
Pagi itu, wajah kuyu Shadow berubah cerah saat melihat Moreno ikut masuk bersama penjaga yang membawa sarapan. Kemudian penjaga itu keluar, tapi pintu tetap dibuka lebar.
“Tuan Muda, maaf aku membuat kesalahan hingga dihukum seperti ini. Apa kau baik-baik saja?” tanya Shadow.
Begitu inginnya dia memeluk bocah kecil lucu itu dan menumpahkan kerinduannya. Tapi, pintu yang dibuka lebar mengindikasikan penjaga atau mungkin Hugo sedang mengawasi dari luar.
Moreno mengusap wajah Shadow yang kusut. Anak itu bisa melihat matanya bengkak karena menangis. “Jadi kau tahu salah?” tanyanya.
Shadow menggeleng. “Tidak tahu. Tapi Tuan bilang aku salah berenang di danau.” Shadow tertuntuk.
“Kata ayah, kau mengingatkannya pada ibu jika berenang di sana,” jelas Moreno.
“Apa?” Kali ini Shadow benar-benar terkejut mendengarnya. “Itukah alasannya begitu marah?” pikir Shadow.
Moreno mengangguk dengan yakin. Bocah itu sangat percaya pada ayahnya.
“Maafkan aku, aku tidak tahu hal itu.” Shadow menunjukkan wajah penuh penyesalan pada putranya.
“Apa kau mau keluar?” tanya Moreno lagi.
“Aku ingin bisa melayanimu lagi, Tuan Muda.” Shadow menatapnya dengan wajah penuh harap.
“Ada syaratnya,” kata Moreno.
“Apa?” tanya Shadow tak sabar. “Katakan padaku, aku akan memenuhinya,” angguk Shadow cepat.
“Kau harus janji tidak berenang di danau lagi,” jawab Moreno. Matanya penuh harapan, bahwa Shadow akan bersedia berjanji.
“Air danau itu sejuk. Sangat menyenangkan berenang di musim panas seperti ini,” kata Shadow ragu.
Jelas sekali gurat kecewa muncul di mata Moreno. “Maka Kau akan terus dikurung …,” lirihnya sembari menunduk. Air mata Moreno menggenang dan jatuh perlahan. Dia sedih jika Shadow terus dihukum oleh ayahnya.
Shadow tidak menyangka jika perkataannya tadi membuat putranya sendiri jadi sedih dan menangis. Dia berjongkok di hadapan bocah kecil yang sedang menunduk dan mengusap pipi itu.
“Aku janji. Aku tidak akan berenang di sana lagi, biarpun hari sedang terik dan airnya menggoda, memanggilku turun!” ujarnya dengan lantang.
Tangannya dengan lembut mengusap air mata Moreno. "Sudah, jangan nangis lagi. Maafkan aku,” bujuknya dengan lembut. Tangannya memeluk punggung anak itu, mengusapnya pelan.
“Maafkan aku, sudah membuatmu sedih. Aku akan mematuhimu mulai sekarang,” janji Shadow lagi. Tapi tangis Moreno justru semakin pecah. Dia memeluk Shadow dengan kuat.
“Tolong, jangan tinggalkan aku seperti ibuku meninggalkanku …,” katanya diantara tangis.
Shadow jelas tersentak mendengar kata-kata itu. Dia memeluk dan menggendong putranya itu dengan sepenuh hati. “Aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau atau ayahmu memecatku,” kata Shadow dengan jelas.
Di luar, Hugo yang mendengar janji seperti itu merasa sangat jengkel. Itu artinya Shadow sudah menyudutkannya. Jadi, jika suatu waktu Shadow pergi, maka itu artinya adalah kesalahan Hugo. Ini tak bisa dibiarkan. Dia tak akan membiarkan pikiran putranya diracuni oleh seorang pengasuh rendahan.
Hugo keluar dari balik bingkai pintu dan berdiri tegak di sana. Wajahnya garang dan siap untuk menghukum Shadow sekali lagi atas ucapan tak bertanggung jawab itu.
