
Di kamarnya, Shadow memikirkan ucapan Frisia yang mabuk tadi.
“Benar-benar keluarga Von Amstel ini sangat gila! Kekasih putri penguasa kota juga berani mereka sandera hanya agar Hugo bisa menikahinya? Apa lagi aku yang hanya gadis panti asuuhan. Tak heran dia sanggup membuang ibu dari putranya ke laut!” geram Shadow.
“Sepertinya aku aku harus menjalin kerjasama dengan Frisia,” pikir Shadow lagi.
“Tapi aku masih belum bisa mendekati Hugo yang selalu berada dalam pantauan pengawalnya. Bagaimana cara mendekatinya dengan aman, agar aku bisa membawa Moreno lari tanpa halangan.”
***
Sarapan pagi itu, bau alkohol basi masih menguar dari mulut Frisia saat dia menguap lebar. Membuat suasana makan jadi sangat tidak nyaman. Hugo berwajah gelap karenanya. Matanya menatap Frisia tajam. Tapi istrinya itu bersikap tak peduli.
Hugo langsung pergi setelah sarapannya selesai. Dia membanting serbet ke atas meja karena sangat kesal. Moreno menjadi terkejut, tapi dibujuk Shadow dengan cepat. Dibawanya putranya menyingkir dari sana, agar tidak perlu mendengar keributan suami istri yang sedang saling memancing emosi.
Lennox kembali datang siang hari, tepat setelah Moreno tidur siang. Dia menarik Shadow ke halaman. “Aku ingin membicarakan sesuatu,” katanya serius.
Shadow yang ditarik hanya mengikuti. “Ada apa?” tanyanya dengan napas tersengal.
“Maukah kau jadi istriku?” Lennox melamar Shadow dengan berlutut. Dia menunjukkan sebuah cincin sederhana dengan mata berkilauan.
Shadow terkejut dengan keseriusan pria itu. Tapi dia tak pernah terpikir untuk mencari pria Von Amstel lainnya sebagai pengganti Hugo.
“Aku … aku tidka bisa, Tuan. Aku hanya seorang pengasuh anak.” Shadow menolak Halus.
“Lagi pula, melihat suasana rumah tangga di sini, aku jadi merasa tidak ingin menikah saja!” tambah Shadow.
“Itu karena mereka tidak saling mencintai. Pernikahan mereka hanya untuk bisnis semata! Berbeda denganku yang bukan ahli waris keluarga. Aku sedikit bebas untuk memilih pasangan hidup!” jelas Lennox, untuk meyakinkan Shadow.
“Apa Anda mencintaiku?” tanya Shadow denagn wajah keheranan.
“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu!” kata Lennox lagi.
“Aku sudah memikirkan hal ini masak-masak. Aku tidak sanggup lagi berjauhan denganmu. Rasanya seperti gila melihatmu berada di sekitar Hugo!” kesal Lennox.
Shadow tertawa. “Tentu saja aku akan berada di sekitarnya. Karena aku mengasuh putranya,” kata Shadow geli.
“Kalau begitu, mari menikah dan punya anak sendiri. Kau bisa mengasuh dan mengurusnya selama yang kau mau!” desak Lennox.
“Moreno juga putraku. Itu sebabnya harus aku yang mengurusnya!” kata Shodaw dalam hati. Dia membeku d tempatnya sejenak.
“Shadow, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku---”
“Tuan, biar kupikirkan dulu,” kata Shadow akhirnya. Dia mengatakan itu bukan karena benar-benar akan mempertimbangkan lamaran Lennox, tapi tadi dia terpikir sesuatu. Mungkin dengan mendekati Lennox, dia bisa lebih dekat ke tujuan awal dia datang ke rumah ini.
Lennox menjadi gembira setelah mendengar Shadow akan mempertimbangkan lamarannya.
“Sekarang ini aku belum mencintaimu. Aku … aku kira Anda seperti pria bangsawan lain yang hanya bercanda untuk menggoda para gadis saja,” jelas Shadow akkhirnya.
“Ah … aku tahu. Aku tahu kalau lamaranku mengejutkanmu. Kau benar, kita bahkan belum saling memahami. Baiklah, aku beri kau waktu untuk mempercayai keseriusanku,” ujar Lennox dengan wajah berseri-seri.
“Bagaimana kalau kau kenakan cincin ini sekarang?” tanya Lennox mendesak.
“Tidak! Itu cincin lamaran. Aku belum bisa menerimanya,” tolak Shadow.
“Ah, nanti untuk melamarmu, aku belikan cincin yang lebih bagus lagi dari ini,” bujuk Lennox tak berputus asa.
“Anggap ini cincin pertemanan saja, oke?” kata Lennox lagi. Dia menarik tangan Shadow untuk disematkan cincin.
“Tapi ini terlalu mahal!” sanggah Shadow.
