
“Moreno menyukainya. Itu yang paling penting,” gumam Hugo. Dia meninggalkan ruang gym dan bersiap untuk sarapan lalu kerja.
Di menja makan, Frisia makan dengan diam. Suasana ruang makan itu lebih mirip pemakaman, saking sunyinya. Namun dari arah luar terdengar gelak tawa Venus dan Moreno yang sedang bermain.
Rahang Hugo bergemeletukan. Dia sedikit kesal karena Moreno tidak ikut sarapan bersama. Venus telah menyuapinya lebih dulu, dengan makanan yang dia siapkan sendiri.
“Katakan padanya agar mengajari Moreno sarapan bersama!” ketus Hugo.
“Akan kusampaikan,” sahut Frisia tanpa mengajukan pertanyaan.
Hugo menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan meninggalkan Frisia di meja makan. Wanita itumenyelesaikan makannya sendirian. Dia sudah biasa seperti itu. Dan bagi Frisia, jauh lebih menenangkan hatinya saat Hugo ada di luar rumah. Dia merasa takut berada di dekat pria dingin itu.
“Di mana Moreno?” tanya Frisia setelah tidak lagi mendengar suara riuh anak itu.
“Sudah kembali ke kamarnya, Nyonya.” Pelayan pribadinya menjawab.
Frisia mengangguk, kemudian melangkah menuju kamar anak tirinya. Kamar itu terbuka. Frisia bisa melihat kegiatan kedua orang di dalam. Anak lelaki kecil itu sedang bermain kereta api seperti biasa. Shadow menemaninya sambil menyebut nama benda-benda yang ada di situ satu per satu. Menghitung jumlah gerbong dan meminta Moreno mengulangnya kembali. Shadow mengajarkan anak itu mengingat hitungan dengan jari.
Frisia takjub dengan cara Shadow mengajari anak itu. Konsep hitung sudah diajarkannya lebih dulu, sebelum mengetahui bentuk angka satu seperti apa. Shadow akan tertawa tiap kali Moreno salah menghitung.
“Hapalkan saja dulu. Satu ….” Shadow mengangkat jempolnya.
Moreno mengulangi. “Satu!” katanya sambil mengangkat jempol juga.
Shadow terus mengingatkan dan mereka sesekali tertawa lucu jika terjadi kesalahan.
“Dia memang pintar menarik hati anak-anak,” batin Frisia. Wanita itu berbalik dan meninggalkan kamar Moreno. Langkahnya menuju ruang tengah yang biasa digunakannya kalau ingin bersantai.
“Panggilkan kepala pelayan,” perintah Frisia.
“Baik, Nyonya.” Pelayan pribadinya langsung pergi melaksanakan tugas.
Tak lama kemudian, Kepala pelayan rumah Hugo datang kepada Frisia. “Adakah yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya pria paruh baya itu.
“Siapkan kamar untuk Shadow. Dia menjadi pengasuh Tuan Muda Moreno mulai hari ini,” kata Frisia.
“Ya, Nyonya. Tuan juga sudah memerintahkan hal itu pagi tadi,” jawab kepala pelayan.
“Syukurlah.” Tangan Frisia dikibaskan. Kepala pelayan itu mengerti, bahwa dia sudah tak dibutuhkan lagi di situ.
“Saya permisi, Nyonya,” ujarnya. Frisia hanya membalas dengan anggukan kepala. Kemudian kembali asik dengan acara televisi.
Ponsel Shadow berbunyi. Tak butuh waktu lama untuk mengangkatnya. “Ya!” katanya membuka percakapan. Itu panggilan masuk dari Falcon.
“Kenapa kau tidak pulang kemarin?” tanya Chester.
“Aku mendapatkan pekerjaan di sini. Kukira, untuk sementara aku tak bisa ke sana,” sahut Shadow.
“Kau berhasil menjadi pengasuhnya?” Chester tak percaya.
“Tentu saja!” sahut Shadow bangga.
“Jangan menyombong padaku. Kalau cuma pekerjaan itu, aku juga bisa memberinya.” Shadow terkekeh mendengar candaan Chester,
“Baiklah. Aku sedang bekerja sekarang. Telepon aku malam hari, jika perlu!” kata Shadow.
“Oke. Akan kutelepon nanti malam,” kata Chester cepat.
Hari itu adalah hari bahagia baginya. Dia melayani dan bermain dengan putra yang lama dirindukan. Dan Hugo tak akan menolak permintaan putranya sendiri. Bukankah dia patut bersyukur dengan keberuntungan ini?
Moreno lelah dengan aktifitasnya seharian. Tak lama setelah makan malam, Shadow membacakan buku untuk menemaninya tidur. Dan Moreno tertidur sambil memeluknya erat.
“Aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi,” bisik Shadow lirih. Dikecupnya dahi Moreno sebelum turun dari tempat tidur.
Yah, hari ini dia sudah punya kamar sendiri. Dia tak boleh tetap tinggal di kamar putranya. Sepertinya Hugo tidak terlalu mempercayainya untuk dekat dengan anak itu.
Shadow baru selesai mandi saat panggilan Chester masuk. Dengan cepat diangkatnya telepon. “Ya.”
“Kenapa lama sekali mengangkatnya? Aku sampai mengira kau mungkin sudah ketahuan. Aku sudah bersiap untuk menyerbu rumahnya kalau kau tak mengangkat teleponku dalam dua menit berikutnya!” gerutu Chester.
“Hahahaa … ada apa? Apa kau merindukanku?” Shadow membalas gurauan Chester. Mereka tertawa bersama.
