
“Siapa dia?” tanya Venus.
“Dia hanya sampah yang kebetulan lahir dari keluarga bangsawan!” sahut Chester ketus.
“Oh ….” Venus melihat dari tempat duduknya, bagaimana Elliot masih belum mengalihkan pandangan dari Chester. Terlihat jelas kebencian di dalam matanya.
“Aku rasa, jika mungkin, dia ingin sekali menelanmu bulat-bulat!” Venus terkekeh.
Di tempatnya, Elliot makin masam meliihat bagaimana musuhnya saling tertawa satu sama lain. Meskipun dia tak tahu apa yang mereka tertawakan, Tapi dia tetap saja merasa tak senang.
“Hallo, Tuan Moriarty.” Seorang pria tampan berambut gelap, menyapa. “Mengejutkan melihat Anda ada di sini.”
“Oh, Eduardo. Bagaimana dengan putrimu?” balas Chester.
“Dia sangat baik. Terima kasih bantuannya. “Boleh aku duduk di sini? Siapa dia?” tanya pria itu lagi.
“Ini putriku, Venus,” sahut Chester.
“Venus, Kenalkan ini Eduardo, putra Nyonya Sherly Sancez.” Chester memperkenalkan pria itu.
“Sancez? Apakah Anda ada hubungan keluarga dengan Katerina Sancez?” tanya Venus ingin tahu.
“Bagaimana kau bisa mengenal putriku?” tanya pria itu terkejut.
“Oh, aku lupa mengatakan. Dia bagian dari tim yang membebaskan putrimu hari itu,” jelas Chester dengan ekspresi bangga tak ditutupi.
“Oh ya? Aku sungguh tidak menduga wanita secantik Anda bergabung dalam pekerjaan yang sangat berbahaya seperti itu.” Kekaguman pria itu tumbuh.
“Harus ada orang yang bersedia menerima resiko untuk menenangkan orang lain, kan?” timpal Venus. Tuan Sancez merasa hatinya yang hangat, tiba-tiba disiram dengan air es.
“Eduardo, Venus tak terlalu senang membicarakan urusan pekerjaannya. Jadi mari rahasiakan, demi keamanannya, Oke?” Chester berusaha memperbaiki suasana yang tiba-tiba tidak enak karena ucapan Venus.
“Oh, aku mengerti. Maafkan ketidak tahuanku.” Eduardo mengangguk dan duduk di sebelah Chester.
Ruangan lelang makin lama makin penuh. Lebih banyak lagi para bangsawan yang datang. Di tempat duduknya, tubuh Venus menjadi kaku saat melihat Hugo, istri dan kakeknya datang bersama dengan seorang pria dan wanita lainnya. Kelima orang itu dibawa di tempat tersendiri yang sangat eksklusif.
Menyadari keadaan Venus, Chester mengambil tangannya dan menepuk-nepuk pelan, untuk menenangkan hati putrinya. Hal itu berhasil mengalihkan perhatian Venus dari memandangi keluarga Von Amstel. Mereka belum bisa melakukan lebih dari sekedar mengawasi dari jauh.
Hingga acara berakhir, tak ada satu barang juga yang berhasil didapatkan Chester. Tampaknya dia tidak sungguh-sungguh menginginkannya.
“Kau tidak benar-benar menginginkan barang yang kau tawar,” kata Venus di jalan pulang.
“Kau memang putriku. Kau sangat jelas tentang itu. Aku memang tidak tertarik.”
“Lalu, untuk apa kita datang ke tempat lelang?” tanya Venus keheranan.
“Untuk memperkenalkanmu kepada dunia!” jawab Chester.
Venus terdiam. Sekarang dia tahu bagaimana keras upaya Chester agar dirinya bisa masuk ke kalangan atas dan punya kesempatan mendekati Hugo. Hari ini belum berhasil. Entah trik apa lagi yang akan dilakukan Chester.
“Tak bisakah aku datang menyelinap saja ke kediamannya?” bisik Venus.
“Kau akan berakhir mati, bahkan sebelum sempat melihat puteramu!” tegas Chester.
“Apa kau kira aksi tim kita selalu harus kontak fisik? Kami juga melakukan pengamatan dan pendekatan secara halus, hingga target tidak menyadarinya.”
“Baiklah, aku akan mengikuti caramu sementara ini. Aku hanya tidak ingin membuatmu tersiksa, melakukan hal yang tidak kau sukai seperti mengikuti lelang tadi,” jelas Venus.
Venus tidak mengetahui bahwa setelah acara lelang usai, namanya diperbincangkan banyak orang. Bagi mereka yang mengenal Chester selalu bersikap tertutup, tentu saja merasa aneh melihatnya muncul, dengan menggandeng wanita yang kemudian diketahui adalah putrinya.
“Menurut kalian, apa tujuan Tuan Moriarty memunculkan puteri cantiknya?” tanya seseorang.
“Mungkin dia sedang ingin mencari jodoh untuk putrinya itu. Bukankah dia terlihat sudah cukup umur untuk menikah,” balas yang lain.
“Masuk akal juga. Kalau kulihat, karakternya mirip seperti ayahnya. Cantik tapi sangat kaku dan matanya menyeramkan,” timpal yang lain.
