VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
LESUNG PIPIT



"Ini Tuan, makanan sudah siap."


Evan memerhatikan makanan yang sudah terhidang di atas meja. Ia sedikit mengernyit ketika mengetahui fakta bahwa perempuan ini melakukan segala jenis makanan yang ia minta.


"Ternyata kau ahli dalam memasak." Evan mengambil sendok dan yang ia raih pertama kali adalah telur dadar setengah matang berwarna keemasan itu.


Tiba-tiba Evan terdiam. Tangannya bergetar dan langsung menatap ke arah Amanda.


"Dari mana kau belajar menggoreng ini?"


"Ah, aku ...? Katamu kau ingin makan telur setengah matang? Emm, aku hanya membuat seperti apa yang biasanya aku buat."


Evan menahan napas. Ada tiga telur dadar yang dibuat oleh Amanda dan tiba-tiba langsung dilahap oleh Evan sekaligus, sedikit membuat Amanda menganga.


Mata Evan berkaca-kaca, entah kenapa ia malah ingat Mama kandungnya yang bahkan setiap hari menggoreng telur seperti ini sebelum ia berangkat akan bersekolah. Ditatapnya Amanda rapat-rapat, perempuan ini ... kenapa bisa membuat telur ini sama persis?


"Emm, sepertinya kau lapar ..." ucap Amanda lalu ia akan pergi meninggalkan Evan. Tapi sebelum ia pergi, tangan Evan meraih tangan Amanda.


"Duduk lah, ikut makan bersamaku."


"Eh?"


"Duduk."


Terpaksa Amanda menurut. Amanda menatap lagi ke arah Evan yang kemudian memakan lahap nasi merah dan juga tahu isi buatannya bahkan sampai tidak tersisa. Juga memakan apel yang sudah susah payah Amanda ukur dengan penggaris dengan lahapnya.


"Emm, masih ada sisa di dapur ... apa perlu aku berikan untukmu?"


"Aku sudah kenyang."


Amanda mengangguk. "Kalau begitu ... aku bersih-bersih dulu ..."


"Dari mana kau mendapat semua resep ini?"


Amanda menggeleng. "Aku hanya memasak seperti biasa yang sudah saya lakukan selama ini, Tuan. Tuan tahu sendiri sebelum saya kemari saya juga sudah diperlakukan sebagai pembantu," ucapnya serak ketika Amanda mulai mengenang.


"Masakanmu enak ... aku tidak bohong."


Bravo.


Dan ini lah pujian pertama yang berhasil Amanda dapatkan hingga membuat Amanda tidak percaya.


"Terima kasih ..."


"Masakanmu mengingatkanku pada Mama."


"Mama Melina?"


Evan menggeleng. "Bukan, dia hanya orang asing. Mama kandungku sudah meninggal."


Amanda langsung membungkam mulutnya sendiri. Dia benar-benar baru tahu soal ini. Pantas saja kemarin dia juga sempat curiga karena Evan sedikit jaga jarak dengan Mama Melina.


"Emm, maaf."


"Tidak apa-apa."


Amanda meremas tangannya, entah kenapa situasinya sudah semakin cangung. Ia menatap ke segela arah saat Evan mulai menatapinya seperti itu.


"Emm, maaf Tuan. Masih ada pekerjaan yang harus saya bersihkan. Kata Tuan, saya harus mengurutkan baju Tuan sesuai warna."


"Dan kau menurut saja padahal aku sedang mengerjaimu?"


"Eh?"


"Kau pasti lelah. Karena kau sudah membuat hatiku senang dengan masakanmu, aku izinkan kau istirahat."


Tapi tiba-tiba Amanda menggeleng. "Emm, tidak Tuan. Lebih baik saya bereskan saja sekarang. Lagi pula ... saya juga bingung mau apa di sini. Paling tidak ... ini sebagai balas budi saya karena anda telah menolong saya dari Paman dan Bibi."


Sorot mata Evan tajam lagi.


Perempuan ini ...? Apa yang sedang ia pikirkan?


"Sudah aku bilang aku tidak pernah berniat menolongmu."


"Asal anda tahu, Tuan ... pekejaan yang anda berikan kepada saya itu seratus kali lebih ringan dibandingkan Paman dan Bibi dulu. Anda harus tahu betapa tersiksanya saya dulu." Suara Amanda kembali serak ketika ia mengenang lagi.


"Jika saya berasa di posisi anda ... saya juga pasti akan kesal karena telah terjebak di situasi yang mengharuskan saya menikah dengan orang asing. Untuk itu ... saya tetap meminta maaf."


"Kau cukup tahu diri rupanya ..."


Amanda mengangguk. "Awalnya saya berniat kabur ... tapi sepertinya itu tidak akan pernah saya lakukan mengingat anda sudah begitu baik kepada saya."


Evan mulai melihat mata Amanda mulai berkaca-kaca.


"Dan ..." tiba-tiba Amanda menatap ke arah pot bunga yang ada di sudut ruangan pemberian dari Mama Melina.


"Jika anda merindukan Mama kandung anda, saya pun juga. Emm Tuan ..." lagi-lagi Amanda menatap ke arah Evan.


"Jika nanti saya menjadi isteri anda itu berarti aku menjadi anak Mama Melina juga kan?"


"Eh?"


"Izinkan selama satu tahun saja sebelum anda menceraikan saya, saya ingin sering berkunjung ke sana."


Kerutan yang ada di dahi Evan bertambah. Ia menatap dalam-dalam Amanda yang memandangnya dengan tatapan yang penuh dengan harap. Baru pertama kali Evan memandang wajah polos, lugu dan jujur seperti ini setelah sekian lama.


"Emm, ya terserah kau saja."


Sesaat setelah itu senyuman Amanda mengembang dengan sangat lebar. Ada tawa kecil yang terselip di sana hingga membuat Evan sedikit terpana akan tawa itu. Sebuah senyuman yang baru pertama kali Evan lihat selama ini dari perempuan ini.


Lesung pipitnya begitu ketara ...


Senyumannya tulus memancarkan kebahagiaan.


"Terima kasih, Tuan."


"Cantik ..."


"Eh?" Amanda mengernyit.


"Ah, tidak. Bukan apa-apa." Sial! Evan keceplosan.


"Cepat pergi. Katamu kau harus membereskan baju-bajuku sesuai warna." Ucap Evan gelagapan.


"Emm, ya. Baik Tuan."


***