Setelah cukup tenang, Chester kembali bicara. “Aku akan kembali ke pulau,” katanya.
“Berapa lama?” tanya Shadow.
“Tergantung pada situasi. Sekarang aku ingin menghilangkan jenuh dengan hidup di alam liar!” jelas Chester.
“Itu berarti akan sangat lama, bukan? Apakah mungkin berbulan-bulan, seperti saat kau merawatku dulu?” Shadow
mulai serius.
“Bagaimana aku menghubungimu nanti?”
“Hanya jika aku mengaktifkan ponsel ini, baru kau bisa menghubungiku. Jadi, jika terjadi hal mendesak, hubungilah Bratt. Jika kau ingin memberiku informasi, katakan juga pada Bratt!” ulang Chester lagi.
“Kenapa aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu?” selidik Shadow.
“Apa yang harus kusembunyikan?” Chester tertawa di ujung telepon.
“Terakhir kau pergi, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” Shadow memberondong Chester dengan pertanyaan.
“Aku baik-baik saja!” Chester menjawab sungguh-sungguh.
“Kapan kau akan pergi?” desak Shadow.
“Besok pagi!” sahut Chester.
“Jangan pergi sampai akau ke sana. Tunggu aku. Aku akan ke sana pagi-pagi sekali!” cegah Shadow.
Lama tak ada jawaban dari seberang. “Falcon!” panggil Shadow.
“Oh, ya. Sebentar. Bratt sedang menggangguku,” kata Chester cepat.
Setelah menunggu lama, akhirnya Chester kembali dengan ponselnya. “Ada apa?” tanyanya.
“Aku akan ke sana pagi sekali. Jangan pergi sebelum aku tiba!” desak Shadow sekali lagi.
“Hemm … ya, baiklah.” Chester menyerah.
“Oke. Sekarang beristirahatlah!” kata Shadow.
“Selamat malam Shadow!” pamit Chester.
Shadow masih memandangi ponselnya yang bercahaya terang. Dia merasa ada yang ditutupi oleh Chester darinya.
“Apa aku harus kembali?” batinnya. Shadow merasa bertanggung jawab atas Chester, karena secara hukum dia adalah putri angkat dari pria itu.
Shadow berpikir keras. Apa mungkin Hugo akan mengijinkan dia pergi sebentar, sementara dia baru dua hari bekerja di sana? Bagaimana kalau pria dingin dan kejam itu memintanya memilih antara pulang, dengan terus bekerja mengasuh Moreno. “Apa yang harus kupilih?” pikirnya.
“Kau menelepon siapa malam-malam begini?”
Shadow terkejut. Frisia sudah berdiri di depan pintu kamar yang lupa dia kunci.
“Oh, ini hanya telepon dari teman,” jawab Shadow cepat.
“Tapi kau mendesak untuk menemuinya besok sebelum dia pergi.” Frisia ternyata menguping pembicaraan Shadow.
Meskipun terkejut, Shadow tetap berusaha tenang dan mencari alasan masuk akal. “Aku sudah lama tak mendengar kabarnya. Dia bilang mau pergi ke tempat lain untuk menenangkan diri. Aku menjadi sangat kawatir. Kau tahu … orang seperti kami kerap mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah!” kata Shadow.
Frisia diam. Sepertinya dia berusaha mencerna alasan yang dibuat Shadow. “Apa kau khawatir kalau dia bunuh diri? Itu sebabnya dia menghubungimu terakhir kali?”
Shadow terkejut dengan bayangan Frisisa. “Apa mungkin Chester akan bunuh diri?” batinnya. Kepala menggeleng mengusir pemikiran itu.
“Tidak?” Frisia menanggapi gelengan kepala Shadow.
“Aku tidak tahu!” Shadow segera menjelaskan. “Itu sebabnya aku ingin tahu apa yang coba dia sembunyikan. Andai aku bisa sedikit membantunya---" Shadow tertunduk. Dia tidak sedang pura-pura cemas. Dia memang sedang menghkawatirkan Chester.
“Kau terlihat sangat dekat dengannya.” Komenmtar Frisia.
“Yah, aku pernah hampir mati. Dan dia yang menyelamatkan nyawaku. Bagaimana aku tidak merasa berhutang budi padanya?” terang Shadow. Frisia menatapnya dengan kasihan.
“Bisakah aku minta ijin pergi sebentar? Temanku ada di kota sekarang.”
“Kau harus bicara denagn Hugo. Aku tak punya kewenangan untuk itu,” tolak Frisia.
“Apakah dia sudah di rumah?” kejar Shadow. Dia sudah bertekad untuk menemui Chester sebentar.
“Dia pergi ke tempat kakeknya di pulau lain. Aku tidak tahu kapan dia akan kembali!”
Shadow jadi terdiam. Dia ingat sekali. Jika Hugo pergi ke sana, maka waktunya sangat tergantung pada acara yang dibuat Damon von Amstel. Mereka juga pernah pulang hampir dini hari! “Bagaimana ini?” batinnya.
“Aku akan menunggunya kembali dan mengatakan ini. Aku tak ingin menyesal seumur hidup, jika terjadi sesuatu padanya, sementara aku tidak mencari tahu dengan benar!” sekarang Shadow sudah bertekad.
“Kalau begitu, tunggulah!” Frisia berjalan keluar dari kamar.
Shadow memandangnya dengan curiga. Curiga jika wanita itu sebenarnya telah lama berdiri dan menguping di sana. “Perempuan yang sangat berbahaya! Dan aku amat sangat ceroboh!” kesalnya.
*****