VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 47. Rencana Hugo



 Kali ini Hugo benar-benar bersikap dingin pada Lennox. Seorang penjaga dipanggil untuk mengusir Lennox keluar dari rumah. Membuat sepupunya itu justru makin emosi dan berteriak berisik.


Shadow dan Frisia yang duduk dekat teras samping, melihat heran pada penjaga yang menarik paksa Lennox.


“Shadow! Aku mencintaimu!” teriak Lennox tak tahu malu. Wajah Shadow memerah mendengarnya.


“Ya ampun … kau memiliki penggemar di sini,” komentar Frisia tertawa.


“Ada apa dengannya? Apa dia bertengkar dengan suamimu?” Shadow mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku tidak mau tahu urusan mereka. Biarkan saja bertengkar atau saling bunuh sekalian. Biar mereka cepat musnah!” kata Frisia sebal.


“Kalau begitu, kau bisa jadi janda,” goda Shadow lagi sambil tersenyum.


“Itu lebih baik!” Frisia sama sekali tidak terganggu dengan lelucon yang coba dilempar Shadow.


Shadow memandang Frisia dengan serius. “Kadang aku berpikir bahwa kau orang yang sangat dingin dan kejam.”


“Lebih baik orang punya pikiran begitu. Jadi bisa lebih hati-hati lagi terhadapku. Karena aku bisa menelan orang!”  Frisia tertawa kencang dan benar-benar tak peduli jika orang lain mendengar kata-katanya.


Shadow berdiri dari duduk dan berjalan pergi.


“Kenapa kau pergi?” panggil Frisia.


“Kau sedang sensitif. Aku mau istirahat saja. Kita bisa berbincang lagi malam nanti, sambil menikmati semilir angin.” Shadow pun pergi.


Shadow melihat ke kamar Moreno. Putranya itu masih tidur siang. Dia punya waktu setengah jam lagi sebelum kembali beraktifitas.


“Tampaknya situasi antar Lennox dan Hugo makin panas. Frisia juga sudah seperti gunung yang siap untuk meletus. Apakah sudah waktunya menjalankan rencana?” pikir Shadow.


Namun, Shadow masih ragu dan merasa bahwa waktunya belum tepat. Shadow sangat penasaran, apa yang membuat Hugo begitu patuh pada kakeknya.


“Apakah seseorang yang dicintainya juga disandera oleh Damon?” Shadow sampai terkejut dengan pemikirannya sendiri.  Tak disadari, Shadow merinding di tengkuknya.


Diraihnya ponsel dan mengatakan tentang pemikiran itu.


“Apa kau tahu tentang keluarga Hugo? Ayah atau ibunya? Apakah dia punya saudara lain?” Begitu pesan yang dikirim Shadow pada Chester.


Tak lama, balasan Chester masuk. “Yang aku dengar, Ayahnya meninggal karena sakit. Tapi, sebelum berita itu keluar, Ayah dan ibunya memang sudah lama tidak tampak di depan umum. Tak lama keluar lagi berita bahwa ibunya juga tewas karena kecelakaan. Dan setahuku, Hugo tak punya saudara kandung. Jadi, mustahil jika dia juga tersandera oleh Damon!”


“Apa mungkin kekasih Hugo yang ditawan Damon?” pikir Shadow lagi.


“Apa kau melemah sekarang?” tanya Chester. Shadow tak menjawab.


“Jika kau tak ingin lagi membalas dendam, bawa saja cucuku pergi dari sana. Aku jamin, kalian akan aman dalam perlindunganku!” janji Chester.


“Aku tak bisa berfikir sekarang,” kata Shadow.


“Baiklah. Tapi jangan terlalu lama terombang-ambing. Jangan menunggu jalan keluarmu tertutup!” Chester mengingatkan.


Shadow tenggelam dalam pemikirannya, hingga alarm untuk membangunkan Moreno menyala. Dia segera bangkit dari tempat tidur dan merapikan penampilannya yang sedikit berantakan.


Sebuah pesan dari Lennox masuk ke ponselnya saat bermain dengan Moreno. “Apa kau mencintai Hugo?’


“Tidak!” jawab Shadow tanpa berpikir lagi. “Mana mungkin aku mencintai orang yang sudah mencoba membunuhku!” geram Shadow dalam hati.


Dari teras lantai tiga, Hugo memperhatikan putranya dan Shadow yang sedang bermain. Moreno banyak tertawa dan lebih ceria serta bahagia setelah Shadow menjadi pengasuhnya. Dia jadi makin mirip seperti anak-anak pada umumnya. Hugo mengakui bahwa pengasuhan Shadow memberi dampak besar pada psikologis putranya.


