
Amanda meringsut mundur ke belakang ketika melihat beberapa orang berseragam hitam langsung masuk ke dalam kamar hotel.
"M-mau apa kalian?"
"Maaf nona, kami sudah diperintahkan oleh tuan Evan untuk membawa anda ke tempat tinggalnya."
"Eh?"
"T-tapi ..."
"Mulai sekarang anda calon isterinya dan beliau berpesan bahwa anda dilarang keras untuk menolak apa pun perintah tuan Evan kalau anda masih tetap ingin hidup."
"A-apa?"
***
Amanda mulai ketakutan saat ia sudah berada di dalam mobil dengan penjagaan yang sangat ketat. Ia duduk di mobil bagian belakang sementara dua kursi depannya sudah diisi oleh kedua pengawal itu.
Harap-harap cemas Amanda menunggu, masih mengenakan dress yang ia kenakan tadi pagi, Amanda pada akhirnya turun ketika pengawal itu memberhentikan mobilnya di sebuah gedung mewah.
"Ini apartemen tuan Evan. Mulai sekarang anda akan tinggal di sini. Mari saya antarkan ..."
"Eh?"
Tidak ada kata lain selain menurut. Amanda mau tidak mau berjalan mengekor kedua pengawal itu dan telah sampai di depan pintu 1665.
Pengawal itu mengetok pintu, dan sesaat setelah itu pintu terbuka dengan sendirinya dan pengawal itu segera menyuruh Amanda untuk masuk.
"T-tapi, kalian mau ke mana?"
"Anda harus masuk ke dalam sana seorang diri, nona."
Jantung Amanda langsung berdetak dengan sangat kencang. Ia menelan salivanya pasrah karena tiba-tiba ia mulai ketakutan dengan apa yang ada di depannya.
Dan setelah ia masuk, suasana gelap langsung menyelimuti ruangan ini hingga Amanda merasa sangat sesak. Hanya ada sebuah siluet bayangan yang berdiri membelakanginya di depan jendela dan sedang menyedekapkan tangannya.
Amanda meremas kedua tangannya. Entah kenapa ia mulai merasa takut.
"Evan ..."
Amanda tidak tahu mempunyai keberanian dari mana saat ia menyerukan nama itu. Di malam yang gelap dan mencekam tiba-tiba Evan berbalik dan menatap ke arah dirinya dengan tatapan tajam.
"Kau ... apa kau sekarang sudah puas menjebakku?"
Melihat tatapan itu Amanda spontan mundur ke arah belakang.
"Maaf, sudah aku katakan kalau aku tidak pernah berniat untuk menjebakmu."
"Ya, tapi pada akhirnya aku terjebak olehmu bukan?"
Amanda semakin ketakutan, ia mulai mundur ke arah belakang tapi sayangnya Evan mengikutinya.
"Aku sudah berencana untuk mengumumkan bahwa kau bukan kekasihku, tapi sayang ... mantan pacarku mempunyai niatan buruk. Setelah aku mengatakan bahwa kau bukan calon isteriku, dia akan naik ke atas panggung dan mengumumkan bahwa dia lah calon isteriku sesungguhnya ..."
Mata Amanda melebar. Ia mengerutkan kening seirama ia mulai mengingat-ingat kejadian tadi pagi.
Ya, Amanda ingat perempuan itu ... perempuan yang ketika Evan memegang mikrofon dia bersiap untuk melangkah masuk ke atas panggung.
"J-jadi ..."
"Ya, aku kembali terjebak olehmu lagi. Demi menghindari Monika aku malah memperkenalkanmu sebagai calon isteriku."
Amanda semakin meremas tangannya.
"Jadi ... jangan pernah mengira bahwa aku menolongmu! Jangan terlalu percaya diri bahwa aku menyukaimu! Aku sengaja memberi tahumu di awal agar kau juga tahu diri! Kau tidak lebih dari sekedar sebuah benteng yang kugunakan untuk pertahanan diri."
Walau Amanda sudah tahu itu, hatinya masih sakit kala mendengar semua itu dari mulut Evan.
"Ma-maaf."
"Jadi seharusnya kau harus tahu di mana letak posisimu di sini. Walau kau adalah calon isteriku, kau bukan siapa-siapa. Aku akan menceraikanmu di saat waktu yang sudah tepat. Jadi jangan harap kau bisa melunjak dan mengharapkan lebih. Bagiku, kau tidak lebih dari sekedar permainan."
