VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
EVAN YANG KEJAM



Dasar perempuan ini, katanya tadi tidak mau makan, tapi sekarang ...? Dia bahkan menghabiskan makanan sampai tidak tersisa dan hanya butuh satu menit perempuan itu untuk menghabiskannya.


"Apa ingin tambah?"


Amanda menggeleng, ia malah segera merapikan peralatan makannya dan segera berdiri.


"Kau mau apa?"


"Aku harus mencuci piring ini."


"Eh?" Evan mengernyit. "Tidak, tidak perlu. Ada pelayan hotel ini untuk membersihkannya."


Amanda termangu, ia menatap ke arah Evan ragu-ragu. "Maaf, aku hanya kebiasaan."


"Apa memang benar kalau keluargamu sudah memperlakukanmu seperti pembantu hingga kau seperti ini?"


"Eh?" Mata Amanda melebar. "D-dari mana kau tahu?"


Tiba-tiba saja Evan melemparkan setelan baju ke atas meja. "Sebaiknya kau mandi dan ganti pakaianmu dengan ini. Aku tahu kau tidak nyaman memakai pakaian terbuka seperti itu karena aku berulang kali melihatmu terus menutupi dadamu. Dan ... gaun itu sobek, aku takut kau demam."


Amanda hanya terpana melihat perlakuan Evan kepadanya.


Sepertinya laki-laki ini memang tidak berniat jahat kepada dirinya ...


***


Amanda sedikit tersenyum saat ia selesai membersihkan diri dan menatap dirinya ke arah cermin. Sebuah t-shirt memang bagus di tubuhnya. Setidaknya Amanda sedikit lebih nyaman dengan pakaian seperti ini.


Ia kemudian mengucir rambutnya, segera membuka pintu dan melihat Evan yang sudah duduk di sofa yang sedang menyesap kopinya.


Amanda berjalan ke arah sana, duduk agak jauh dari Evan seperti memberi jarak. Jujur, Amanda tidak tahu laki-laki seperti apa Evan, kemarin dia juga sempat menggodanya tapi sekarang dia berubah menjadi orang yang sedikit baik.


Evan sedikit tertegun kala melihat tubuh Amanda yang berbalut baju biasa seperti itu. Model casual sepertinya terlihat begitu pas hingga tanpa sadar Evan tidak bisa menjauhkan tatapan itu dari Amanda.


Melihat tatapan itu, Amanda sedikit ketakutan. Membuat Amanda kembali menggeser tubuhnya lagi.


"Sudah aku katakan aku tidak berniat dengan tubuhmu! Apa tidak suka ketika kau menatapku seperti serigala."


"..."


Amanda hanya bisa menggigit ujung bibirnya.


"Oke, sepertinya kita harus bicara."


"Boleh kah aku sekarang pergi?"


"Hey! Aku bahkan belum memulai!"


"..."


"Lagi pula kau mau pergi ke mana? Setelah kau keluar dari sini apa kau tidak takut dijual lagi dengan paman dan bibimu itu, Amanda ...?"


Dan mendengar namanya disebut mata Amanda membelalak sempurna. "Kau ...? Kau tahu namaku? Dan kau tahu aku sedang dijual?"


"Menurutmu? Apa aku tidak bisa mencari tahu?"


Amanda masih terperangah kaget saat mendengar semua itu.


"Baca lah, agar kau tahu masalah apa yang kau ciptakan kepadaku."


Amanda lagi-lagi menggigit bawah bibirnya. Jujur, sekarang ia ingat apa yang ia lakukan malam itu. Dirinya yang hadir di panggung pasti akan membuat laki-laki yang ada di sampingnya ini kesusahan.


"Aku ... minta maaf."


Ha ha ha. Evan malah tertawa terbahak-bahak. "Apa maaf itu cukup?"


"Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya terbebas dari orang yang membeliku. Aku pikir, dengan sedikit membuat kekacauan dan perhatian membuat para pengawalnya tidak akan berani menarik tanganku lagi dan membawaku ke sana lagi." Ada nada perih saat mengungkapkan itu semua, tapi Evan berusaha untuk tidak terpengaruh.


Evan menarik napas panjang dan mengeluarkannya lagi. Memijat kepalanya yang sudah terasa sangat berat.


"Apa kau benar-benar masih perawan?"


"Eh?" Mata Amanda membelalak sempurna.


"Aku tanya apa kau masih perawan?"


"Ke-kenapa kau bertanya itu?"


"Ah, tidak. Kalau tidak suka jangan dijawab."


Amanda menunduk, ia mulai waspada lagi terhadap laki-laki yang ada di sampingnya.


"Kau tidak usah takut, aku tidak suka meniduri wanita yang tidak dengan suka rela mau untuk kutiduri."


"..." Amanda hanya melirik ke arah Evan satu kali.


"Sebaiknya kita harus mencari jalan keluar. Jujur, karena dirimu aku sedang berada di situasi yang sulit. Aku bahkan didesak oleh orang tuaku untuk menikah, dan jujur aku tidak bisa untuk menikahi siapa pun saat ini. Dan tentang para wartawan ... bisa kah kita bekerja sama? Kita harus mencari cara agar nama baik kita terjaga satu sama lain."


Tiba-tiba Amanda diam saja, ia melirik ke arah Evan sambil memikirkan tentang sesuatu.


"A-apa kau juga bisa membantuku?"


"Hey?! Kenapa kau melunjak?! Yang membuat masalah itu kau ...! Untuk apa aku harus bertanggung jawab atas dirimu?"


"Aku hanya takut jika aku muncul lagi di berita, aku ditangkap lagi oleh paman dan bibi," bisiknya lirih.


"Kau tahu ...? Itu bukan urusanku. Kau yang membuat masalah karena kau telah mengacaukan hidupku dan sudah semestinya kau harus bertanggung jawab."


"..."


"Bukan kah kau juga harus membalas budi karena memanfaatku hingga akhirnya kau tidak jadi dijual?"


"Aku ..."


"Aku tidak mau tahu, kau harus ikuti cara mainku. Dan untuk masalah bagaimana kau menghadapi keluargamu, jangan minta tolong padaku. Aku sudah terlalu banyak masalah yang disebabkan oleh dirimu."


Amanda mencengkeram tangannya sendiri.


Jadi ... di dunia ini, tidak ada orang lain yang benar-benar bisa menolong Amanda kecuali dirinya sendiri.


***