VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 55. Alasan Hugo



Sesaat Venus kembali ke rumah, ponselnya tak berhenti bergetar. Puluhan pesan tertunda, masuk sekaligus. Hampir semua dari Lennox yang mencarinya dengan rasa bersalah. Dan satu pesan dari Frisia yang mengundangnya ke rumah minggu lalu, karena Moreno tak henti menangis mencari Venus.


Rasanya Venus ingin langsung melompat dan pergi ke bukit Springhills saat itu juga. Tapi dia sangat kelelahan. Dan Venus sudah bertekad, kedatangan kali berikutnya adalah membuat perhitungan dengan Hugo! Dia tak ingin berbasa-basi lagi.


Meskipun seperti itu, pesan dari kedua orang itu tetap dibalasnya. “Aku baru pulang dari tugasku bersama ayah. Masih lelah dan ingin istirahat!”


Dua hari istirahat dianggap cukup bagi Venus. Siang tadi dia mendapat undangan makan malam dari Frisia. Ditunjukkannya pesan itu pada Chester.


“Apa kau mau ke sana sekedar makan malam saja?” tanya Chester kritis.


“Tidak. Aku sudah memutuskan akan menyelsaikan semua sengketa antara aku dengannya malam ini!” kata Venus.


“Apa yang kau butuhkan?” tanya Chester.


“Jemputan helikopter jika pekerjaanku sudah selesai!” katanya tegas.


“Baik! Aku akan siapkan kendaraanmu di landasan ini dan kau bisa panggil kapan saja!” Chester mengangguk. Sekarang dia sudah yakin bahwa Venus mampu menaklukkan Hugo.


Venus mengangguk dan memmbalas pesan Frisia, bahwa dia menerima undangan makan malam itu.


Malam baru turun ketika Venus tiba di depan rumah Hugo. Cat putih rumah itu terlihat nyata di bawah cahaya lampu.


“Akhirnya kau sampai juga,” kata Frisia menyambutnya.


Venus tersenyum tipis dan mengambil duduk di sebelah wanita itu. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya.


“Semakin jengkel!” sahut Frisia.


“Shadow!” Moreno berlari mendapatkan wanita itu dan langsung masuk ke dalam pelukannya.


“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, apa kau mau?” tanya Venus.


“Tentu saja. Kapan? Kau harus tanya pada ayah!” kata anak kecil itu.


“Ya, akan kutanyakan padanya nanti,” angguk Venus dengan yakin.


Frisia menatapnya dengan heran. “Apa kau tidak mimpi terlalu tinggi?”


“Setiap kita harus punya mimpi dan tujuan untuk dicapai. Tanpa itu, hidup hanyalah sia-sia!” jawab Venus.


Seorang pelayan datang dan mengatakan kalau makan malam sudah siap. Frisia berdiri dari  duduknya. “Sepertinya hanya kita saja yang makan malam. Tuan pemilik rumh ini, belum tiba dan masih akan lama.”


Venus mengikuti Frisia sambil membimbing putranya. Mereka makan malam dengan suasana santai. Sesuatu yang sulit tercipta jika ada Hugo di sana. Arca Es itu mampu memekukan suasana hangat dengan kata-katanya.


Venus tidak mengharapkan hal itu terjadi. Dia sangat ingin bertemu Hugo dan menyelesaikan dendamnya malam itu juga. Jadi dia menerima tawaran Frisia untuk menemaninya minum setelah menidurkan Moreno di kamar.


Seperti masa lalu, dia kembali mendengarkan keluhan gadis itu. Keliuhan yang sama dan terasa membosankan, karena baik Frisia maupun ayahnya tidak berani bertindak untuk menghentikan penderitaan mereka.


Venus berdiri ketika Frisia mulai mabuk berat. Dia menyuruh pelayan untuk membawa nyonya mudanya ke dalam kamar. Venus hendak pergi dan menunda rencananya saat melihat Hugo berjalan masuk. Mereka bertemu di koridor.


Hugo menatapnya dengan pandangan berbeda malam itu. Mulutnya bau minuman. Venus tidak pernah tahu kalau pria itu suka minum hingga mabuk.


“Ikut denganku!” Hugo mencekal tangan Venus dan menariknya ke dalam rumah.


“Apa yang kau lakukan!” sentak Venus terkejut.


“Aku menginginkanmu!” kata Hugo tak peduli. Tangannya segera membopong tubuh Venus di pundak.


Semula gadis itu ingin memukul Hugo dan menjatuhkannya. Tapi kemudian dia ingat rencana semula. Bukankah ini hal yang bagus? Jadi dia hanya berpura-pura bergerak dan berontak.


Sekarang dia ada di dalam kamar Hugo. Kamar yang bahkan belum pernah didatanginya saat dia tinggal di rumah itu.


Tubuhnya diletakkan di atas pembaringan dengan kasar, membuat Venus benar-benar marah. Tapi dia menunggu waktu, dimana Hugo kehilangan kewaspadaan.


“Apa yang kau lakukan!” Venus menahan tangan pria itu yang dengan tak sabar melepaskan kancing demi kancing blus sutranya. Tangannya menepis setiap kali Hugo mencoba menyentuhnya lebih jauh.


Dan pria yang sudah mabuk itu terlihat marah. “Aku menyukaimu. Apa kau tidak menyadarinya?” kata Hugo parau.


 Diamnya Venus membuat perlindungan atas tubuhnya terbuka. Hugo menciumnya tanpa peduli bahwa itu memuakkan bagi Venus. Dia ingin melawan tapi tak berhasil.


