
Moreno bangun tidur siang dan dan ingin bermain di teras samping yang mengarah ke danau. Venus menemani dengan senang hati. Awalnya bocah kecil itu hanya bermain bola di bak pasir Venus menemaninya dengan gembira. Tawa mereka terdengar hingga ke dalam rumah.
Anak lelaki kecil itu berganti bermain air di kolam, setelah bosan. Venus tetap mengawasinya. Hingga tiba-tiba tubuh kecil itu tiba-tiba bergetar halus. Venus melompat ke kolam rendah dan segera menarik tubuh lemah putranya dari air.
“Moreno!” panggilnya.
Anak itu tak menyahut. Tapi getaran tubuhnya makin kuat. Venus segera tahu bahwa putranya mengalami kejang. Dengan segera keluar dari kolam dan berlari masuk ke dlam rumah.
“Tuan Muda kejang!” teriaknya kencang sambil membaringkan Moreo di sofa. Dimiringkannya tubuh anak itu ke arahnya yang sedang berjongkok di lantai.
“Sayang, ini ibu, Nak. Tenanglah … ibu tidak akan meninggalkanmu lagi, bisiknya di telinga anak itu sambil mengusap-usap punggungnya, menenangkan.
“Ada apa?” para pelayan berlarian mendengar teriakannya dan sampai di sana, melihat tubuh tuan muda mereka masih bergetar beberapa saat.
“Tuan Muda kejang lagi?” bisik-bisik yang lain.
Telinga Venus menangkapnya dengan jelas. Tubuhnya berputar menatap lima pelayan yang terkejut melihat wajahnya yang marah.
“Apa maksud kalian dengan kejang lagi? Seberapa sering dia kejang?” tanyanya marah.
“Sesering dia bermain air setelah kepanasan!” jawab salah satu pelayan.
“Apa? Dan kalian tadi bilang dia suka bermain air!” wajah Venus menggelap.
“Dia memang suka bermain air!” salah satu pelayan menjawab. Venus melotot padanya.
“Ada apa ribut-ribut?” Frisia muncul dengan mata mengantuk.
“Tuan Muda kejang lagi.” Jawaban para pelayan itu seperti paduan suara. Frisia terkejut dan segera menemukan anak tirinya yang lemah, dibaringkan di atas sofa
Venus mendengar keluhan halus putranya, mengabaikan semua pelayan yang pasti akan melemparkan tanggung jawab padanya.
“Ya, Tuhan, syukurlah Kau sudah sadar.” Yang terdengar oleh Venus hanya erangan samar anak lelaki kecil itu sebagai jawaban.
“Ayo, kau harus beristirahat di kamar,” ujarnya sambil mengangkat tubuh mungil itu dengan lembut. Memeluknya di dada dan berjalan ke kamar. Melewati para pelayan yang tidak mengingatkannya pada kemungkinan kejang Moreno yang bisa kambuh kapan saja.
“Kalau kalian hanya ingin menjebakku, tidak akan kupermasalahkan. Tapi jika kalian bercanda dengan
mengabaikan keselamatan seorang anak kecil, Aku tidak suka. Ingat ini, jika terjadi sesuatu padanya, karena candaan kalian. Aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup!”
Tatapan Venus yang mematikan, membuat semua pelayan itu merasakan takut tanpa sadar. Bahkan Frisia bisa merasakan tengkuknya meremang dengan ancaman Venus. Itu ancaman yang serius. Hingga dia berdiri di tempatnya dan melihat saja Venus berlalu sambil menggendong Moreno yang terpejam di pundak Venus.
“Nyonya, dia mengancam kami,” adu para pelayan.
“Apa yang kalian katakan padanya sebelum ini?” tanya Frisia.
“Tidak ada. Kami mendengar dia berteriak dan mengatakan Tuan Muda kejang,” jawab mereka.
“Kalian tahu Moreno kerap kejang. Dan Hugo sudah mengingatkan pada kalian apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya di hari seterik ini. Tubuhnya basah. Artinya, Moreno bermain air, tadi! Apa kalian tidak mengatakan larangan Hugo?”
Para pelayan itu menunduk. Frisia menjadi marah pada para pelayan itu. Sekarang dia mengerti kenapa Venus mengeluarkan ancaman tadi.
