VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
DIPAKSA MENIKAH



Evan menatap ke arah ponselnya dengan mata yang sangat pedas. Seluruh berita ini nyatanya tidak dapat dikendalikan. Semua orang tampaknya sudah mempercayai bahwa perempuan asing itu adalah kekasih dari Evan.


Tapi ... ada yang aneh di sini. Mereka tidak dapat menemukan siapa sebenarnya Amanda. Mereka kewalahan mencari informasi tapi semuanya nihil.


Evan menatap ke arah Beryl. Kenapa malah Beryl bisa menemukan identitas perempuan itu?


"Kau ...? Dari mana kau tahu?"


"Aku memang merasa sedikit aneh, Ev. Aku hanya bisa sedikit mencari informasi tentangnya. Bahkan aku harus melihat cctv, menginterogasi laki-laki tua yang membelinya. Untung saja laki-laki tua itu adalah rekan bisnis yang sangat bergantung dengan perusahaanmu. Jadi saat kutanyai dia langsung menjawab karena mungkin dia takut kalau kau memutus hubungan kerja sama ..."


Evan mendengus.


"Siapa laki-laki tua yang kau maksud?"


"Aku atur jadwal jika kau mau bertemu dengannya."


Evan memijit kepalanya sendiri saat ia melihat ke arah televisi. Semua orang masih gempar dan terus bertanya tentang tunangannya itu. Membuat Evan semakin pusing karena ternyata berita ini bahkan sudah menyebar dengan begitu kuat. Bahkan, ketika ayahnya malah mengatakan bahwa dia akan segera menikahi perempuan itu membuat Evan semakin tersudut dan kebingungan.


"Jadi, apa rencanamu?"


"Aku belum memikirkannya ..."


Beryl memutar kedua bola mata. Ia mengerjap-erjapkan mata berulang kali. Ia tahu kalau dia di posisi Evan dia tidak boleh gegabah untuk mengambil keputusan.


Hingga tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Nama ayah muncul di atas layar hingga ia mengangkatnya.


"Ya ayah."


"Ayah dan mama sudah menghubungi wedding organizer. Sayang, tenang saja ayah bahkan juga sudah menyiapkan gedung dan catering."


"Apa?!" Mata Evan melebar saat mendengar hal itu dari mulut ayahnya.


"Hei, ada apa?!" Beryl mengernyit saat melihat Evan dengan mata yang menyala lebar. Bahkan Evan masih terbengong saat ia menutup telfonnya.


"Aku harus segera pulang sebelum ayahku bertindak hal gila di luar nalar."


"Hey! Ada apa?"


Tapi sayang, pertanyaan itu tidak dijawab oleh Evan.


***


Evan berlari terburu-buru ketika ia mengerem mobilnya hingga terdengar decitan yang berbunyi dengan sangat lengking. Ia segera turun, setengah berlari setelah menggebrak pintu mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Anakku sayang ..." Roberto kaget saat ia melihat anak semata wayangnya masuk ke dalam rumah. Ia tadi sedang mencecap kopi buatan isterinya dan membaca koran.


"Ayah, apa yang ayah lakukan?!"


"Apa yang aku lakukan? Apa maksudmu?"


"Kenapa ayah bertindak hal di luar batas?"


"Di luar batas?"


"Aku tidak pernah menyuruh ayah untuk mengurusi acara pernikahan yang tidak mungkin aku lakukan ..."


Ayahnya mendengus kemudian meletakkan koran ke atas meja. Berjalan ke arah anaknya dan menyuruhnya untuk sedikit lebih tenang.


"Duduk lah,"


"..."


"Kamu sudah mengenalkan calon isterimu di depan umum dengan kejutan yang sangat luar biasa. Lalu, apa yang harus kami tunggu? Bukan kah kamu juga menginginkan pernikahan?" Tiba-tiba dari arah belakang ada mamanya yang datang. Ia ikut duduk berhadapan dengan Evan hingga membuat Evan sedikit muak.


Mamanya kini celingukan menatap ke arah pintu yang nyatanya ia tidak menemukan calon menantunya.


"Ke mana menantuku? Apa kau tidak membawanya?"


Kepala Evan semakin pusing mendengarkan semua omong kosong keluarganya ini.


"Ya, benar apa kata mamamu? Kamu sudah memperkenalkan perempuan itu?"


Evan jelas menggeleng.


"Tidak. Aku tidak akan menikahi gadis itu?"


"Hey, kau gila. Aku sudah memesan acara pernikahan dan semuanya sudah ditetapkan tanggalnya."


"Apa?!"


"Ayah!"


Ayahnya melotot tajam. "Apa kau berencana membuat ayah malu? Ayah sudah mengatakan ini ke seluruh teman ayah."


"Ayah! Ayah keterlaluan! Dia hanya perempuan asing!"


"Di mana hatimu tiba-tiba kamu mengatakan bahwa perempuan itu adalah perempuan asing padahal dia adalah pacarmu?"


"Ayah! Dia bukan pacarku!"


Ibu tirinya bahkan hanya bisa menggigit ujung bawah bibirnya sendiri melihat perdebatan antara ayah dan anak ini.


"Apa kau lupa kau sudah terlalu banyak mencampakkan wanita. Dulu Monika, sekarang ...?" Ayahnya menggeleng-gelengkan kepala.


"Hey! Bukan aku yang mencampakkan Monika? Dan sejak kapan ayah terlalu mengurusi kehidupan pribadiku?"


"Pokoknya kau harus menikah! Sudah umur berapa kau ini? Apa kau tidak ingat kalau ayah mempunyai riwayat jantung? Ayah masih ingin meminang cucu sebelum ayah ..."


"Jangan bicara macam-macam," ucap Evan dan ibu tirinya hampir bersamaan.


"Kau terus membangkang. Dan kau ..."


"Sudah aku katakan aku tidak ingin menikah dengan perempuan itu!"


"Baik lah kalau kau tidak ingin menikah dengan perempuan itu, tapi kau harus menikah dengan Monika!"


"Ayah!" Kini bukan hanya Evan yang protes, tapi Ibunya juga. Entah lah, sepertinya ada sesuatu yang membuat ibu tirinya itu juga keberatan jika Monika menikah dengan Evan.


"Kau sudah tahu ayah tidak muda lagi."


"Aku tidak ingin menikah. Titik. Dan aku harap ayah membatalkan semua hal yang telah ayah lakukan dalam mempersiapkan acara pernikahan ini."


Mendengar hal itu, ayahnya tiba-tiba tidak bisa berdebat lagi. Tiba-tiba ayahnya memegangi dadanya seperti orang kesakitan. Ia terengah-engah, dan saat Evan melihat itu semua, ia panik dan berlari cepat menyangga ayahnya yang akan jatuh.


"A-ayah? Apa yang terjadi?"


"Evan! Ayo bawa ayahmu segera ke rumah sakit sekarang juga."


***