VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 22. Pesta Para Bangsawan



Ini hari Senin kaka, ditunggu kiriman Vote nya ya. Terima kasih.


*****


“Kau lihat putrinya pergi meninggalkan museum itu?” seseorang yang sedang memegang teropong, bertanya pada pria di sebelahnya yang juga menggunakan teropong ke arah lain.


“Aku mengikutinya!” jawab temannya.


“Chester tidak keluar dari museum. Putrinya pergi sendiri. Tidakkah itu aneh?” gumam pria pertama.


“Hari sepanas ini, Tidak heran putrinya pergi lebih dulu. Dia duduk di kafe dan memesan minuman!” timpal temannya yang mengamati Venus.


“Aku ingin dia dihabisi!” Suara orang ketiga terdengar.


“Meskipun kau penuh dendam, jangan sampai hal itu menutupi pemikiran logismu!” tegur yang lain berani.


“Jangan lupa, kita hanya diminta untuk mengawasi gerak-geriknya. Mencari celah dia berbuat kesalahan. Bukan mengeksekusi!” yang seorang lagi menimpali.


Orang ketiga itu terlihat tak senang dan bersungut-sungut penuh kebencian. Kemudian bergerak pergi.


“Dasar! Dia masih saja tidak menyadari kesalahannya. Dendam pribadi terbawa dalam tugas!” kesal salah seorang dari kedua orang yang mengawasi museum.


Di museum, Chester menyudahi urusannya. Kemudian keluar melalui jalan belakang museum.


*


Sebuah mobil berhenti di depan kafe, tempat Venus duduk minum dengan santai. Dua klakson kecil menarik perhatiannya. Kemudian berdiri dan meninggalkan kafe setelah meletakkan uang pembayar di bawah gelas. Mobil langsung berjalan setelah Venus masuk.


“Apakah kita tidak perlu menunggu ayah?” tanya Venus pada sopir kediaman yang menjemputnya.


“Mobil lain akan menjemput Tuan!” jawab sopir itu. Kemudian kendaraan itu meluncur menuju luar kota, dimana kediaman Moriarty berada. Venus menyimpan pertanyaan di dalam hatinya.


Chester baru kembali malam hari. Venus masih menunggunya di ruang duduk sambil menonton televisi. “Kau akhirnya kembali!” serunya dengan perasaan lega.


“Ah, aku lupa bahwa sekarang ada putriku yang mengkhawatirkan keadaanku.” Chester terlihat penuh penyesalan di matanya. “Maafkan aku.”


“Beberapa urusan harus diselesaikan sehari ini, agar orang-orang itu jera memata-mataiku lagi!” senyumnya merekah.


“Apakah itu artinya semua berakhir dengan baik?” Venus sangat lega.


“Tentu baik bagi kita. Tapi tidak untuk orang-orang yang sudah kelewatan batas!” Chester duduk di kursi besarnya. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman dingin untuknya.


“Anda ingin makan malam, Tuan?” tanya Bratt,kepala pelayan yang mengiringi di belakang.


“Yah, perutku sangat lapar. Apakah putriku sudah makan malam?” tanyanya sambil mengarahkan pandangan pada Venus.


“Aku sudah makan lebih dulu. Siapa yang akan menghabiskan masakan koki jika aku menolak makan?” Venus tersenyum jenaka. Chester tergelak.


“Akan saya siapkan makan malam Anda,” pelayan yang menyajikan minuman, pergi.


“Apakah ada yang perlu saya lakukan lagi, Tuan?” tanya kepala pelayan.


“Tidak ada. Jangan lupa memberi makan dua orang yang kalian tangkap itu!” pesan Chester.


“Baik.” Bratt pergi.


“Bratt menangkap siapa?” tanya Venus heran.


“Dua orang yang sejak pagi mengawasi kediaman ini. Aku sudah melihat mereka sejak pagi. Saat kita pergi, mereka akhirnya dibereskan Bratt. Tak diduga bahwa mereka telah menyebar beberapa orang lain untuk mengawasiku. Yang lainnya kau lihat di depan museum itu!” jelas Chester.


“Siapa mereka?” tanya Venus penasaran.


“Hanya orang-orang pemerintahan yang takut dirinya diusik. Ingin menjebakku, tapi tindakannya justru berbalik melawan dirinya sendiri.


“Apakah dia yang menjadi otak pengintaian itu?” tanya Venus. Chester mengangguk.


“Dia bukan pejabat militer. Kenapa membidikmu?” tanya Venus lagi.


“Kau tak perlu tahu detailnya. Ini urusan orang tua!” balas Chester dengan senyum misterius.