"Sekarang, lebih baik kau bersihkan apartemen ini. Ingat! Walau kau calon isteriku, tapi aku akan menganggapmu sebagai pembantu."
Amanda menelan salivanya pasrah. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang sangat berantakan, tapi kemudian cepat-cepat ia bergegas mengambil sapu untuk membersihkan semuanya tepat di tengah malam seperti ini.
Evan sedikit terhenyak ketika Amanda menurut saja apa yang baru saja dikatakan oleh dirinya.
Perempuan ini benar-benar ...!
Astaga?! Dia memerankan perannya sebagai pembantu dengan sangat baik!
Hanya ada satu alasan yang membuat Amanda menjadi seperti ini. Walau pun tadi Evan mengatakan bahwa laki-laki itu tidak mempunyai niat sedikit pun untuk menolongnya dari Paman dan Bibi, tapi menurut Amanda, tetap saja ia tertolong dan benar-benar membuatnya sangat bersyukur.
Lalu menjadi pembantu ...? Sepertinya itu memang pantas bagi dirinya karena Amanda juga harus sadar diri.
Kini Evan melihat Amanda yang meraih pel dan mulai mengepel seluruh lantai, tiba-tiba matanya terganggu oleh pemandangan sebuah dress yang sejak tadi pagi tidak ia ganti.
"Stop! Sebaiknya sekarang kau mandi dan ganti pakaian. Mataku sakit karena kau masih menggunakan baju yang sama sejak tadi pagi. Aku sudah menyuruh para pengawal untuk membawakanmu banyak pakaian. Silahkan kau ke kamar dan ganti pakaianmu."
"Emm, ya. Baik Evan."
"Hah? Berani-beraninya kau memanggilku dengan sebutan itu."
Amanda semakin mati kutu.
"Panggil aku Tuan selama kita hanya berdua saja."
"Ah, maaf. Baik Tuan."
Evan semakin mengernyit.
Perempuan ini ternyata jauh lebih penurut dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. Membuat Evan berpikir bahwa dia bisa memanfaatkan perempuan ini lebih jauh lagi.
Ketika Amanda berjalan masuk ke dalam kamar mandi, sungguh ia benar-benar bersyukur bahwa Evan telah memperlakukannya seperti ini. Walau pun Evan agak kasar, tapi menurutnya Evan satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia setelah kepergian orang tuanya. Evan bukan laki-laki kurang ajar dan mesum seperti pria-pria lainnya, membuat Amanda sedikit tenang walau hanya sesaat.
Sabar Amanda ... sabar ... Paling tidak setelah kau menikah dengan Evan, Paman dan Bibi sementara tidak akan mengganggumu lagi, dan setelah nanti tiba waktunya bercerai, kau harus mencari cara lain agar bisa bebas sebebas-bebasnya dari Paman dan Bibi.
Begitu pikir Amanda ketika air mulai mengalir di sela-sela rambutnya. Dan setelah ia selesai mandi, ia segera berganti pakaian dan kembali melanjutkan pekerjaan mengepel lantai.
Dan ternyata Evan masih berada di sana. Duduk di sebuah sofa besar sambil menyicipi kopinya.
"Aku harus melanjutkan bersih-bersih ..."
Evan diam saja, ia tidak tertarik.
Tapi ketika Amanda berjalan ke depan dan membersihkan lantai tepat di depan Evan, mata Evan sedikit terbuka ketika melihat penampakan Amanda.
Rambut yang setengah basah, tubuh yang membentuk badan sempurna di tshirtnya. Juga kaki jenjangnya entah kenapa mengusik pertahanan Evan.
"Amanda ..."
Amanda mendongak.
"Eh, ya Tuan."
"Apa kau benar-benar masih perawan?"
"Eh?"
"Walau kau bertindak sebagai pembantu setelah kau menjadi isteriku, kau tetap menjadi isteri sahku bukan?"
"Eh?" Amanda semakin mengerut tidak mengerti.
"Lebih baik kau bersiap, karena sepertinya ... kau tetap harus melayaniku dalam urusan ranjang ... karena tubuhmu sepertinya boleh juga," ucap Evan sambil menatap ke arah Amanda dari atas sampai bawah.
"A-apa?!" Amanda membelalakkan matanya lebar-lebar.
***