“Shadow benar. Jika sampai terjadi hal buruk pada Moreno, bukan hanya dia yang akan membalas kalian. Hugo juga akan membalas kalian dengan cara lebih mengerikan!”
Frisia pergi menyusul Venus ke kamar Moreno. Anak itu sudah hampir rapi sekarang. Venus mengelap tubuhnya dengan air hangat dan memakaikan celana yang kerisng dan bersih.
Saat dia kembali ke kamar, Moreno sudah rapi dan terbaring di bawah selimut. “Apa sudah nyaman? Jika kau butuh sesuatu, minta pada pengasuhmu. Dia akan menjagamu. Sekarang tidurlah.”
Venus tak menduga, Frisia mampu berkata dengan lembut juga pada putranya. Dia bisa lega, karena rasa benci Frisisa hanya pada Hugo, bukan Moreno.
“Biar kujaga, dia,” kata Venus.
Frisia menoleh Venus dan menyadari bahwa pakaian gadis itu basah semua. “Sebaiknya pergilah mandi dan berganti pakaian lebih dulu. Aku akan menemaninya sampai kau kembali,” perintahnya.
“Terima kasih. Aku tidak akan lama.” Venus langsung keluar dan menuju kamarnya. Saat dia kembali, Moreno sudah tertidur.
“Dengan kejadian ini, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Hugo padamu. Dia sangat melindungi putranya.” Frisia menggeleng kecewa.
“Para pelayan itu tidak mengingatkanku sama sekali, saat aku bertanya di dapur siang tadi,” Venus menjelaskan.
“Seharusnya kau yang berhati-hati. Tak semua orang yang tersenyum itu benar-benar baik hatinya.” Frisia berjalan ke pintu.
Venus diam. Dia menyadari kesalahannya yang percaya begitu saja kata-kata orang lain. Lagi pula, mereka juga tidak membohonginya. Mereka hanya tidak menjawab dengan lengkap pertanyaannya siang tadi.
Venus duduk di tepi tempat tidur dan menatap putranya. “Sayang, jika kali ini ibu tak bisa mempertahankan pekerjaan ini, ibu akan mencari jalan lain agar tetap bersamamu!”
Dipeluknya bocah lelaki itu dengan penuh sayang, menghujani pipi yang kemerahan dengan ciuman. “Jangan lupa, ibu selalu mencintai dan akan menjagamu dari jauh,” bisiknya lirih.
“Ibu selalu merindukanmu. Berbulan-bulan, selalu memimpikan bisa memelukmu lagi,” lirihnya.
Venus tertidur sambil memeluk Moreno. Tak ada yang membangunkan keduanya. Sampai anak lelaki itu bergerak dan merasa aneh mendapat pelukan.
“Kau sudah bangun?” Venus langsung duduk. “Maaf, aku ketiduran sambil menjagamu.” Moreno hanya mengangguk. Bunyi perutnya terdengar halus.
“Akan kubuatkan makan malam. Bisa tunggu sebentar?” Anak itu kembali mengangguk.
Dengan segera Venus bangkit dan berjalan ke dapur. Dia menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
“Ayo makan. Aku juga akan menemanimu makan.”
Dibimbingnya tangankecil Moreno agar turun dari tempat tidurnya dan duduk di kursi kamarnya. Di atas meja sudah ada dua piring makanan hangat.
“Kau bisa makan sendiri, atau perlu kubantu?” tawar Venus.
“Makan sendiri saja.” Anak kecil itu mengambil sendok dan mulai menyuap makanan ke mulutnya.
Baru selesai makan, seorang pelayan pria mengetuk pintu dan memanggil Venus untuk bertemu Hugo.
“Maafkan jika aku tidak terlalu cakap mengurumu. Tetaplah sehat ya. Aku akan selalu mendoakanmu,” ujar Venus sedih. Dia tak yakin akan punya kesempatan melihat tumbuh kembang putranya.
“Apa aku membuatmu kesulitan?”
“Tidak. Itu salahku tidak berhati-hati dan mudah percaya pada orang lain,” geleng Venus.
“Semoga kau bisa mendapat pengasuh yang lebih baik.”
Venus berdiri dan mencium pipi Moreno sekilas. Dia kembali ke kamarnya dan mengambil tas traveling kecil miliknya. Kemudian mengikuti pelayan yang menunggunya. Dia sudah berbesar hati akan kesalahan dan siap menerima keputusan Hugo.