VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 6. Latihan Pertama



Hari terberat dan sangat meletihkan berhasil dilewatinya. Ternyata Falcon memang menyimpan cukup banyak kayu bakar di samping pondok dan ditutupi dengan terpal. Lalu ada juga herba yang dia lihat di dalam, digantung untuk dianginkan hingga kering, agar tahan lebih lama.


“Terima kasih, Falcon,” ujarnya tulus.


Persoalan terbesar adalah tidak ada persediaan kentang ataupun ubi di luar. Shadow sudah menggerakkan tubuhnya hampir ke sekeliling rumah untuk mencari. Namun, tidak juga menemukannya.


Dengan menahan lapar, Shadow terpaksa menunda makan siangnya hingga petang, agar perutnya tidak perlu kelaparan semalaman.


“Aku harus keluar dan mencari makanan di sekitar. Jika bisa menemukan sayur, itu juga cukup bagus,” pikirnya.


Satu minggu berlalu, Shadow sudah makin terbiasa dengan pondok kayu di tengah hutan itu. Dengan menumpu pada tongkat yang diambilnya dari cadangan kayu bakar, Shadow pergi keluar untuk mencari makanan.


“Ah, aku menemukan telur unggas lagi,” katanya gembira. Dia menunduk untuk


mendekati sarang unggas liar yang dia tak tahu bentuknya. Ini sudah kali kedua. Hatinya sangat gembira. Telur adalah makanan mewah di hutan itu.


Minggu keempat, bobot tubuhnya turun drastis, karena hanya bisa makan dedaunan ditambah telur sesekali. Namun, dia tidak sedih. Dia merasa sangat fit saat ini. Meskipun masih mengenakan tongkat untuk berjalan, akan tetapi dia tidak lagi merasa limbung. Dia sudah sangat akrab dengan hutan itu.


“Aku pulang!” sebuah suara terdengar di luar.


Shadow yang tengah berbaring malam itu, menajamkan telinga. Dia mendengar beberapa bunyi di luar pondok. “Apakah itu Falcon?”


Tak lama pria yang diharapkannya, masuk sambil membawa beberapa tas besar dan diletakkan di lantai.


“Di mana meja yang di sana?” tanyanya heran. Dia memegang sesuatu yang mungkin hendak ditaruhnya di situ.


“Sudah menjadi debu!” jawab Shadow dengan ekspresi lucu. Tangannya mengarah ke perapian.


“Hahaha … masa tugasnya sudah berakhir dengan hukuman mati rupanya. Kau sangat kejam!” Falcon ikut terkekeh.


“Kemarilah. Aku membawakan hadiah untukmu!” Falcon duduk begitu saja di lantai kayu.


Shadow turun dan ikut duduk di seberangnya. “Apa itu?” tanyanya tak sabar. Matanya berbinar-binar senang. Dia sangat senang karena Falcon menepati janji untuk kembali.


“Bukalah! Kau pasti akan menyukainya,” ujar Falcon percaya diri.


Shadow membuka bungkusan kertas dan menemukan sekotak donat. “Donat?” tanyanya heran.


“Ya, aku membawakanmu donat. Kurasa tak ada yang tak suka donat.” Falcon memandangnya dengan aneh.


Dengan kecewa, Shadow mengambil sepotong donat dan langsung memasukkan ke mulut.


“Kulihat kau suka, tapi kenapa tampangmu begitu kecewa?” tanya Falcon bingung.


Shadow menggoyangkan tangannya ke kiri dan kanan. Dia sibuk mengunyah donat dan tidak bisa bicara.


“Bukan tidak suka donat. Aku kira kau membawakan baju ganti untukku. Ternyata aku mengharap terlalu tinggi!” cibir Shadow.


“Hahaha!” Falcon hanya tertawa. Kemudian pria itu berdiri dan mengangkat tas besar yang sebelumnya dia letakkan di lantai dekat dinding. DIa membuka tas dan mengeluarkan berbagai macam persediaan makanan.


Mata Shadow berkilauan melihat bahan makanan melimpah. “Besok kita rayakan kepulanganmu


dengan masakan enak!” janjinya.


Falcon tersenyum. Disodorkannya satu bungkusan plastik pada Shadow. “Coba lihat, apakah kau suka.”


Bungkusan itu langsung dibuka Shadow. Matanya semakin cerah setelah melihat beberapa baju kaos dan dua celana jeans serta pakaian dalam di situ.


“Jika kau membeli ini dengan memperkirakan ukuranku sebelumnya, kurasa ini akan kebesaran. Xixixi ….” Shadow terkikik geli sendiri.


