
Shadow memeriksa tas kecilnya dan mempersiapkan untuk langsung dibawa, jika nanti Hugo justru mengusirnya. Dia duduk menunggu di kamar. Menajamkan telinga untuk mendengar suara baling-baling helikopter di atas rumah.
Tak lama Frisia kembali masuk tanpa mengetuk pintu dan meminta ijin. Shadow hanya menghela napas. “Barusan Hugo bilang dia akan langsung pergi dengan kakeknya, jadi tidak akan pulang. Kurasa kau bisa pergi sebentar. Asal---”
“Asal apa?” sambar Shadow cepat.
“Asal kau kembali sebelum pukul tujuh!” Frisia memberikan syaratnya.
Shadow terdiam sebentar. Hanya sebentar saja. Kemudian dia menyambar tas dan mengangguk setuju. Keduanya keluar dari kamar. Shadow langsung diijinkan pergi saat Frisia yang meminta penjaga membuka pintu.
Shadow mencari taksi sambil berjalan menuju ke resort yang sebelumnya pernah dia kunjungi. Berharap ada cukup banyak taksi di sana yang bisa mengantarnya pulang.
Hanya saja, semua tak seperti dugaannya. Hari yang mulai larut, membuat pengunjung resort itu sudah mengurangi aktifitas di luar. Tak ada satupun taksi yang menunggu di depan pintu gerbangnya. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya sebuah taksi lewat. Shadow langsung menyetop dan naik. Dia sama sekali tidak memiliki kekhawatiran seandainya itu bukanlah taksi biasa.
Taksi itu berjalan setelah mendapatkan alamat tujuan mereka. Shadow mengirim pesan pada Bratt. “Jemput aku di depan taman kota! Aku sedang menuju ke sana!” pesannya.
Setelah beberapa saat tak ada balasan, terpaksa dia menelepon Bratt. Dia menunggu sebentar sebelum akhirnya teleponnya diangkat. “Ya, Nona,” sahut Bratt dari seberang sana.
“Baca pesanku, tidak?” sergah Shadow.
“Sebentar, Nona.” Bratt tak mengeluarkan suara selain suara ketukan di ponsel.
“Akan saya, lakukan segera, Nona. Tunggu disana!” ujarnya cepat dan mematikan telepon.
Shadow merasa tenang setelahnya. Meskipun sedikit menyesal karena harus membangunkan tidur pria tua itu.
Dalam setengah jam, Taksi samai di taman kota. Shadow membayarnya dan melangkah pergi dengan cepat. Dia mengitari taman sambil memeriksa ponsel. Tadi Bratt bilang mobil sudah meluncur untuk menjemputnya.
Sebuah panggilan telepon masuk. Itu dari sopir di kediaman. “Ya. Apa kau sudah sampai?” tanya Shadow.
“Saya tidak melihat Anda, Nona,” katanya.
Shadow melihat berkeliling. “Aku di pintu masuk timur, dekat air mancur lumba-lumba,” jawab Shadow cepat.
“Tunggu sebentar, saya akan ke sana.”
Shadow menunggu dan dia sudah melihat sinar lampu berkedip-kedip yang sednag mengarah kepadanya. Kemudian mobil itu berhenti tepat di depannya.
“Nona!” Sopir itu hendak keluar dari mobil untuk membukakan pintu. Tapi Shadow bergerak lebih cepat. Dia membuka pintu dan langsung masuk.
“Pulang!” perintahnya.
“Baik, Nona.” Mobil meluncur cepat. Jalanan yang lengang membuat beberapa kendaraan bergerak lebih cepat dari biasa.
Beberapa saat kemudian mereka segara sampai di rumah. Bratt langsung membuka pintu saat mendengar suara mobil masuk ke dalam halaman. Shadow melangkah masuk dan mengucapkan terima kasih pada pria tua itu.
“Di mana ayahku?” tanya Shadow.
“Tuan? Ada di kamarnya, Nona.” Bratt terkejut melihat Shadow berjalan menuju kamar Chester.
“Nona, Tuan sedang istirahat. Jika ada urusan, tanyakan besok pagi saja,” cegahnya dengan nada suara rendah.
Shadow bisa lihat kekhawatiran di mata pria tua itu. Ditariknya lengan Bratt untuk menjauh dari pintu kamar Chester. “Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” selidik Shadow.
“Tidak ada, Nona.” Bratt menggeleng, mencoba meyakinkan Shadow.