Lennox mengusap sejenak telapak tangan Shadow yang kapalan. Dia menatap gadis itu tak mengerti. “Kenapa tanganmu seperti ini?”
“Karena sebelum bekerja di sini, Saya mengerjakan tugas apapun untuk bisa hidup. Menjadi koki, Memotong kayu bakar, atau bahkan mencari ikan di laut!” kata Shadow jujur. Dia sama sekali tidak berbohong. Seperti itulah yang dialaminya selama di pulau pelatihan milik Chester.
“Hah! Mengerikan sekali. Bagaimana ada orang yang menyerahkan pekerjaan kasar pada seorang gadis cantik?” gerutu Lennox. Shadow hanya tersenyum padanya.
“Mulai sekarang kau tak perlu bekerja kasar lagi. Nanti, setelah menikah denganku, kau akan menjadi Nyonya Rumah yang sangat dihormati. KU akan memberimu cukup pelayan yang bisa mengerjakan semua pekerjaan kasar yang kau sebutkan tadi!” kata Lennox gemas.
“terima kasih, Tuan,” Senyum Shadow kembali mengembang, mendengar janji Lennox.
Mereka dudukdan berbincang selama beberapa waktu di sana. Kemudian Shadow masuk ke rumah dan kembali ke kamar Moreno. Sudah waktunya bagi putranya itu untuk bangun.
Lennox pergi mencari Hugo dengan berseri-seri. “Ah, di situ kau rupanya,” sapa Lennox saat melihat sepupunya itu duduk bekerja di ruang baca.
“Ada apa?” tanya Hugo berbasa-basi.
“Aku melamar Shadow!” kata Lennox.
Hugo terbatuk-batuk mendengarnya. “Apa katamu?” tanya Hugo. Dia ingin memperjelas pendengarannya tadi.
“Aku melamarnya!” jawab Lennox sekali lagi.
Kedua mata Hugo membesar hingga dahinya yang biasanyalicin, jadi sedikit mengerut. “Apa jawabannya?” tanya Hugo penasaran.
“Dia bilang, dia tak menyangka aku serius. Jadi, minta waktu untuk memikirkannya,” kata Lennox dengan wajah berseri-seri.
“Hahahaa ….” Hugo tertawa keras mengejek Lennox.
“Kenapa Kau tertawa?” tanya Lennox tersinggung.
“Tidakkah Kau tahu arti perkataan itu? Artinya dia tidak mencintaimu!” jelas Hugo.
“Aku tahu. Dan aku memberinya waktu untuk mengerti bahwa aku serius mencintainya. Kuharap dia bisa melihat ketulusanku. Soal cinta, adalah hal kedua. Kau saja bisa menikah dua kali tanpa cinta! Bahkan dengan paksaan dan ancaman!” lennox berkata tajam.
“Hati-hati dengan ucapanmu!” tegur Hugo.
“Oh, ayolah … aku sepupumu. Apa kau kira kami tidak mengetahui bagaimana kau menikahi dua wanita yang jadi istrimu itu? Bahkan saat kau katakan Jean jatuh ke laut, aku sama sekali tidak mempercayainya!” balas Lennox.
Hugo terdiam dengan wajah
memerah. Rahangnya gemeletuk menahan emosi.
“Dan aku tahu, bahaya bagi Shadow untuk berada di sekitarmu! Aku tahu seleramu pada para gadis sederhana seperti Jean dan Shadow. Aku tak akan membiarkanmu merebut cintaku!” ketus Lennox. Dia pergi dari sana tanpa mempedulikan Hugo yang sangat kesal.
Hugo masih terdiam di mejanya. “Apakah semua orang tidak mempercayai ceritaku tentan gkematian Jean?” gumamnya. Dia menangkup kepala di tangannya dan menunduk di meja.
Hugo menjadi sedikit cemas. Khawatir jika ada ornag lain yang mengetahui kebenaran pembunuhan Jean malam itu. Yang tahu hanyalah pilot helikopter. Dan dia sudah membereskan pria itu setelah menyuruhnya mencari keberadaan mayat Jean di seputar pantai dan pulau-pulau.
“Tidak! Tak ada yang tahu hal itu. Bahkan jasad Jean aku kuburkan sendiri di sebelah si pilot!” desisnya mencoba menenangkan diri.
“Lennox dan keluarga lain hanya menebak-nebak saja. Tapi itu bisa sangat berbahaya suatu hari nanti. Bagaimana kalau Lennox dalam keadaan mabuk dan mengatakan hal rahasia itu.}
Begitulah pemikiran Hugo yang berkecamuk sore itu. Dia merasa harus memperketat pengawasan pada sepupunya sendiri. Dia membuat rencana-rencana untuk menyingkirkan Lennox dari beberapa pertemuan penting keluarga, sebagai peringatan untuk kelancangannya tadi.
“Jangan menantangku, Lennox!”
******