VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 34. Trik Frisia



Mata Damon langsung menemukan Moreno yang duduk di kursi tersendiri. Di belakangnya duduk Shadow yang siap melayani kebutuhannya. Shadow mencondongkan tubuh pada Moreno dan berbisik.


“Sepertinya kau harus memberi hormat pada yang paling tua. Pergilah ….”


Bisikan itu cukup kuat untuk bisa terdengar oleh Damon yang juga sedang berjalan mengarah cicitnya. Dia sedikit melirik Shadow sambil terus berjalan.


Sebelum Damon bicara, Moreno telah lebih dulu melompat dan menghambur sambil mengulurkan tangan minta dipeluk. “Kakek!”


Pria tua itu terkejut, tapi senyumnya bertambah lebar menerima perlakuan hangat Moreno. Berbeda dengan Hugo yang dingin, setidaknya, di depan semua anggota keluarga, dia masih menunjukkan perasaan hangatnya pada Moreno. Cicit yang diimpikannya itu diberinya pelukan hangat beberapa saat sebelum menepuk-nepuk pundaknya.


“Kau lebih tinggi dan sehat dari terakhir kali kulihat,” pujinya.


“Dia suka berenang dan makan teratur,” kali ini Hugo yang menambahi.


“Aku melihat orang baru di sini,” kata Damon sambil menatap Shadow.


Shadow segera berdiri dan membungkuk hormat. “Saya pengasuh Tuan Muda Moreno, Tuan Besar.”


“Oh?” Damon hanya menganggukkan kepala, kemudian menyapa seluruh anggota keluarga lain dan berbincang.


Lennox yang duduk bersama keluarga, sesekali melirik Shadow dengan tatapan matanya. “Hei, kau terus melirik pengasuh itu. Apa kau tertarik padanya?” salah seorang sepupunya bertanya.


“Meskipun dalam pakaian sederhana tanpa riasan, dia sudah terlihat cantik alami. Bisa kau bayangkan jika dia didandani?” kata Lennox tanpa mengalihkan pandangannya dari Shadow.


“Tapi dia hanya seorang pengasuh!” cela seseorang.


“Bukankah istri Hugo sebelumnya juga orang biasa? Lihatlah putranya, sangat tampan!” Lennox tak kehabisan ide untuk menaikkan nilai Shadow di mata saudara-saudara sepupunya..


“Kurasa kau benar. Orang biasa cenderung penurut dan menghormati suami. Aku ingat bagaimana patuhnya Jeannette pada Hugo. Dan sikap Hugo tidak menutupi jika dia mencintai istrinya itu. Bisa kau bayangkan, pria sedingin Hugo, jatuh cinta pada wanita sederhana!” yang lain menimpali.


Lennox kembali menatap saudara-saudaranya. “Apa itu artinya kalian mendukungku untuk mendekatinya? Sudah sangat lama sejak istriku mati bunuh diri karena tertekan dengan aturan kakek!” gerutunya dengan suara rendah.


“Jika kau terus berbuat semaumu, maka tidak akan ada kesempatan bagimu menjadi ahli waris kakek!” yang lain berbisik tepat ke telinga Lennox. Membuat pria itu terdiam seketika.


Tak lama acara makan malam dimulai. Dan karena Shadow bukan anggota keluarga ataupun pelayan, maka dia dilarang masuk. Makanan Moreno diserahkan pada pelayan untuk diantarkan. Sementara dia duduk di luar ruang makan, bersiap jika Moreno memanggil.


Seperti yang diingatnya, makan malam itu juga akan membahas berbagai urusan bisnis keluarga. Di depan semua orang, Damon terlihat sebagai kepala keluarga yang baik dan bersedia mendengarkan keluhan anak cucunya. Tap Venus tahu, secara pribadi Damon akan memanggil dan menegur keras siapapun yang tidak berkenan di hatinya.


Dia ingat malam sebelum Hugo melemparnya ke laut. Mantan suaminya itu dipanggil secara khusus. Saat berbincang dengan Sandrina, sepupu iparnya itu bertanya, 'apakah Hugo ada melakukan kesalahan, sehingga dipanggil kakek?' Jean tidak tahu bahwa panggilan Damon itulah yang membuat Hugo gelap mata dan berusaha membunuhnya.


“Kau tertidur? Tuan Muda memanggilmu!”


Shadow terkejut saat pelayan pribadi Frisia mencolek lengannya untuk membangunkan.


“Apa?” tanyanya lagi.


“Tuan muda memanggilmu tadi,” kata pelayan itu dengan suara rendah. Dia juga ikut duduk di sana, menunggu Frisia memanggilnya.


Shadow bangkit dari kursi dan melihat ke dalam ruang makan. Mencari-cari Moreno, menunggu bocah itu memanggil sekali lagi.


Seorang pelayan keluar dengan membawa mangkuk kosong. “Kau dilarang mengintip dan menguping!” tegurnya dengan nada tajam.


“Pelayan pribadi Nyonya, mengatakan kalau Tuan muda memanggilku, tadi,” jelas Shadow.