“Apa kau kurusan?” tanya Falcon. Diamatinya wanita di depannya dengan teliti. Shadow mengangguk.


“Tidak kok! Kau tampak lebih berotot, lemakmu berkurang, digantikan dengan massa otot. Ukuran tubuhmu biasa saja. Kau bisa coba baju itu kalau tak percaya!” Falcon membantah pendapat Shadow.


“Sudah malam. Istirahatlah. Besok saja kau buktikan.” Falcon keluar pondok dan kembali setelah beberapa waktu. Dia langsung duduk di kursi satu-satunya dan segera memejamkan mata.


***


 Pagi itu Falcon memeriksa cedera di kaki Shadow. Dia juga memberikan sebuah tongkat besi untuk wanita muda itu. “Daya juangmu sangat hebat,” puji Falcon.


Shadow menggeleng. “Dendamku terlalu besar, untuk membiarkan diriku menyerah pada kesulitan seperti ini!” Shadow meluruskan.


Falcon mengangguk mengerti. “Dendam bisa dijadikan lokomotif untuk mencapai tujuan. Untukmu, tujuanmu adalah membalas suamimu dan merebut putramu?” Falcon mencoba menegaskan.


“Ya! Bantu aku untuk mencapai tujuan itu!’ angguk Shadow dengan keyakinan.


“Apa kau siap dengan pelatihan berat yang akan kuberikan?” Falcon menatapnya tajam.


“Apakah lebih berat dari ujian satu bulan ini?” tantang Shadow.


“Lebih berat dari itu!” Falcon sangat serius kali ini.


“Ya. Akan kulakukan!” Shadow menegaskan.


“Bagus!’ Hari ini kau siapkan saja dulu masakan enak untuk penyambutanku. Aku akan siapkan arena latihanmu!”


“Oke!” Shadow menganggukkan kepala antusias.


Sore hari, Shadow dibawa ke arena latihan yang disiapkan Falcon sepanjang hari. Tempat itu seperti lapangan oah raga. “Apa kau ingin aku berolah raga di sini?” tanyanya heran.


“Bukan sembarangan olah raga. Tapi, ya. Di sinilah kau akan kulatih. Seluruh pulau ini adalah arena latihan bagimu!” jelas Falcon tanpa ekspresi.


Shadow meresapi kata-kata itu. Artinya dia tidak hanya dilatih di lapangan olah raga itu, tapi juga di alam liar. Hanya saja, bayangan


itu bukannya menyurutkan langkahnya. Justru membuat dia merasa sangat tertantang.


“Sangat menarik!” Dia tersenyum misterius.


Falcon masih menunjukkan bagian-bagian lain pulau yang belum pernah dikunjungi Shadow. “Ternyata tempat ini sangat luas,” gumamnya.


“Apa kau mau mundur sekarang?” Falcon menguji kesungguhannya.


“Putraku menunggu di sana. Mana mungkin aku mundur!” ketusnya.


“Bagus! Ayo kita kembali!”


Esok pagi, pelatihan telah dimulai begitu fajar menyingsing. Shadow harus lari mengelilingi seluruh pulau tiga kali, sebelum bisa dapat sarapan. Dia pergi mengikuti rute yang kemarin ditunjukkan Falcon.


Belum satu putaran, kakinya yang baru mulai sembuh itu kembali sakit. Dengan. mengandalkan tongkat, Shadow terus memutari pulau sesuai rute yang dibuat Falcon.


Di putaran ke tiga Shadow ambruk. Dia sudah berulang kali jatuh tersandung. Namun kali ini, dia tak langsung bisa bangkit. Tubuhnya bergetar hebat lalu terdengar tangisannya yang semula merintih halus lama-kelamaan makin kencang. Akhirnya dia berteriak keras. “Aku akan membalasmu. Kau tunggu saja!” teriaknya keras.


Perlahan dia bangkit dan berdiri. Digenggamnya tongkat dengan erat. Lalu melanjutkan putarannya yang belum selesai.


“Satu kilometer lagi!” Dia terus menghitung sisa jarak tempuh, untuk menyemangati diri.


Saat dilihatnya Falcon sudah menunggu di titik akhir, langkahnya justru makin bertenaga. Dengan tertatih-tatih dia kembali lari. Lalu jatuh tepat di depan pria itu dan tidak mampu bangkit lagi.


“Shadow … Shadow!” Falcon memanggilnya berkali-kali. Namun, wanita itu tak juga menyahut.


“Apa aku mendorongnya terlalu keras?” gumamnya. Tangan kekar pria itu menarik tubuh Shadow dan membawanya pulang.


******