
“Hei! Bagaimana kalau aku melamar menjadi baby sitter anak itu?” wajah Venus berseri-seri. Dia mendadak mendapatkan ide bagus agar bisa bertemu putranya setiap hari. Adalah anugerah baginya, jika bisa merawat Moreno dengan tangannya sendiri.
Frisia terlihat ragu. “Apa kau yakin bisa merawat seorang anak kecil? Sementara tadi kau mencari pekerjaan sebagai tukang kayu!” tanya Frisia tajam.
“Yeah … bagiku, pekerjaan apapun boleh. Jika ada yang memintaku memotong kayu hari ini, akan kulakukan demi beberapa dollar! Hidupku memang seberat itu. Tapi, aku juga wanita yang berharap bisa melakukan pekerjaan yang lebih nyaman dan jangka panjang.” Venus berargumen.
Frisia tidak langsung merespon permintaan Venus. “Aku harus tanyakan dulu hal ini pada Hugo!” katanya.
“Tentu saja.” Venus setuju. Senyum tak lepas dari wajahnya.
Mereka berbincang hingga petang, sebelum waktunya Venus pulang. Sebab Hugo akan kembali ke rumah. Menurut Frisia, pria itu tak menyukai ada tamu di rumah. Hal itu membuatnya sangat kesepian dan menderita sejak menikah.
Venus mengawasi kediaman Hugo sambil menikmati makan malam di kamarnya. “Kita akan bertemu lagi, Nak,” lirihnya penuh harapan.
Hari-hari selanjutnya, dilalui
Venus dengan kesederhanaan. Dia mendapat pekerjaan paruh waktu menggantikan pelayan di kafe yang biasa didatanginya untuk sarapan. Dengan tulus dan riang dilayaninya semua pengunjung yang datang.
Hingga hari ke lima, Venus
sudah tak sabar dan merasa harapannya sia-sia. Chester sudah kembali dan memanggilnya pulang dari liburannya. Petang itu dia berpamitan pada pria pemilik kafe. Aku akan pergi besok. Jadi, terima kasih sudah membantuku,” kata Venus.
“Kau yang membantuku. Semoga perjalananmu selanjutnya menyenangkan.”
Venus membalas lambaian tangan pria itu dengan muram. Sia-sia usahanya satu minggu itu. Dia harus mencari cara lain lagi untuk masuk ke sana.
Venus sedang meneropong kediaman Hugo. Mencari bayangan putranya yang mungkin bisa dilihatnya terakhir kali sebelum pulang. Ponselnya bergetar. Dengan malas diangkatnya telepon.
“Ya,” jawabnya.
“Hei, aku Frisia. Apakah kau sudah tidur jam segini?” suara wanita itu membuat rasa malas Venus menguap entah kemana.
“Ah, hanya beristirahat setelah lelah berdiri seharian di kafe,” jawab Venus.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya berbasa-basi.
“Apa kau masih tertarik dengan pekerjaan baby sitter itu?” tanya Frisia.
Mata Venus langsung terbuka lebar. “Tentu saja. Berdiri dan berjalan mondar-mandir di kafe seharian sangat melelahkan! Jika ada pekerjaan dimana aku tidak perlu memikirkan sewa kamar lagi, tentu aku akan sangat senang sekali,” ujarnya riang.
“Hei, aku belum bilang kalau kau diterima. Kau sudah senang seperti itu.” Frisia tertawa.
“Oh, kukira aku sudah diterima bekerja.” Suara Venus kembali tak bersemangat.
“Bukan seperti itu. Suamiku adalah yang membuat keputusan di sini. Aku sudah mengatakan padanya bahwa kau melamar menjadi baby sitter putranya. Katanya, dia akan mengujimu dulu sebelum memutuskan apakah kau diterima atau tidak!”
“Tes?’ Venus diam sebentar. “Oke. Kapan aku perlu melakukan tes? Jika masih lusa, maka aku harus menunda pembelian tiket perjalanan malam ini,” kata Venus diplomatis.
“Tiket perjalanan? Apa kau berencana untuk pergi lagi?” tanya Frisia.
“Jika pekerjaan di satu tempat tidak terlalu memuaskan, maka aku akan pindah dan mencari tempat serta pekerjaan lain lagi. Aku berpikir jangka panjang. Setelah musim panas berakhir, akan masuk musim gugur. Aku harus mencari pekerjaan yang setidaknybisa bertahan hingga masuk musim semi. Aku tak ingin kelaparan dan jadi gelandangan di musim dingin!”
Frisia terdiam mendengar penjelasan Venus. Dia tak bisa membayangkan seorang wanita cantik akan harus menjadi gelandangan dan kelaparan di musim dingin. Dia tak pernah memikirkan hal-hal kecil seperti itu, karena hidupnya sangat nyaman di bawah perlindungan ayahnya.
