VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 44. Nasehat Chester



Beberapa hari berikutnya, Shadow mengamati gerak-gerik Hugo. Dia juga meluangkan lebih banyak waktu untuk mendengarkan curhat Frisia saat mabuk. Mereka jadi lebih sering duduk di teras. Kadang Shadow membuat lelucon, agar Frisia tidak menjaga jarak lagi dengannya.


Menurut Shadow, waktunya untuk bergerak sudah semakin dekat. Dengan bantuan Lennox dan Frisia, dia bisa lebih dekat dengan rencananya.


“Apa kau sangat mencintai kekasihmu itu?” tanya Shadow dengan suara rendah. Frisia sudah mabuk sekarang.


“Aku sangat mencintainya. Seharuskan kami menikah akhir tahun itu. Tapi si Hugo sialan itu lebih dulu bergerak melamarku pada ayah!” geramnya.


“Bukankah ayahmu sangat berkuasa? Dia seorang bangsawan yang punya nama baik dan disukai rakyat,” puji Shadow.


Dia ingat pada pria yang menjemputnya di pintu saat pesta ulang tahun pernikahan berlangsung. Pria yang ramah dan sangat sopan.


"Tapi keluarga Von Amstel adalah keluarga keji. Kekasihku sudah seminggu hilang sebelum lamaran itu diajukan. Mereka menahannya, agar ayahku mau menerima lamaran Hugo!” Frisia menggeram marah.


“Apakah pendapatmu tidak ditanyai lebih dulu?” tanya Shadow heran.


“Melihat dia disakiti seperti itu, aku menyerah. Aku setuju menikah asalkan dia dibebaskan….” Frisia menunduk dan mengusap air matanya.


“Lalu, apa yang kau ributkan sekarang?”


Shadow benar-benar tak mengerti jalan pikiran Frisia. Bukankah dia sudah tahu konsekwensinya? Seperti yang dulu dialaminya, saat Hugo memaksa menikah dengan mengancam semua adik-adik panti asuhan tempat dia dibesarkan. Saat dia melihat mereka beberapa waktu lalu, Hugo memang memenuhi janjinya untuk membiayai panti itu.


“Tentu saja aku marah. Karena ternyata dia tak pernah kembali ke rumahnya! Keluarganya sudah memohon pada ayahku, agar membebaskan putra mereka satu-satunya. Tapi ayah tak berdaya.”


Shadow terdiam. Ini sangat berbeda dengan yang dilakukan Hugo pada keluarganya di panti. “Apakah Hugo yang menahannya, atau Damon von Amstel?” pikir Shadow.


“Menurutmu, di mana mereka akan menahan kekasihmu itu?” tanya Shadow.


“Ayah sudah bertanya pada Damon. Pria jahat itu mengakui masih menahan kekasihku, agar tidak mengangganggu pernikahan Hugo dan aku!” geram Frisia lagi.


“Tidak masuk akal!” celetuk Shadow.


“Itulah yang kukatakan pada ayah. Itu adalah alasan yang sangat tidak masuk akal!” Frisia menambahkan.


“Apa mungkin pria itu sudah tewas dalam penyiksaan, makanya dia tak mungkin dikeluarkan dari penyanderaan Damon?” pikir Shadow lagi


“Apa menurutmu, kekasihmu itu masih hidup?” tanya Shadow asal. Dia ingin tahu pemikiran gadis itu sendiri.


“Tidak! Jangan memberiku bayangan buruk, Shadow!” sergah Frisia marah.


“Aku hanya bertanya!” bantah Shadow kesal. Dia berdiri dari sana. Tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan malam itu.


“Jangan meninggalkanku!” lirih Frisia putus asa.


“Kau sudah terlalu mabuk, hingga marah-marah tidak jelas padaku!” kata Shadow tak senang.


“Sebaiknya kau tidur sekarang. Aku ingin lari pagi, besok. Apa kau mau ikut?"


Frisia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya di sandaran kursi taman. Shadow berjalan meninggalkannya. Membangunkan pelayan pribadi Frisia, agar membawa nyonya mudanya ke kamar, sebelum meracau tidak jelas.