“Hah! Menyesal aku menunggu di sini hingga malam!”


Chester tertawa mendengar kekesalan Venus. “Ayo, temani aku makan!” ajaknya sambil tersenyum. Venus berdiri dan mengikuti ke ruang makan.


“Aku punya hadiah untukmu. Lihatlah!” Chester mendorong sebuah amplop biru ke depan Venus. Lalu menikmati makan malamnya.


Venus membuka amplop itu tanpa ekspresi. Dan kemudian melihat kartu undangan. “Undangan lagi?” Dahinya mengerut, bosan!


“Itu undangan kalangan atas. Hanya bangsawan dan beberapa kalangan atas yang terpilih saja yang bisa hadir.” Chester tersenyum.


Venus terdiam. Dia hanya bergumam, “Akhirnya aku bisa ikut dalam acara bangsawan?”


Chester mengangguk. Setelah menelan makanannya dia berkata. “ Lihat tanggalnya. Masih minggu depan. Kau bisa siapkan pakaian pesta yang pantas. Mereka biasanya mengadakan pesta dansa muda-mudi di acara seperti itu.”


“Aku tak bisa berdansa dan juga tak tertarik!” ketus Venus.


“Sungguh? Sudah dipastikan bahwa Hugo von Amstel dan istrinya juga diundang di acara ini. Dia tak mungkin tidak datang, karena acara diselenggarakan oleh mertuanya sendiri!”


Venus menggeram dengan wajah penuh kebencian. “Hugo!”


“Baik! Aku pergi!” tegas Venus.


“Itu baru putriku!” puji Chester.


Keesokan harinya Chester pergi. Dia ada pekerjaan di luar negeri. Venus merasa bosan dengan kegiatan rumah. Meski sesekali pergi keluar untuk membeli gaun baru, dirinya tidak merasa puas. Rumah itu sepi tanpa Chester. Dia ingin ikut serta dalam tugas, namun ditolak Chester.


Hari pesta akhirnya tiba.


Sejak siang, gedung pertemuan megah di tengah kota sudah dihias dengan cantik. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Baron Holloway, penguasa distrik Oakenvalle yang indah, subur dan sangat kaya. Warga kota sangat antusias menyambut acara tersebut. Sebab kota sudah mulai ramai dikunjungi oleh undangan dari daerah lain. Tingkat hunian hotel meningkat dan pusat perbelanjaan makin semarak. Semua gembira.


Hingga sore, Venus menunggu Chester, namun tidak kunjung pulang. Dia gelisah karena Chester selalu tak bisa dihubungi setiap kali sedang bertugas.


“Anda sebaiknya bersiap untuk acara, Nona,” saran Nancy.


“Aku tak terlalu suka pergi pesta tanpa ayah,” balas Venus. DIa masih belum beranjak dari kolam renang.


“Tuan sudah mengupayakan agar Anda mendapat undangan. Jangan sia-siakan usahanya,” bujuk Nancy bijak.


Venus terdiam. Dia kembali mengingat rencana awal Chester mengajaknya masuk ke kalangan atas. Itu untuk memudahkannya merebut Moreno dan membalas Hugo!


Venus keluar dari kolam. “Baiklah… aku akan bersiap. Minta sopir mengantarku ke sana petang ini,” ujarnya.


“Akan saya sampaikan pesan Anda.” Nancy mengangguk dan membiarkan Venus kembali ke kamarnya sendiri.


Tepat saat gelap turun, Venus keluar dari kamarnya bersama Nancy. Meski pakaiannya tampak sederhana, namun dibuat dengan bahan berkualitas dan mewah. Venus tak menyukai baju pesta yang terlalu menarik perhatian. Terutama saat dia justru sedang ingin memperhatikan orang lain.


“Anda sangat anggun, Nona.” Bratt mengangguk hormat. Dia menyerahkan sebuah amplop putih pada Venus. “Ini diberikan Tuan sebelum pergi. Berpesan agar diserahkan di saat Anda pergi ke pesta malam ini.”


“Terima kasih, Bratt.” Venus menggenggam surat itu dan berjalan keluar rumah.


Bratt mengiringi  Venus hingga mobil dan berpesan pada sopir. “Hati-hati di jalan. Dan tunggu hingga Nona kembali. Ingat! Nona harus kembali bersamamu!” tegasnya.


“Baik!” sopir mengangguk cepat. Dia sangat mengerti tugasnya. Tanpa Tuan, maka dia bukan hanya sopir, tapi juga pengawal Venus. Mobil itu berangkat, diiringi lambaian tangan Nancy yang puas dengan caranya mendandani Venus.


******