VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
DOKTER MONIKA



"Evan, aku sudah membawa dokter ...!"


Mata Beryl terbelalak kaget ketika melihat Evan yang kini sudah hampir menindih perempuan itu.


"Orang gila! Apa yang kau lakukan?!"


Evan kaget bukan kepalang, cepat-cepat ia segera menjauh dari perempuan itu dan menarik diri. Evan hampir saja melakukan hal yang membuatnya lupa diri tapi untung lah Beryl segera datang dan langsung membuat Evan sadar bahwa apa yang akan dilakukannya adalah salah.


"Tidak, ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku bisa jelaskan!" Buru-buru Evan mengancingkan lagi kancing kemejanya. Tapi Beryl masih menyipitkan mata penuh dengan selidik.


"Dia ... perempuan ini benar-benar tidak waras asal kau tahu? Dia bahkan menarik tanganku dan menggodaku!"


"Tapi kau hampir tergoda kan?"


"Omong kosong! Dia bukan tipeku!"


Baru saja mereka berdebat, tiba-tiba ia mendengar lagi suara erangan dari perempuan itu.


"Panas ... panas ..."


Beryl segera berlari ke arah pintu. "Sial! Kenapa dia belum datang juga?"


"Memangnya siapa yang kau telefon?"


"Dia orangku. Dokter pribadiku. Dia berjanji akan datang ke sini dalam waktu sepuluh menit."


Hingga pada akhirnya terdengar suara pintu dibuka, Evan dan Beryl menatap secara bersamaan ke arah dokter perempuan yang berdiri di ambang pintu.


"Monika, untung kau cepat datang."


"Di mana pasiennya?"


"Di sana ..."


Monika segera berjalan ke atas ranjang dan menatap nanar pada seorang perempuan yang tengah kesakitan seperti itu. Sedetik kemudian ia langsung menghujamkan tatapan ke arah dua pria yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Hey! Bukan kita! Bukan kita yang melakukannya! Kenapa tatapanmu seperti itu?" Buru-buru Beryl mengatakan itu kepada Monika.


***


Dokter Monika akhirnya selesai mengobati pasien yang ada di depannya dan memberikan sebuah vitamin yang harus dikonsumsi perempuan ini setelah dia nanti bangun dari tidurnya.


"Tenang lah, dia sudah aman sekarang. Aku sudah memberikan penawar dan sebentar lagi dia pasti akan segera siuman."


Beryl mengangguk dan Evan hanya menarik napas tidak perduli. Lagi pula apa perdulinya? Dia hanya lah wanita yang mengacaukan semuanya?! Bahkan sekarang ia sudah seperti dijebak dan seperti tidak bisa lagi untuk keluar dari masalah ini.


"Kalau begitu aku permisi ..."


Beryl mengangguk. "Aku yang antar, sebagai teman ... aku berterima kasih karena kau sudah meluangkan waktu untuk ini."


Monika hanya mengangkat sedikit bahunya sambil melirik ke arah Evan.


Bukan kah seharusnya Evan yang mengantarku?


Diam-diam Monika berdehem penuh harap tapi Evan tidak perduli sama sekali. Evan tiba-tiba langsung masuk lagi ke kamar perempaun itu tanpa memedulikannya.


Monika sedikit kecewa, ia kemudian mereka meninggalkan Evan di hotel sendirian bersama dengan perempuan ini.


Sementara itu, Evan hanya menatap dingin pada Monika.


Sialan! Siapa suruh Beryl membawa mantan pacarku ke sini! Evan hanya menatap ke sekeliling ruangan tanpa berani menatap ke arahnya. Perempuan yang dulu pernah ia cintai tapi juga yang mencampakkannya sedemikian rupa.


***


Dia pasti menjebakku.


"Hei kau! Bangun!"


Evan sudah tidak bisa menahan emosinya. Pikiran-pikiran buruk mulai berkecamuk. Memikirkan bahwa perempuan ini pasti dengannya sengaja menjebaknya, mengaku di depan umum bahwa dia adalah pacarnya dan sekarang dia pasti secara sengaja mengonsumsi obat itu untuk menggodanya.


Dasar perempuan murahan!


"Bangun!" Tanpa sadar Evan memekik keras, ia menggoyang-goyangkan tubuhnya agar perempuan itu bisa segera bangun. Sudah hampir tiga jam ia menunggu tapi perempuan asing ini malah begitu lelap hingga Evan benar-benar muak.


"Ini bukan tempat penampungan!" Pada akhirnya Evan dengan kasar menyingkap selimut perempuan itu. Hingga membuat orang asing ini mengerjapkan mata karena kedinginan.


"Akhirnya kau bangun juga ...!"


Evan pada akhirnya melihat perempuan itu bangun dan kini membelalakkan mata, dan sepertinya Evan sudah muak melihat perempuan itu yang terus ber acting dan berpura-pura kebingungan.


"Si-siapa kau ...?"


"Sial! Siapa aku kau bilang?"


Saat ini Amanda benar-benar sadar, ia kaget bukan kepalang ketika ia terbangun di sebuah ranjang merah berwarna maroon dan bersama dengan seorang laki-laki. Sesegera mungkin Amanda mundur ke arah belakang, segera turun dari atas ranjang dan berdiri di ujung ruangan waspada.


"Siapa kau?!" Amanda malah berteriak dan membuat Evan semakin tidak mengerti.


"Berhenti lah pura-pura! Aku sudah muak dengan wajahmu yang sok polos itu!" Evan berjalan mendekat, tapi Amanda dengan segera menghindar.


"A-apa yang kau lakukan padaku?! Apa yang baru saja kau lakukan?!" Amanda begitu panik ketika ia melihat gaun bagian depannya robek, yang ia ingat terakhir kali kalau ia dibawa oleh laki-laki tua dan hendak diperkosa.


"Eh ...?" Mata Evan membelalak sempurna. "Siapa yang mau macam-macam denganmu? Kau yang datang menggodaku!"


"Bohong!" Tiba-tiba air mata Amanda menetes deras, ia menatap ke sekeliling ruangan berharap bahwa ia mendapat celah untuk pergi.


"Aku harus pergi! Aku harus pergi!"


Tapi baru saja Amanda akan pergi tiba-tiba Evan menarik lengannya lagi. "Sebenarnya apa yang ingin kau rencanakan?! Urusan kita belum selesai?! Dan seluruh negeri ini sudah terlanjur percaya bahwa kau adalah kekasihku! Sialan! Apa yang sebenarnya kau rencanakan?!"


Amanda menggeleng-geleng keras. Sungguh. Ia tidak tahu apa yang sedang dikatakan oleh laki-laki ini. Ia bingung, otaknya masih belum mengingat apa yang sebetulnya terjadi.


"Aku harus pergi!"


"Tidak! Sebelum kau mengatakan apa yang sebenarnya kau rencanakan?!"


"Aku tidak tahu maksudmu dan aw ...!" Amanda memekik keras saat Evan tidak sengaja menarik tangannya semakin kuat.


"Sakit ..."


"Katakan!"


"Aku ... tidak tahu apa yang kau katakan." Amanda semakin menangis tiada henti. Laki-laki ini ... kelewat kasar ...


"Lepaskan aku ...!"


"Jadi kau tidak ingat ketika tadi kau mempermainkan aku? Memelukku di depan umum dan membiarkan semua orang berpikir kau adalah tunanganku? Dan tiba-tiba tubuhmu nenggeliat liar dan menarik tubuhku karena berusaha menggodaku?"


Amanda kaget bukan kepalang.


"Apa maksudmu?"


"Jadi, kau benar-benar tidak ingat?"


***