“Aku sudah lima menit di dalam. Tak ada yang memanggilmu!” Mata pelayan itu menatap penuh arti.


Shadow kembali ke tempat duduknya dan langsung meenghadapi wanita empat puluhan itu.


“Kau sebenarnya sudah terlalu tua untuk menjadi pelayan. Kau tidak punya cukup aktifitas, hingga masih ingin merancang lelucon untuk menjebak orang lain!” kecam Shadow.


“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” balas wanita itu.


“Kau tau, aku pernah mendengar orang bicara tentang karma. Seorang yang berniat ataupun berbuat jahat, maka kejahatan itu akan kembali padanya dengan lebih buruk!”


Orang itu menatap Shadow marah. “Apa kau mengancamku?” tanyanya tanpa menahan diri. Suara perbincangan di ruang makan seketika jadi hening. Wanita itu memucat, sementara Shadow pura-pura tak melihatnya.


Di ruang makan, Wajah Frisia ikut pucat pasi. Dia mengenali suara pelayannya itu.  Hugo juga tahu siapa yang berbuat onar di luar. “Singkirkan dia ke jalanan!: perintahnya tegas. Tak peduli dengan getaran tubuh istri di sampingnya.


Dua pengawal Hugo yang berjaga tepat di depan pintu masuk ruang makan, telah mendapat perintah. Mereka segera menarik wanita itu pergi dari sana. Suara teriakan protes terdengar keras, membuat acara makan ternodai. Shadow lanjut duduk menunggu dengan tenang. Dia bisa membayangkan raut wajah muram Damon yang terasa mencekik seisi ruangan.


Sembari menunggu. Shadow berpikir. Apa mungkin pelayan itu berinisiatif sendiri menjebaknya? Atau atas suruhan tuannya? Belakangan Frisia tampak emosional dan tidak sabaran, bahkan seperti lupa bahwa Shadow punya tugas utama menjaga Moreno, bukan menjadi teman berbincangnya!


“Apa Frisia mendendam padaku karena kemarin tidak bersedia menemaninya ngobrol?” pikir Shadow.


Kemudian Damon keluar dari ruang makan. Hugo dan Frisia mengikuti ke ruang kerja Hugo. Setelah ketiga orang itu berlalu, Shadow bangkit dari duduk dan mencoba melihat ke dalam, kalau-kalau Moreno butuh bantuannya.


Benar saja, bocah lelaki itu sedang digandeng oleh Sandrina keluar ruangan. “Shadow!” panggil Moreno senang. Tubuhnya sampai terlonjak.


“Ya, Tuan Muda.” Shadow mendekat. “Apa yang Anda butuhkan sekarang? Apa Anda senang?” tanya Shadow dengan ekspresi riang.


“Ya! Tapi aku lelah,” jawabnya.


“Baiklah, mari kita istirahat di kamar.” Shadow mengulurkan tangan untuk membawanya pergi. Moreno langsung menyambutnya dan ingin beranjak.


“Beri salam selamat malam dulu padanya,” bisik Shadow mengajari.


Bocah kecil itu membalikkan badan menghadap Sandrina. “Aku mau tidur, Bibi. Selamat malam,” ujarnya dengan suara khas anak kecil yang menggemaskan.


“Oh, Dear ….” Sandrina berjongkok agar sejajar dengan Moreno. “… andai ibumu tahu kau selucu dan sepintar ini, Dia akan sangat bahagia di atas sana.” Sandrina memeluk Moreno hangat.


Bocah lelaki itu ingin menolak, tapi melihat anggukan dan senyum Shadow, dia membiarkan bibinya memeluk lebih lama.


Dengan senyuman, Moreno melambaikan tangan pada Sandrina. Wanita itu membalasnya. “Kau membuatku merindukan ibumu yang selalu hangat.”


Shadow bisa mendengar kata-kata Sandrina. Dia membungkuk sedikit sebelum berlalu. Ada haru di hatinya. Teringat pertemanan singkatnya dengan wanita malang itu. "Semoga Kau mendapatkan kebahagiaanmu, Sandrina," harapnya dalam hati.


Di kamar, Shadow membersihkan tubuh Moreno agar dia bisa tidur dengan nyaman. “Apa kau ada memanggilku di tengah perjamuan makan?” tanya Shadow.


“Tidak,” jawab Moreno. “Kenapa?”


“Tidak apa-apa. Aku tadi sedikit ketiduran. Takut kau memanggilku tapi tak terdengar,” jawab Shadow. Dia menyelimuti anak itu agar nyaman di udara dingin.


“Aku mau cerita,” pinta Moreno.


“Baik, akan kubacakan cerita untukmu.” Shadow memilih beberapa buku cerita anak. Sepertinya sudah hampir semua koleksi bacaan anak di rumah itu selesai dibacakan untuk putranya. Dia harus membeli yang lainnya saat ada kesempatan keluar rumah.


Dua jam berlalu. Shadow tertidur di samping Moreno yang memeluknya. Sebuah buku terbuka, menutup dadanya. Keduanya tidur begitu nyenyak, sampai tidak menyadari kalau Hugo datang memeriksa.