VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 9. Sarang Mafia?



Setelah lepas dari pegangan pemimpin tim, untuk sesaat Shadow agak takut. Dia meluncur deras menuju permukaan tanah. Hingga parasut akhirnya terbuka dengan sempurna.


Meskipun sudah bisa terbang dengan benar, tak ayal wajahnya sangat tegang. Shadow sangat takut jika kali ini dia jatuh di permukaan yang keras. Maka itu adalah akhir hidupnya.


Satu persatu anggota tim sudah mendarat di titik tujuan. Tinggal Shadow dan pimpinan timnya yang memang terjun terakhir. Falcon mengamati sambil tersenyum puas. Mereka membenahi parasut dan menyembunyikannya di semak-semak, lalu menunggu kedua orang itu yang sudah dekat ke tanah.


Shadow jatuh menjejak tanah sambil bergulingan. Dalam sekejap parasut menutupi tubuhnya. Pemimpin tim mereka akhirnya juga mendarat dengan selamat. Beberapa orang membantu menyingkirkan parasut yang menutupi Shadow. Dengan cepat semua sudah rapi dan bersembunyi.


Falcon memberi pengarahan dengan membentang peta di tanah. Memeriksa lokasi tim dengan gps. Menemukan bahwa target operasi kali ini masih lima kilo meter lagi di balik bukit yang menjulang di hadapan mereka.


Falcon memberi kode dengan tangannya agar tim itu bergerak mengikuti. Kali ini Falcon sendiri yang akan memimpin operasi. Pemimpin tim Shadow akan menjadi backup utama, pengalih perhatian dan pelindung agar tim Falcon bisa mendekati target tanpa diketahui dan aman.


Semua bergerak sesuai dengan tugas masing-masing. Berjalan mengendap-endap, menghindari pandangan penduduk sekitar.


“Kalian yakin sarang penculik itu ada di dekat pemukiman penduduk?" bisik Shadow pada salah seorang anggota timnya.


“Apa menurutmu Falcon akan salah mencari info?” Orang itu bertanya balik.


Shadow tak bisa menjawab pertanyaan itu. Jadi dia memilih diam. Hanya sedikit khawatir, jika ada penduduk sekitar yang terluka saat terjadi baku tembak.


Satu jam berjalan, mereka sudah berada di atas bukit. Bersembunyi di balik pepohonan rimbun hutan kecil.  Mereka mengamati kompleks rumah kayu di bawah sana. Banyak sekali pasukan yang hilir mudik dengan memegang senapan di tangan.


“Kenapa aku merasa kita seperti sedang mendatangi sarang pembuatan narkoba?” bisik Falcon pada rekan di sebelahnya.


“Sarang te-ro-ris,” bisik temannya serius.


Shadow terkejut setengah mati. “Falcon sialan!” umpatnya dalam hati. “Aku belum pernah turun ke lapangan, tapi langsung


diikutkan dalam penyerbuan seperti ini?”


Di sebelah, rekannya tersenyum-senyum geli melihat ekspresi geram wanita cantik di sebelahnya.


“Makanya jangan gegabah. Selalu ikuti instruksi, biar kitasemua selamat!” nasehatnya.


Shadow mengangguk patuh. Dia masih ingin hidup dan menemui Moreno. Tak boleh mati di sini.


“Falcon sudah bergerak turun.” Temannya berbisik.


Pimpinan tim  Shadow bergerak ke arah sebaliknya. Lima orang dibelakangnya termasuk Shadow, mengikuti dengan kewaspadaan tinggi.


“Hati-hati jebakan!” Seorang temannya menarik Shadow dari sebuah tali jebakan yang dipasang oleh komplotan te-r*-ris itu.


Wajah Shadow memucat. “Ya Tuhan. Aku bisa mati dalam sekejap, tadi,” jeritnya dalam hati. Dia makin waspada di langkah berikutnya. Langkah tim itu makin jauh memutari lokasi target.


Tak lama terdengar suara tembakan berbalasan dari arah masuknya Falcon. “Ah, sial!”


Pimpinan tim berhenti. Dia merunduk, membidikkan senapannya ke arah kompleks di bawah sana. Sekarang anggota tim Shadow juga sudah bersembunyi dan mencari tempat strategis untuk melumpuhkan musuh dari jarak jauh.


Lagi-lagi Shadow terkejut. Sekarang dia mengerti kenapa timnya disebut tim backup. Teman-temannya adalah para sniper.


“Tembak siapapun yang


membahayakan nyawa mereka!” perintah pimpinan tim.


“Siap!” jawab empat anggotanya.


Shadow sendiri, tanpa keahlian menembak jitu, maka dia harus menjadi pelindung bagi anggota timnya. Maka dia melihat berkeliling beberapa kali, mewaspadai datangnya musuh dari belakang.


Dan seperti dugaannya, setelah riuhnya suara tembakan yang berbalasan, maka anggota kelompok te-r*-ris yang berada di luar kompleks, berlarian kembali untuk membantu.


Dan … mereka menemukan anggota tim Shadow yang sedang menembaki teman-temannya tanpa diketahui.


Shadow menembak tiga orang yang datang ke arah mereka dengan senapan mesin. Sungguh tak mudah bagi anak baru, menghadapi serangan mendadak seperti itu. Shadow kewalahan saat empat orang lainnya datang dan menyerbu dengan marah, melihat tiga temannya tergeletak bersimbah darah.


Maka tempat itu menjadi titik pertempuran kedua. Dan lebih kacau, karena Shadow menghadapi musuh sendirian.


“Kau! Bantu dia membereskan mereka!” perintah pimpinan tim pada pria di sebelahnya.


“Siap!” pria itu berbalik dan langsung memberondong empat orang yang melompat marah ke arah persembunyian mereka.


Shadow terkejut dengan efek dari berondongan senjata yang dimuntahkan rekannya. Para penyerang itu langsung jatuh ke tanah. Tempat itu kembali sunyi. Pria itu kembali berbalik, untuk menembaki musuh yang mengganggu misi Falcon!


“Mereka hebat sekali!”


Shadow masih terdiam. Melihat bagaimana cepatnya pria tadi menembaki musuh. “Aku harus bisa seperti dia!” gumamnya dalam hati.


Dengan tekad kuat, digenggamnya senjata di tangan lebih kuat dari sebelumnya.


Di bawah sana, Falcon berhasil lolos dari kepungan musuh, akibat bidikan tepat dari tim Shadow. Orang-orang itu jatuh satu per satu. Anak buah Falcon membereskan sisanya.


Dengan keyakinan tinggi, sambil melihat sesuatu di tangannya, Falcon menerobos masuk ke sebuah bangunan batu yang ada di tengah kompleks itu. Seorang anggota tim, menempel ketat Falcon, untuk menjaganya dari serangan gelap di arah belakang.


“Itu dia!”


Falcon menemukan sandera yang menjadi tugas utama mereka. Seorang gadis yang diikat di sebuah kursi, di tengah-tengah ruangan.


Falcon berhenti di depan pintu. Gadis itu melihatnya dengan ngeri dan matanya basah, Dia jelas sangat ketakutan. Namun tak bisa mengatakan apapun, sebab mulutnya ditutup dengan kain.


Falcon melihat ke kiri dan kanan ruangan kosong itu. Dia tak melihat apapun yang bisa dicurigainya sebagai jebakan. Jadi dirinya melangkah masuk dengan hati-hati.


“Klik!”


Falcon dan bawahannya langsung tertegun mendengar bunyi itu. Mereka saling berpandangan.


“Ranjau!”


*****