Di kamarnya, Shadow melaporkan apa yang diceritakan oleh Frisia, pada Chester. Dan karena hari terlalu malam, pesan itu tak kunjung dibalas. Shadow mengirimkan pesan lain.


“Besok sebelum matahari terbit, aku akan lari pagi di sekitar sini.”


Kemudian dia tidur dengan tenang sambil membuka jendela kamar. Angin sejuk membelai tidurnya yang nyenyak.


Hari masih gelap saat Shadow keluar untuk lari pagi. Dia bahkan keluar dengan pakaian olah raga, sebelum Hugo. Shadow lari menapaki jalanan sepi dan berkabut. Dia selalu senang udara segar dan sejuk bukit Springhills. Hugo memilih tempat yang sangat bagus untuk membangun rumah pribadinya.


Sesampainya di pasar petani, suasana sepi itu berubah. Tempat itu sudah sangat ramai dengan para petani yang menjual hasil panen mereka pada para pedagang di kota. Shadow mencari kafe kecil yang dulu dia pernah bekerja di sana.


“Berikan aku kopi dan roti hangat!” pesan Shadow.


“Wah, Shadow. Sudah lama aku tak melihatmu.” Pria itu melihat pakaian olah raga Shadow. “Apa kau sedang lari pagi?” tanyanya ramah.


“Ya. Aku duduk di sana!” tunjuk Shadow ke arah sebuah bangku di pinggir jalan.


“Akan kuantar!” kata pemilik kafe.


Shadow duduk dan memeriksa ponselnya. Tak lama ponsel itu bergetar. Panggilan dari Chester.


“Kau di mana?” tanya pria itu, begitu telepon terhubung.


“Aku sedang menunggu kopi dan roti di Market Kafe,” jawab Shadow.


“Apa kau di sini?” Shadow melihat-lihat ke sekitar. Mencari bayangan Chester di antara orang ramai.


“Aku mau pesan kopi juga.”


Chester berlalu ke depan kios dan memesan kopinya, lalu duduk di depan Shadow. Menatap putri angkatnya itu dengan kritis.


“Kau … sangat berubah. Tapi aku tidak tahu, bagian apanya yang berubah,” kata Chester sambil menggeleng. Shadow tertawa senang.


“Aku senang bisa melihatmu sehat,” kata Shadow dengan senyum semringah.


“Aku punya putri yang sedang berada di kandang singa. Tak mungkin kubiarkan diriku dalam keadaan tidak fit. Siapa nanti yang akan menyelamatkanmu kalau bukan aku!” Chester cemberut.


“Kenapa tidak langsung kau selesaikan saja rencanamu?” tanya Chester heran.


Shadow menggeleng. “Aku bukan cuma ingin membalas Hugo. Tapi juga Damon von Amstel!” geram Shadow.


“Hanya karena perkataan Frisia saat mabuk?” tanya Chester heran.


“Aku tidak setuju kau mencampuri urusan orang lain, Venus. Urusanmu sendiri juga tidak mudah!” larang Chester tak senang.


“Bukan hanya itu.” Shadow menggeleng.


Kopi dan sarapannya sudah diantarkan ke meja. Kemudian kopi dan roti Chester juga menyusul diantar. Keduanya menghirup harum kopi di pagi yang sejuk.


“Lalu apa alasanmu?” tanya Chester. Dia menyobek kecil roti yang masih panas dan mengoleskan krim keju dari mangkuk kecil. Lalu menyuapkan potongan kecil itu ke mulutnya dengan cepat. Dia siap mendengarkan alasan dan argumen Venus.


“Aku selalu merasa bahwa Hugo melakukan semua itu padaku adalah karena dorongan Damon. Hari dia mendorongku jatuh ke laut, kami baru dari kediaman Damon. Dan dia dipanggil ke ruangan pribadi Damon untuk beberapa waktu. Setelah itu kami pulang, dan aku dilemparnya jatuh ke laut!”


Chester mendengarkan cerita Shadow. “Apa sekarang kau merasa Hugo tidak sejahat pikiranmu semula? Kau ingin mengalihkan pembalasan dendam pada Damon? Apa kau mulai mencintainya?” cecar Chester dengan pandangan tajam.