Entah bagaimana, tubuhnya tidak mau mendengar perintah untuk menolak pria itu. Itu seperti masa lalu saat dia menjadi Jean. Gadis itu berontak dalam pikirannya, tapi tubuh Jean tak mau bekerja sama. Venus menangis dalam hati saat pria itu menumpah semua perasaan cintanya.


Setelah Hugo selesai dan tak berdaya di sampingnya, Venus bangkit. Menduduki tubuh pria itu sambil mengacungkan pisau beltinya yang berkilat tajam.


“Beraninya kau melakukan ini padaku!” desis Venus.


“Aku mencintaimu. Sayangnya aku terlambat menyadarinya. Aku akan bertanggung jawab dan menikahimu!” kata Hugo. Tangannya memegang pinggul polos Venus. Mata pria itu sayu, berharap dimengerti.


“Apa kau tahu siapa aku? Aku malaikat mautmu!” kata Venus dengan seluruh kebenciannya.


“Aku akan mencintaimu seperti aku mencintai istriku sebelumnya,” rayu Hugo.


“Cinta? Cinta macam apa yang kau rasa saat mendorongku jatuh ke laut!” pekik Venus tertahan. Pisau belati di tangannya sudah menempel di leher Hugo. Jika pria itu tak berhati-hati, maka lehernya akan langsung terkoyak.


“Apa maksudmu?” Mata Hugo terbuka sepenuhnya sekarang. Dia memperhatikan Venus dalam keremangan cahaya kamar.


“Kau tak perlu penasaran. Biar kukatakan sekarang. Aku Jeannette!” bisik Venus tepat di telinga pria itu. “Aku datang untuk mengambil nyawamu dan membawa putraku pergi dari keluarga Von Amstel!”


“Kau ... Jean?” Tangan gemetar Hugo terangkat ke wajah Venus, ingin menyentuhnya.


“Jean yang baik sudah mati. Kau yang membunuhnya atas nama cinta! Sekarang aku Venus, Aku Shadow! Yang akan membalaskan semua kekejian yang kau lakukan padaku!” Venus menyentakkan tangan Hugo agar tidak menyentuh wajahnya.


Tapi pria itu justru tersenyum. “Syukurlah jika itu kau. Aku tidak bisa melakukan hal seperti tadi selain padamu. Aku mencintaimu Jean, aku merindukanmu!” kata Hugo sepenuh perasaan.


Dan itu membuat Venus makin murka. “Aku akan membunuhmu!” Belati itu digoreskan pada pundak Hugo. Tapi pria itu tak mengelak. Dia diam saja dan membiarkan Venus. Dia bahkan tidak meringis kesakitan.


“Maafkan aku. Setelah kehilanganmu, baru aku menyadari bahwa tindakanku yang mengikuti perintah kakek itu salah. Aku sangat kehilanganmu. Hatiku menolak menikahi Frisia. Tapi perintah kakek tak bisa kutolak,” kata Hugo.


“Aku tak peduli apa alasanmu!” kata Venus kasar. Pisaunya melukai pundak Hugo yang lain. Kali ini lebih dalam dan Hugo meringis karenya.


“Bukankah orang yang menghadapi hukuman mati masih boleh mengatakan sesuatu?” tanyanya menawar  waktu kematiannya.


Venus menatapnya tajam. “Kau pria penuh omong kosong! Kau kira bisa memanggil penjaga untuk menangkapku sementara kau bercerita?”


“Aku sudah lelah. Lebih baik berakhir di tanganmu, dari pada melihat ibuku dibunuh kakek!” kata Hugo dengan suara lelah.


Venus yang ingin mengiris lengan Hugo, menatap mata pria itu mencari kebenaran atas kata-katanya.


“Ibumu?” tanyanya memastikan.


“Ibuku ditahan oleh kakek sejak aku berusia lima tahun. Dijadkan sandera agar ayahku bersedia menikahi wanita bangsawan lain. Tapi ayah menolak. Tak lama ayahku ditemukan tewas bunuh diri. Kemudian aku yang harus menanggung semua konsekuensi perbuatan ayah. Demi menjaga nyawa ibu, aku harus bersedia melakukan apapun perintah kakek!”


Mata Venus membulat tak percaya. “Ibumu masih hidup sekarang?”


“Hemm ....” Pria itu hanya berdehem.


“Sebelum menikahi Frisia, aku melihat ibu terakhir kali. Sekarang tak bisa lagi. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa agar ibuku dibebaskan!”


“Aku tahu aku bersalah padamu. Aku sangat senang kalau kau membawa Moreno pergi. Dia sangat dekat denganmu. Tapi, bisakah kau mengabulkan satu permohonan terakhirku?” Hugo bertanya penuh harap.


“Apakah kau memberiku kelonggaran waktu itu? Aku hanya ingin bisa mengasuh putraku. Tapi kau justru membuangku ke laut!” balas Venus pedas.


“Tolong bebaskan ibuku. Dia juga menahan kekasih Frisia di dalam penjara bawah tanah, di bawah kediamannya!” jelas Hugo tak peduli dengan kemarahan Venus.


“Itu bukan urusanku!” tolak Venus.


“Ya, itu urusanmu jika kau ingin hidup tenang bersama Moreno. Jaga putra kita!” Hugo menggoreskan belati tajam itu ke lehernya. Darah mengucur deras dan Venus mencoba menutupi luka menganga itu dengan panik.


Mata Hugo mulai sayu, tapi bibirnya mengulas senyum. “Aku mencintaimu, Jean. Sangat mencintaimu ....”


*** Sudah mau tamat yaa ***