“Kukira, memecat pengasuh itu lebih cepat adalah solusi yang tepat. Sebelum Moreno sangat tergantung padanya. Setidaknya, dia sudah pernah merasakan bahagianya jadi seorang anak kecil. Dan berikutnya harus menjadi kuat. Karena hanya itu yang bisa menyelamatkannya di dalam keluarga Von Amstel!”


Hugo sudah membuat keputusannya. Bagaimanapun, dia tak ingin merenggangkan hubungannya dari Lennox maupun Sandrina. “Hah! Lennox tak tahu apapun!” gerutunya kesal. Lalu berbalik masuk ke rumah.


***


“Shadow, apa kau bosan main denganku?” tanya Moreno.


Shadow yang sedang membalas pesan Lennox, terkejut mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja tidak. Aku hanya sedang membalas beberapa pesan. Maafkan aku.” Shadow mematikan ponsel dan menyimpannya di dalam saku. Dia kembali fokus untuk bermain dengan anak kecil itu.


Saat makan malam, suasana tiba-tiba menjadi tidak nyaman, ketika Hugo mengutarakan rencananya. “Moreno, aku menemukan sebuah camp musim gugur untuk anak-anak kecil. Aku sudah mendaftarkanmu di sana. Kau pasti akan senang, karena mendapat banyak teman baru.”


Shadow duduk dengan tubuh kaku. Apa lagi ketika melihat putranya tampak antusias. “Apa Shadow bisa ikut ke sana?” tanya Moreno.


Shadow menunggu jawaban Hugo dengan penuh harap.


“Tentu saja tidak. Camp itu diadakan untuk melatih kemandirian anak melakukan hal-hal kecil. Tempat itu tidak mengijinkan siapapun membawa pengasuh mereka ke sana,” jelas Hugo.


“Apa yang akan mereka ajarkan?” tanya Moreno kritis.


“Entahlah. Mereka hanya mengatakan bahwa itu pengetahuan dasar. Semacam bangun tidur sendiri, melipat baju sendiri dan lain-lain.” Hugo berusaha membangkitkan rasa ingin tahu putranya.


“Kalau begitu, lakukan saja itu di rumah. Shadow pasti bisa mengajarkan itu!” Moreno menoleh pada Shadow yang duduk di sebelahnya.


“Bukankah kau bisa mengajarkan semua itu, Shadow?” Moreno bertanya dengan harapan besar.


Shadow ingin menjawab, tapi terlambat. Karena Hugo lebih dulu bicara. “Tentu saja Shadow bisa. Tapi kau tidak akan mendapatkan teman-teman baru yang menyenangkan. Juga tidak mendapat pengalaman baru yang akan kau kenang seumur hidup!” kata Hugo.


“Dan ... bermain dengan teman sebaya, bagus untuk perkembangan psikologi serta emosionalmu ke depannya!” tambah Hugo.


Shadow yakin, kalimat itu ditujukan Hugo untuknya. Tak mungkin Moreno memahami apa itu psikologi dan emosional. Itu membuatnya menunduk dan ikut berpikir. Secara garis besar, rencana Hugo memang sangat bagus untuk putranya. Tak mungkin dia menolaknya.


“Tuan Muda, camp seperti itu tidak akan lama. Kau tidak akan menyadarinya sama sekali. Dan tiba-tiba sudah berakhir, lalu pulang. Itu pasti akan sangat menyenangkan.” Shadow ikut membujuk Moreno.


“Tapi kau tidak ikut,” kata Moreno ragu.


“Aku akan menunggu di rumah,”jawab Shadow dengan senyuman manisnya.


“Bagaimana kalau aku membutuhkanmu di sana?” tanya anak itu lagi.


“Beberapa hal, harus mulai Tuan Muda lakukan sendiri. Hal lain yang terlalu sulit, pasti ada orang yang mendampingi!” jawab Shadow dengan yakin.


“Kau akan baik-baik saja dan pasti bisa melewatinya dengan baik!” Shadow mendorongkan semangat dalam kalimatnya.


Moreno menunduk dengan cemberut. “Baiklah ….”


Shadow langsung memeluk dan mencium pipi anak itu untuk meyakinkan putranya bahwa itu adalah keputusan yang tepat.


Hugo lega melihat hasilnya. Dengan bantuan Shadow, Moreno menuruti rencananya.


“Persiapkan dirimu. Camp itu akan dimulai Minggu depan!” kata Hugo lagi.


*****