
Bekas-bekas air mata itu nyatanya menyentuh bagian dalam hatinya. Sesaat setelah Evan memastikan bahwa gadis itu sudah tertidur lagi, ia menggendong tubuhnya, membawanya sampai ke atas ranjang dan kini malah menyelimutinya.
Evan melenguh saat ia melihat ke arah makanan dan juga minuman di atas meja yang belum ia sentuh sama sekali. Gadis ini ... sudah hampir dua puluh empat jam tidak makan, apa dia tidak lapar ...?
"Amanda ..." tanpa sadar Evan menyerukan nama itu.
Evan ingin membangunkannya lagi, tapi saat ia melihatnya begitu terlelap ia menjadi semakin tidak tega. Membuatnya harus menjauh dari Amanda dan membiarkannya untuk beristirahat barang sejenak.
Evan keluar, ia mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya dan segera menelefon Beryl.
"Jadi bagaimana?"
"Hey, ada yang ingin aku sampaikan padamu?"
Evan duduk di sofa sambil merenggangkan tubuhnya, mengernyit ketika ia mendengar suara kepanikan dari Beryl.
"Sebaiknya kau jangan ikut campur pada gadis itu. Gadis itu terlalu banyak masalah."
"Masalah?"
"Ya, dan asalkan kau tahu kalau aku begitu sulit menemukan jati dirinya. Pantas saja wartawan kesulitan mencari siapa sebenarnya gadis itu, oleh keluarganya dia dilarang untuk keluar dari rumah. Semenjak orang tuanya meninggal dia dilarang bergaul dan menutup semua aksesnya."
Mata Evan melebar saat mendengar fakta itu. Apakah keluarganya memang sekejam itu?
"Cepat cari alasan agar kau bisa bebas dari perempuan itu? Aku akan memikirkan cara juga."
Lalu beberapa saat kemudian sambungan terputus dan Evan seperti mendengar suara batukan dari arah dalam kamar.
Evan berjalan, ia menatap ke arah perempuan itu yang masih meringkuk tapi gelisah di dalam tidurnya. Sepertinya ia mengigau, sedikit lebih parah dari yang tadi.
"Hei, bangun ... bangun ..."
Amanda meracau tidak jelas, Evan melihat keringat dingin mulai bercucuran juga suhu tubuhnya yang mulai meningkat panas.
"Astaga ... kau sakit?"
Tidak ada sahutan, tapi Evan berusaha keras untuk terus membangunkannya.
"Bangun lah ..."
Amanda mengerjap-erjap, hingga pada akhirnya ia berhasil bangun dan begitu kaget saat ia sudah berada di tempat tidur dan ada Evan di sisinya.
"K-kau? Apa yang kau lakukan?"
Secepat kilat Amanda langsung menarik diri, segera meloncat dari ranjang dan lari terbirit-birit ke pojokan pintu.
Evan mendengus. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin membangunkannya karena kau terus mengigau!"
"Jangan bohong! Kau juga sama saja kan? Kau ingin memperkosaku kan?" Amanda sudah mulai ketakutan. Apa lagi saat ia melihat pria itu yang mulai melangkahkan kaki.
"Ja-jangan mendekat!" Amanda semakin panik, ia tiba-tiba melihat vas bunga di atas meja dan langsung memecahkannya sebagian. Membuat ujung vas bunga terlihat lancip dan langsung mengarahkannya kepada Evan.
"Sekali kau mendekat aku akan ...!"
Ha ha ha. Evan malah tertawa. "Aku tidak yakin kau akan membunuhku."
Evan melihat tangan itu bergetar dengan sangat hebat. Evan mengernyit, wanita itu tidak akan pernah berani, dia pikir dia mampu menggertak dirinya ...?!
Evan berlari ke arah Amanda dan membuat mata Amanda melebar seketika, dan secepat kilat Evan langsung mengambil alih vas bunga yang pecah itu dan langsung melemparkannya ke atas lantai.
Pyar!
Amanda terlonjak kaget sementara Evan hanya tersenyum sinis melihat ketakutannya.
"Aku yakin kau tidak akan pernah berani ...! Memegang vas bunga saja tanganmu bergetar."
"Kau ...? M-mau apa kau?!"
"Menurutmu?"
"Lepaskan aku! Mau apa kau?!"
Tidak menjawab lagi apa yang dikatakan oleh Amanda, Evan menarik tangan Amanda, berjalan ke arah meja makan dan memaksa Amanda untuk duduk di sana.
"Aku ... aku harus pergi."
"Duduk dan makan lah. Kita harus bicara. Kau akan sakit jika kau tidak makan."
Amanda semakin ketakutan saat Evan memberikannya sepiring makanan baru ke hadapannya.
Amanda hanya bisa memandang itu semua, tangan Amanda semakin bergetar kala menatap ke arah Evan.
"Tenang lah. Aku tidak akan memperkosamu seperti apa yang kau katakan tadi. Kau bukan tipeku ... sadar lah."
Amanda menarik napas panjang.
"Lalu, kenapa kau tidak membiarkan aku pergi?"
"Karena aku harus memikirkan cara untuk membereskan kekacauan yang sudah kau lakukan?! Apa kau masih tidak tahu juga?" Evan mengeram ketika mendengar kalau Amanda masih pura-pura tidak tahu.
Amanda langsung menunduk, ia menggenggam erat kedua tangannya sendiri saat ia kembali gugup. Ia sadar bahwa ia telah menimbulkan banyak kekacauan ketika malam itu.
"Aku ... hanya putus asa."
"Sekarang, kau harus makan dan kita harus bicara. Aku tidak mau kau sakit karena aku butuh orang sehat untuk bisa ku ajak bicara."
Evan menanti Amanda untuk makan, tapi Amanda sepertinya ragu untuk mulai makan. Padahal dia sudah sangat lapar ...
Dan sepertinya Evan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Amanda. Tiba-tiba ia menyendokkan makanan yang ada di hadapan Amanda dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri, juga mulai mencicip minuman yang ada di samping Amanda dan meneguknya.
"Lihat! Aku berani makan makanan itu kan? Tidak ada sesuatu hal yang berbahaya di makanan itu dan lebih baik kau segera makan."
"Eh?"
Amanda sedikit tersentuh dengan perlakuan Evan.
***