Shadow menggeleng tegas. “Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat Hugo tak bisa menolak keinginan kakeknya. Dan mendengar cerita Lennox serta Frisia, kurasa, ada sesuatu yang memaksa Hugo melakukan apapun yang disuruh oleh Damon!”


Chester terkejut mendengar analisa Shadow. “Apapun itu, bukankah itu adalah urusan Hugo sendiri? Apa hubungannya denganmu?” Chester masih tidak setuju alasan putrinya ikut campur urusan lain, selain membalas Hugo dan merebut Moreno.


“Fokuslah pada tujuan awalmu! Lalu pulang dan tinggal di rumah dengan damai bersama putramu. Dia harus bertemu dengan kakeknya yang lain. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya,” kata Chester.


“Aku merekamnya beberapa waktu yang lalu.” Shadow menunjukkan ponselnya yang berisi rekaman video Moreno.


“Cucuku tampan sekali!” kata Chester senang. Senyumnya sangat bahagia, bisa melihat Moreno pertama kali.


“Oh … rasanya aku sudah mulai merindukannya. Kau harus selesaikan urusanmu dengan cepat dan bawa dia pulang. Kita bisa membawanya ke pulau dan bermain-main di sana!” kata Chester tanpa sadar.


“Pulau? Tidak! Dia masih terlalu kecil untuk menjalani latihanmu!” Shadow tidak setuju.


“Tapi dia anak laki-laki. Dia harus siap dan kuat, agar bisa menggantikanku untuk menjagamu suatu hari!” bantah Chester.


“Tidak!” geleng Shadow cemberut.


“Iya!” kata Chester ngotot. Keduanya saling bertatapan, dengan ekspresi lucu. Lalu tertawa berderai.


“Aku adalah kakek yang paling bahagia bisa memiliki cucu seperti Moreno," senyum Chester. Tangannya mengusap rambut Shadow lembut.


Keduanya menikmati kopi dan sarapan mereka lagi.


“Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal. Jangan sampai tujuan utamamu tidak tercapai, saat kau gegabah dalam pengembangan rencana! Karena resikonya terlalu besar untuk kau tanggung. Kau mungkin tak akan pernah bisa melihat putramu lagi, selamanya!” Chester memperingatkan.


Shadow tertegun mendengarkan peringatan Chester. “Kalau kau mendapat tugas lapangan untuk merebut Moreno dan membalas Hugo dengan kasus seperti ini, apa yang akan kau lakukan?” tanya Shadow ingin tahu. Chester adalah tentara khusus yang biasa dimintai untuk membantu menyelamatkan orang-orang yang disandera.


“Aku akan bertanya pada client. Apa tujuan dia yang paling utama. Apakah merebut anaknya, atau membunuh mantan suaminya? Ataukah ingin membalas mantan mertua dengan resiko kehilangan putranya!” kata Chester serius.


Shadow kembali terdiam. “Tidak bisakah melakukan dua rencana sekaligus?” tanya Shadow.


“Bisa! Kau bisa merebut putramu dan menghukum Hugo sekaligus. Karena mereka ada di tempat yang sama. Namun mantan mertuamu itu, kediamannya sangat jauh dan terjaga dengan baik. Tempat itu seperti kastil dengan benteng dan penjagaan yang kuat!” kata Chester.


“Bahkan meski kita menyerang dengan tim lengkap, tetap tidak akan mudah menembusnya!” Sekali lagi, Chester menunjukkan kenyataan yang sulit di depan Shadow.


Ponsel Shadow bergetar. Dia melihatnya sebentar kemudian berdiri dengan cepat. “Alarmku sudah berbunyi. Sebentar lagi waktunya membangunkan Moreno.” Jelas Shadow.


“Akan kupikirkan masak-masak dan menghubungimu lagi.” Shadow sudah berjalan pergi, tapi memnghentikan langkahnya. Dia berbalik ke meja Chester dan mencium pipi pria paroh baya itu.


“Aku pergi dulu, ayah,” ujarnya dengan senyuman manis.


Chester tak bisa lagi menunjukkan wajah tak senangnya. Senyumnya sangat cerah saat melambai pada Shadow yang sudah menyeberangi jalan.


 ******