“Badannya bagus hlo,” cetus yang lainnya dengan senyuman mesum.
“Kau sangat tahu siapa Tuan Moriarty, Pasti putrinya mendapat pelatihan yang sama berat dengan para tentara itu,” duga yang lain.
“Woah … sekarang aku jadi bisa membayangkan dia tanpa busana!” pria mesum itu tertawa terbahak dikuti yang lainnya.
Pagi hari.
“Oh, hallo Tuan Baker, angin apa yang membuat Anda menghubungi saya?” Chester menerima telepon sambil tersenyum lebar.
“Tiga hari dari sekarang, kami akan mengadakan makan malam. Istriku ulang tahun. Bisakah Anda datang? Undangan resminya sedang dalam perjalanan. Karena itu adalah Anda, maka kupikir lebih baik mengundang secara pribadi di telepon,” sahut Tuan Adam Baker sopan.
“Tentu saja, Tuan Baker. Terima kasih untuk undangannya. Biar kulihat dulu catatanku,” balas Chester. Dia berhenti sebentar dan pura-pura mengambil catatan kegiatannya.
“Sungguh saya sangat beruntung. Saya memang ada pekerjaan esok paginya. Jadi, mungkin masih bisa hadir hingga pukul sepuluh.” Chester memberi tahu.
“Itu sangat bagus. Saya tunggu kehadiran Anda. Jangan lupa membawa putri cantikmu, ya.” Tuan Adam Baker tertawa kecil.
“Tentu saja. Dia akan senang dibawa keluar, sesekali,” timpal Chester.
Venus memperhatikan dari tempat duduknya. “Apakah kita akan pergi makan malam lagi?”
“Ya. Kali ini yang mengundang adalah keluarga yang sangat terpandang. Kurasa dia ingin mendekatkan putra keduanya denganmu,” Chester menarik garis senyum yang lebar.
“Aku ingin membalas dendam. Bukan mencari pasangan!” ketus Venus.
“Ingat satu hal. Kita sedang mencari tangga untuk naik ke kalangan atas. Karena kau tidak bisa begitu saja masuk ke kediaman Hugo von Amstel jika tidak ada dalam lingkaran mereka!” Chester kembali mengingatkan Venus yang mulai tidak sabar.
Venus membuang muka. Dia memang tidak suka berbasa-basi ataupun meladeni para pria yang berusaha mendekat karena terpikat kecantikannya.
“Jangan berkata kasar yang bisa membuatmu didepak dari pergaulan ini. Saat kau sudah disingkirkan, mereka tidak akan menganggapmu lagi!” Chester mengingatkan.
Tak lama kepala pelayan masuk sambil membawa sesuatu.
“Ada undangan dari keluarga Baker, Tuan.”
Chester menerima kertas undangan yang dikirimkan kurir. “Apa kau sudah ucapkan terima kasih?”
“Sudah, Tuan.” Kepala pelayan itu pergi.
“Kurasa aku akan mengajakmu jalan ke pertokoan hari
ini.”
Venus menoleh ke arah Chester. Itu bukan tawaran, tapi perintah. Dia bangkit dari duduk. “Ayo!” katanya segera.
“Sekarang?” Dahi Chester berkerut.
“Aku ingin mengakhiri hari yang panas ini dengan berenang sore nanti, lalu tidu cepat setelah makan malam. Agar tetap cantik tanpa kerutan di pesta ulang tahun Nyonya Baker.”
Chester tertawa geli melihat keketusan Venus. “Nak, kau bisa berkata seperti itu di rumah. Tapi jangan sampai orang luar menjauh karena lidahmu!” nasehatnya.
***
Keduanya mengunjungi beberapa toko. Chester tidak khawatir mengeluarkan uang untuk membeli baju baru untuk Venus. Setelah masa belanja selesai, Venus mengajak Chester untuk menikmati makan siang di café sederhana. Mereka duduk di kursi bagian luar café. Jadi bisa melihat orang-orang yang lalu lalang di trotoar yang diteduhi pepohonan.
“Kurasa aku melihat Elliot Morgan sedang berjalan ke sini,” kata Venus, sambil melihat melewati pundak Chester yang tengah menikmati saladnya.
“Berhati-hatilah padanya. Dia licin seperti ular!”
“Hemm … ternyata ular. Tapi dia bertingkah seperti singa!” timpal Venus pedas.
Chester tak dapat menahan ledakan tawanya. Dan itu berhasil membuat Elliot jalan makin cepat mendekati mereka.
“Apa kau menertawakanku?” matanya menyorot tajam. Jika mata dapat membunuh, maka Chester pasti sudah tewas sekarang.
Chester berbalik dengan terkejut. “Oh, Elliot?”
Venus dan Chester menunjukkan ekspresi bingung pada pria itu. Venus lebih dulu menyambar kata-kata Elliot. “Lihat, orang di sana juga sedang tertawa. Mereka mungkin juga sedang menertawakanmu!”
Wajah Elliot menggelap. Jelas sekali kalau Venus menyindir dirinya. Emosinya sudah meluap. Tangannya mengepal dan mulai naik.
Chester berdiri menghadapi pria itu untuk melindungi Venus. “Apa kau lupa rasanya penjara, Elliot?”
*****