bahwa apa yang terjadi tadi malam memang bukan lah sebuah mimpi.
Astaga ...! Apa aku benar-benar memperkosanya?!
Kenyataan ini benar-benar membuat dirinya di posisi paling bawah dalam hidupnya. Ia pada akhirnya menyerah, ia langsung lemas terduduk sambil menjambak rambutnya sendiri.
Ini kesalahan besar. Benar-benar sebuah kesalahan besar. Ia menoleh pada pintu ruangan yang tertutup itu sambil menahan rasa bersalah yang mulai bermunculan di seluruh isi hatinya.
Ini semestinya tidak terjadi ...
Evan meremas dadanya ikut merasakan rasa sakit. Tapi mungkin, gadis itu merasakan jauh lebih sakit dengan apa yang ia rasakan.
Alkohol telah merusak segalanya. Bisa-bisanya ia lupa diri dan malah memperkosa perempuan lain hanya karena merasa panas oleh semua ucapan dari Monika. Jujur saja, ia malah menjadikan Amanda sebagai pelampiasan yang mustinya tidak ia lakukan.
Mungkin, ia harus memberikan Amanda waktu. Saat semuanya sudah reda, mungkin Evan bisa mengajak Amanda untuk berbicara baik-baik.
***