“Kalau kau tidak jujur, Aku akan masuk ke sana dan melihat keadaannya sendiri!” ancam Shadow.
Kedua bahu Bratt langsung turun, Dia merasa tak berdaya. “Tuan terluka dalam misinya yang lalu.”
“Pasti awalnya parah, karena Tuan sudah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Dia tak mau membuat kita semua sedih,” tambah Bratt.
Shadow tak mendengarkan lagi kata-kata Bratt. Tangannya sudah memutar pegangan pintu dengan hati-hati. Dibukanya pintu dan melihat dalam keremangan kamar. Chester terbaring tenang di atas tempat tidurnya. Shadow melangkah perlahan, agar tidak membangunkan pria itu. Dia duduk di sofa besar yang ada di sana dan menjaga dari sana.
Bratt memperhatikan bahwa Shadow tidak mengganggu. Kemudian menutup pintu setelah melihat lambaian tangan Shadow yang menyuruhnya pergi.
Tak ada yang bisa dilakukan Shadow malam ini selain menunggu. Semoga Chester bisa bangun lebih pagi. Setidaknya, sekarang hatinya sedikit tenang, karena pria itu sudah dapat tidur dengan nyenyak.
Dikirimnya pesan pada Bratt untuk menyiapkan mobil pukul setengah enam. Dia harus kembali lagi ke bukit Springhills sebelum jam tujuh pagi.
“Baik, Nona,” balas Bratt.
Shadow melunjurkan kakinya di atas penyangga kaki dan tidur sambil memeluk bantal kecil.
***
“Apa kau mengkhawatirkanku?”
Chester menepuk nepuk lengan Shadow perlahan. Putri angkatnya itu segera bangun dan sedikit terkejut melihat Chester ada di dekatnya.
“Bagaimana keadaanmu? Bratt bilang kau terluka!” kecemasan jelas terpancar di mata Shadow.
“Hanya tertembak di pundak. Bukan apa-apa. Kenapa kalian besar-bessarkan?”
“Suaramu di telepon seperti menyembunyikan sesuatu. Itu membuatku curiga. Kenapa tidak terus terang saja? Jadi aku bisa merasa tenang di sana!” kesal Shadow.
“Aku kita dengan menyembunyikan ini kau bisa bekerja dengan tenang,” bantah Chester.
“Kau keliru!” Shadow makin kesal.
“Maafkan aku. Baru kali ini aku merasakan punya putri. Aku tidak tahu bahwa seorang putri bisa begitu menghawatirkan ayahnya. Aku akan merubah cara pikirku mulai sekarang.” Chester mengalah dan mengakui kesalahannya.
“Kau janji? Aku juga baru kali ini punya seorang ayah. Aku tidak ingin kau menganggapku sebagai orang asing yang hanya perlu dibantu. AKu benar-benar ingin menjadi anak yang baik.” Suara Shadow tercekat.
Chester memeluknya dengan sebelah tangan yang tidak terluka. “Maafkan aku. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi padamu.”
“Dengan tangan terluka seperti itu, tidakkah sebaiknya salah seorang pelayan pria ikut menemanimu di sana?” Shadow memberi saran.
Chester melihat dengan pandangan tak berdaya ke arah putrinya. “Baiklah. Akan kubawa seorang pelayan dan seorang penjaga juga. Apa kau sudah tenang sekarang?”
“Aku sudah tenang sekarang.” Shadow mengangguk. Dia melihat jam tangannya.
“Aku harus kembali ke sana. Kepergianku tadi malam, tidak atas ijin Hugo, tapi istrinya. Dia memintaku kembali sebelum pukul tujuh.”
“Oh, baiknya kau bergegas.” Chester melirik jam tangannya juga. “Panggil Bratt untuk menyiapkan mobil.
“Aku sudah mengingatkannya tadi malam.” Shadow berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar. “Kita akan bicara di telepon setelah aku naik mobil!” katanya.
Shadow naik ke kamarnya dan mengeluarkan teropong dari sana. Mengambil beberapa baju ganti sederhana dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu dia keluar lagi.
“Nona, mobil sudah menunggu.” Bratt sudah menunggu di bawah tangga.
“Baik, aku pergi. Siapkan satu pelayan dan satu penjaga yang cakap untuk menemani ayah ke pulau!” ujarnya sambil berlalu.
“Baik, Nona!” Chester mengangguk dan menunggu hingga mobil yang membawa Shadow menghilang, baru menutup pintu.
*****