VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
PELUKAN



Tapi sepertinya apa yang Evan harapkan tidak sesuai kenyataan, Amanda nyaris tidak keluar selama seharian penuh. Dua belas jam ia menanti, tapi Amanda tetap diam seribu bahasa dan tidak mau menyahut ucapan Evan hingga membuat Evan khawatir.


"Amanda, bisa kah kita bicara?" Ketukan pintu dan suara Evan jauh lebih lembut dari saat pagi tadi. Ia harus berusaha membujuk Amanda untuk keluar, berbicara dari hati ke hati untuk menjelaskan bahwa Evan tidak pernah bermaksud untuk melakukan hal sekeji itu.


"Amanda, bisa kah kita bicara?"


"..."


Tetapi tetap saja, keheningan yang hanya menjadi jawaban dari Evan.


"Amanda, aku ... minta maaf ..."


Amanda masih tidak mau menyahut.


"Astaga, kau belum makan seharian ini."


Perasaan khawatir mulai menyeruak tajam. Ini sudah terlalu lama bukan? Seharian penuh Amanda mengurung diri di dalam kamar tanpa makan sedikit pun, tanpa menyahut apa pun dan hanya diam di dalam tanpa Evan tahu Amanda sedang melakukan apa.


Pikiran buruk mulai berkecamuk. Matanya melebar saat Evan mulai takut jika terjadi apa-apa dengan Amanda.


"Amanda! Buka pintunya! Atau aku dobrak pintu ini!"


Masih tidak ada sahutan.


Sungguh. Kali ini Evan sudah benar-benar tidak sabar. Ia begitu khawatir dengan Amanda sehingga mau tidak mau ia mengerahkan tenaga yang ia punya. Ia kemudian mulai medobrak pintu itu dengan menggunakan kakinya.


Brak!


Untung Evan dapat dengan mudah memaksa pintu itu untuk terbuka. Buru-buru ia segera masuk ke dalam kamar dan betapa syoknya Evan saat mengetahui Amanda dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.


"A-Amanda ...?"


Amanda sesenggukan. Entah sudah berapa lama ia duduk meringkuk di sudut sana sambil terus menerus menangis tiada henti. Tampilannya begitu rapuh, wajahnya memucat dan seluruh tubuhnya bergetar ketika menyadari bahwa Evan berhasil masuk ke dalam kamar ini.


"Amanda ..."


Amanda menggeleng-geleng keras. Ia sudah sama persis seperti orang yang frustrasi. Trauma akibat pemerkosaan itu nyatanya masih membekas hingga tiba-tiba Amanda langsung berlari ke arah meja, mencari apa-apa saja untuk pertahanan diri dan kini malah memecahkan vas bunga dan ia arahkan ke arah Evan.


"Pergi kau dari sini!" Teriak Amanda dengan mata yang menyala.


***


"Amanda, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berbuat salah padamu. Aku juga menyesal telah melakukan hal buruk padamu."


Amanda sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia masih menodongkan pecahan vas ke arah Evan agar Evan mundur dan Amanda bisa keluar dari tempat ini.


"Amanda, aku mohon! Aku menyesal. Aku akui aku salah. Aku ... Malam itu aku mabuk, aku tidak sadar ketika aku melalukan hal itu padamu."


Amanda semakin menangis, ucapan Evan kembali mengingatkan kejadian malam itu hingga membuat Amanda kembali menangis histeris.


"Aku ingin pergi."


"Tenang lah. Mari kita bicarakan ini baik-baik. Dan aku mohon, tolong turunkan pecahan vas itu ke atas meja."


Amanda menggeleng keras. Ia masih syok, marah, jijik dan masih membenci laki-laki yang ada di depannya ini dengan begitu besar. Ia sudah sangat frustrasi sekarang ini. Satu hal yang harus ia lakukan saat ini adalah kabur. Mau bagaimana pun caranya ia harus segera pergi dari tempat ini.


