
Evan mematung di depan ruang makan dengan tubuh yang panas dingin. Ia menatap ke arah Amanda dengan tatapan tajam mengintimidasi saat Amanda menaruh mangkuk berisi sop dan juga nasi.
Sementara itu, Amanda kebingungan dengan jenis tatapan itu. Berulang kali Amanda melihat ke arah dirinya sendiri tapi ia yakin tidak ada yang salah dengannya.
Semalam dia sudah tidur kan? Semalam dia tidak tahu apa yang sudah aku lakukan kan?
Berulang kali Evan meyakinkan itu di dalam hati. Karena kalau sampai Amanda tahu kalau Evan menyiumnya, bisa-bisa harga dirinya jatuh terhempas ke atas lantai.
Sial! Kenapa aku bisa sampai lupa diri?!
"Emm, Tuan ... kenapa anda memandang saya begitu?"
"Kau ...! Jangan munafik!"
"Eh?!"
Evan lalu menatap ke arah Amanda dari atas sampai bawah.
"Kau pura-pura tidak ingin kusentuh tapi kau memakai pakaian seksi seperti itu?!" Hardik Evan dengan mata yang menyala.
Mendengar perkataan itu mata Amanda membulat sempurna. "Seksi dari mana Tuan?" Amanda memandang lagi penampilannya.
Dia memakai celana lebar panjang, kemeja panjang yang sengaja ia kenakan karena memang takut akan sosok yang ada di depannya.
Evan menggeleng-geleng keras.
Astaga ...!
Apa yang baru saja Evan pikirkan lagi Jelas-jelas Amanda memakai pakaian yang sangat tertutup, tapi kenapa bayangan Amanda yang selalu muncul adalah Amanda yang tengah memakai lingerie seperti tadi malam?
"Pokoknya jika ada di hadapanku kau harus menggunakan pakaian dua lapis! Lihat bentuk tubuhmu masih mengecap. Apa kau sengaja menggodaku?!"
"Eh?"
Amanda melotot tajam tidak mengerti.
Memangnya ada apa dengan tuannya ini?
Hingga pada akhirnya Evan pergi, meninggalkan Amanda dengan pikiran yang masih kebingungan.
"Dasar orang aneh," celetuknya sendiri.
***
"Hei, kenapa kau suntuk seperti itu?"
Di kafe seberang jalan Evan masih kepikiran dengan apa yang terjadi kepada dirinya. Ia terus mengutuk kenapa bayangan Amanda selalu muncul di benaknya hingga mengusik seluruh bagian otaknya.
"Hei!"
Beryl menjitak kepala Evan karena sedari tadi Evan tidak menganggapnya ada padahal Evan sendiri yang mengajaknya bertemu.
"Aw, sakit!"
"Salah sendiri! Kenapa tidak menjawabku!"
"Astaga ... ada kau di sini?"
Mata Beryl melotot tajam.
"Apa kau gila?! Kau yang mengajakku ke sini!"
Astaga!
Evan menggeleng-gelengkan kepala cepat.
"Kau sebenarnya kenapa?! Kau baru menikah, tapi secepat ini kau datang dan bekerja?"
"Beryl ... sepertinya aku sudah benar-benar gila ..."
Beryl menjitak kepalanya sendiri.
"Memangnya ada apa?"
Tapi Evan malah bungkam.
"Astaga! Aku ingin membunuhmu!"
***
Sementara itu, di dalam rumah Amanda hanya bisa memandang makanan yang ada di atas meja dengan tatapan sedih. Padahal dia sudah repot-repot memasaknya tali Evan malah tidak mau memakannya sama sekali.
Amanda melenguh, ia kemudian mengambil sebuah tempat makan dan menaruhnya ke dalam. Mulai berjalan ke arah luar dan lagi-lagi memberikan ini kepada para pengawal.
"Hei, apa kalian lapar ...?"
Ronald mengernyit.
"Ini makan lah."
"Wah terima kasih sekali ..." Liam tertawa lalu secepat kilat mengambil makanan itu. "Anda sangat baik sekali, nona. Anda sangat tahu bahwa saya sangat lapar."
Amanda terkekeh. Tapi beberapa saat kemudian ia melenguh, tanpa sadar Ronald melihat raut muka itu.
"Kenapa nona ...? Anda tampak sedih."
"Aku ... hanya merasa bosan ... aku seperti dikurung. Tidak di sini, tidak di tempat lamaku, aku seperti tawanan."
Tiba-tiba Ronald mengernyit. "Kalau begitu, kenapa anda tidak keluar saja? Kami bisa menjaga anda ..."
"Eh?"
Mata Liam melebar.
"Hey, kenapa kau melakukannya? Kita bisa dipecat oleh Tuan Evan," bisiknya tepat di telinga Ronald, tapi sepertinya Ronald tidak menggubrisnya sama sekali.
"Jadi, bagaimana nona ...?"
Amanda mengangkat alisnya tampak berpikir, tapi secepat kilat Amanda kemudian tersenyum ke arah Ronald.
"Baik lah kalau begitu, tapi aku takut ketahuan."
Tapi Ronald membalas keraguan itu. "Tidak apa-apa, nona. Saya yakin tidak akan ketahuan. Ini rahasia kita."
Mata Amanda berbinar-binar.
"Ya, Oke. Tunggu aku. Aku akan berganti pakaian."
Lalu pintu ditutup, sementara itu mata Liam melebar penuh ketakutan.
"Hei, kau gila!!! Bagaimana kalau Tuan Evan tahu? Kita bisa dibunuh."
"Untuk apa takut? Dia bukan bosku."
"Eh?" Liam mengernyit tidak mengerti. Jelas-jelas selama ini dia bekerja untuk tuan Evan kan?"
"Hei, ayo. Aku sudah siap." Tiba-tiba saja pintu dibuka lagi, Amanda langsung keluar.
"Anda cepat sekali, Nona."
"Aku benar-benar tidak sabar untuk bisa bernapas sedikit saja di luar."
Amanda terkekeh, sementara di sudut sana, ada Liam yang ketakutan setengah mati.
***