“Shadow, aku … aku tak bisa menjanjikan apapun. Tapi kusarankan kau mencoba dulu bertemu dengan Hugo besok pagi. Semoga dia bersedia menerimamu. Jadi kau bisa punya tempat berteduh hingga musim semi yang akan datang.”
“Terima kasih Baroness. Akan kucoba melakukan yang terbaik besok pagi,” jawab Venus.
“Selamat malam,” balas Venus sebelum sambungan telepon mereka diputuskan.
“Yes!” desis Venus gembira. “Besok ibu datang, Moreno,” lirihnya bahagia.
Pagi hari, Venus membenahi pakaian dalam tas dan membawanya serta ke kediaman Hugo. Dia akan langsung pulang, jika memang tidak diterima. Venus sudah mengatakan hal itu pada Chester tadi malam. Pria itu tak mungkin menolak rencana Venus, sementara jalan yang dibuatnya tidak juga membuahkan hasil.
“Mari ikuti saya,” seorang pria memimpin jalan menuju ruang kerja Hugo. Venus jadi ingat hari dia dibawa menghadap Hugo waktu itu. Pria ini juga yang mengantarnya ke sana.
“Nona Shadow sudah tiba,” pria itu memberi tahu.
Hugo mengangkat wajahnya dari bacaan di atas meja. Tangannya mengisyaratkan agar Venus duduk di depannya. Jadi dia menurutinya dan duduk dengan patuh.
Tak ada sedikitpun rasa takut di hatinya melihat pria itu lagi. Bayangan Moreno yang menunggu, membuatnya tenang dan berhasil menyembunyikan ekspresi benci jauh di dalam hatinya.
“Siapa namamu?” tanya Hugo.
“Shadow!”
“Nama macam apa itu?” tanyanya heran. Jelas dia tak percaya.
“Aku tidak tahu. Teman-teman memanggilku seperti itu,” jawabnya tegas. Tak ada keraguan sedikitpn dalam nada suaranya. Dia tak akan membiarkan Hugo memiliki kecurigaan walau sedikit.
“Asalmu dari mana? Aku belum pernah melihatmu di kota ini, sebelumnya!” desak Hugo.
“Apakah Anda mengenal semua orang di kota ini? Hebat sekali. Tapi saya memang tidak berasa dari sini. Masa kecil kuhabiskan di Wolfgrove, kemudian menjelajah ke Duskview, Goldpass, Witherburry, Roothallow---”
“Cukup! Apa kau pengelana?” tanya Hugo heran.
“Bisa dibilang seperti itu. Saya hanya homeless dan jobless. Jadi berkeliling mencari peruntungan dan berhenti saat ada pekerjaan yang cukup baik,” jawab Venus.
“Jika tidak cukup bagus, maka saya akan mencari pekerjaan lain. Misal sekarang, bekerja partime di kafe tidak mencukupi bagi saya, karena masih harus memikirkan biaya tempat tinggal. Jadi kemarin saya sudah mengundurkan diri dan akan mencari pekerjaan lain lagi hari ini!” Venus menunjuk tas kecil yang dibawanya serta.
“Jadi kau sudah akan pergi?” tanya Hugo.
“Jika Anda tidak meluluskan saya, Maka saya akan meninggalkan bukit Springhills dan mungkin mencari pekerjaan di kota Oakenvalle.”
“Pernah merawat anak kecil?” tanya Hugo.
“Tidak secara spesifik. Tapi yah, beberapa kali menjadi pengasuh paruh waktu. Apa itu cukup?”
“Kau tidak punya cukup pengalaman untuk mengurus putraku.
“Tapi setidaknya, dengan memiliki baby sitter sendiri, putra anda akan punya seseorang yang fokus mengasuhnya saja, ketimbang dirawat sambil lalu oleh para maids!” balas Venus pedas.
Hugo menatapnya tajam. Dia semakin kesal melihat wanita di depannya justru tersenyum lebar tanpa takut.
“Aku ingin lihat bagaimana pekerjaanmu satu hari ini. Anggap ini percobaan, bagaimana?” tanya Hugo.
“Selama masa percobaan ini dibayar, bagi saya tidak jadi masalah. Akan saya anggap ini sebagai pekerjaan paruh waktu,” angguk Venus dengan tenang.
“Baik. Kau bisa mencobanya.” Hugo menyuruh pria yang terus menunggu itu, untuk membawa Venus pergi.
“Kenapa aku merasa seperti mengenalnya? Tapi di mana?” pikir Hugo sepeninggal Venus.
*****