Amanda terus menodongkan pecahan kaca ini ke hadapan Evan dan Amanda berusaha sekuat tenaga agar ia bisa keluar dari tempat ini. Tidak lupa Amanda juga membawa serpihan lainnya agar mungkin bisa ia gunakan untuk mengancam kedua para pengawal yang ada di luar.


Tapi sayang, tenaga Amanda tidak cukup kuat ketika berhadapan dengan Evan. Amanda pikir, Evan akan takut dan segera menghindar, tapi nyatanya, Evan malah semakin maju ke depan dan merebut serpihan vas bunga itu dari tangan Amanda hingga membuat tangan Evan terluka.


"Lepas! Aku bilang lepas!"


"Lepaskan aku! Aku ingin pergi!"


Prang!


Begitu pecahan vas itu berhasil Evan rebut, kini ia sepenuhnya memegang kedua bahu Amanda. Membuat Amanda menjerit dan meronta hingga begitu keras.


"Lepas!" Amanda menangis histeris. Sedangkan Evan dapat memahami betapa trauma dan frustrasinya perempuan ini.


"Aku mohon ... tenang lah."


Tapi Amanda terus meronta. Ia ingin membebaskan diri tapi Evan dengan cepat menahannya. Satu-satunya hal yang dapat Evan lakukan untuk menenangkan Amanda adalah, menarik tubuh Amanda ke dalam dekapannya dan memeluknya erat-erat.


"Tenang lah, tenang. Kau harus tenang. Maaf, maaf ... aku minta maaf." Tanpa sadar ada air mata yang juga ikut mengalir dari kedua mata milik Evan. Tanpa ia sadari juga, ia merasa bersalah karena akibat perbuatannya ia hampir membuat orang lain menjadi seperti ini.


Perempuan ini pasti syok, pasti frustrasi dan putus asa.


"Maaf, aku minta maaf. Aku minta maaf." Berulang kali Evan mengucapkan kata maaf hingga Amanda semakin tidak kuasa untuk mengeluarkan tangisannya lagi ke dalam pelukan Evan.


Dan ini lah, pertama kali mereka berpelukan sampai dengan begitu lamanya ... sampai Amanda mulai mendapatkan napasnya yang teratur lagi.


***


Kini mereka duduk berhadapan ...


Amanda masih dengan muka yang tampak syok memandangi cangkir berisikan teh panas dengan tatapan kosong.


"Aku minta maaf,"


Mungkin sudah berulang kali Evan mengatakan ini. Tapi Amanda masih diam saja, ia terus membisu sambil terus menatap pada cangkir yang mengepul itu.


"Aku mabuk malam tadi, aku ... aku tahu perbuatanku kelewatan. Aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Maaf, aku telah melakukan sesuatu hal yang sangat tidak termaafkan."


"..."


"Tolong jawab aku, aku mohon jangan diamkan aku. Aku bertindak seolah-olah menjadi orang paling kriminal di sini."


Tangisan Amanda pecah lagi, dan hal itu membuat Evan kembali dihantui rasa bersalah.


"Amanda ..."


"Tuan ...?" Tiba-tiba Amanda mengeluarkan suara, membuat Evan mendongak dan menatap ke arah Amanda.


"Bisa kah anda mempercepat perceraian kita? Bukan kah saya sudah mempertanggung jawabkan perbuatan saya dengan menikahi anda ketika saya ceroboh dulu? Dan usia pernikahan kita sudah menginjak satu bulan ... anda bisa mengajukan gugatan cerai. Saya rela jika anda menjatuhkan nama saya jika nanti bisa anda gunakan sebagai alasan perceraian kita."


Dan mendengar hal itu mata Evan terbelalak kaget. Napasnya berubah berat dan lidahnya kelu untuk sesaat. Sementara itu, Amanda lagi-lagi berdiri, ia meninggalkan meja ini dan kembali menuju kamar.


Suara tangisan itu samar-samar kembali terdengar. Membuat Evan semakin frustrasi dengan keadaan ini.


***


10.00


jangan lupa ikutin hasrat tuan Anderson ya...


so far so good ?


so far so bad ?