Tapi pemandangan di depannya membuat bibirnya terkunci. Dua orang itu sedang saling berpelukan penuh kasih sayang. Shadow sedang membujuk Moreno yang terus menangis. Pria itu tertegun, kejengkelannya tadi langsung sirna.
“Hukumanmu selesai!” ujarnya singkat.
Dia berbalik pergi dan memerintahkan penjaga untuk meninggalkan posnya di depan kamar Shadow. Hugo tersenyum samar mendengar suara tawa gembira putra dan pengasuh itu. Dia berjalan dengan langkah ringan, seakan seluruh bebannya telah terangkat.
Tiga hari berikutnya, Frisia muncul. Wajahnya terlihat lebih cerah. Dia membawa banyak sekali barang belanjaan. Juga pelayan pribadi yang baru. Shadow merasa menyesal, sudah terlalu mengkhawatirkan wanita itu. Ternyata benar informasi para pelayan bahwa Frisia pulang ke rumah orang tuanya.
“Ini hadiah untukmu. Apa kau suka?” tanya Frisia pada Moreno. Bocah kecil itu mengangguk.
“Terima kasih.” Dia menerima hadiahnya dengan sopan.
Semenjak kembalinya, Frisia seperti memiliki pribadi yang berbeda. Namun, mata jeli Shadow tak bisa dibohongi. Wanita itu sedang menyembunyikan kesedihannya dalam-dalam. Mungkin dia tak ingin Hugo merasa besar kepala bisa membuatnya sedih.
Meskipun didasari kepura-puraan, akan tetapi rumah besar itu memang menjadi sedikit damai. Shadow dan Frisia bisa berkomunikasi lagi dengan baik. Dan tampaknya wanita muda itu mengambil pelajaran berharga untuk tidak mencoba memprofokasi Hugo.
“Kukira aku mau ke toko di desa. Apa kau mau ikut Moreno?” tawar Frisia saat sarapan.
Anak kecil itu menoleh pada ayahnya, minta persetujuan. “Bawa pengasuhnya bersamamu, agar kau tidak kerepotan,” saran Hugo,
“Tentu saja. Shadow, bersiaplah setelah sarapan, ya.” Frisia memberi perintah.
Shadow menoleh pada Moreno, memastikan bahwa anak itu memang ingin pergi. Setelah melihat putranya mengangguk, Shadow ikut mengangguk.
Hal itu berhasil merubah ekspresi Frisia beberapa detik. Kemudian berubah biasa lagi. Tapi Shadow berhasil merekamnya dalam ingatan. Itu membuatnya waspada pada Frisia. Dia tak ingin putranya berada dalam pusaran perseteruan Frisia dengan Hugo.
“Mungkinkah Hugo menyadari hal itu, makanya menyuruhku ikut serta?” batin Shadow.
Satu jam kemudian mereka sudah berjalan-jalan di pertokoan. Frisia jelas sedang berusaha mengambil hati Moreno. Dia membelikan banyak mainan dan buku untuk anak itu. Shadow hanya mengawasi dari belakang.
“Aku lelah,” kata Moreno.
“Sebentar kita istirahat di toko es krim, bagaimana?” tawar Frisia. Moreno menggeleng dan mengulurkan tangan pada Shadow. Itu tanda baginya untuk menggendong anak itu.
“Sebaiknya kita pulang,” kata Shadow.
“Masih banyak yang bisa dilihat di sana. Biarkan dia istirahat di toko permen atau es krim. Dia akan baik-baik saja,” tolak Frisia.
“Anda bisa lanjutkan berbelanja. Saya harus membawanya kembali.”
Shadow tak menggubris tawaran Frisia. Dia langsung pergi bersama seorang pengawal. Putranya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Dia lebih mencemaskan Moreno, ketimbang kemarahan Frisia yang tak biasa ditolak.
Dengan mobil, mereka bisa tiba lebih cepat di rumah. Shadow bergegas membawa Moreno ke kamar. Kepala pelayan menatapnya heran.
“Kukira Tuan Muda sedang tidak sehat. Tolong panggilkan dokter untuknya,” perintah Shadow cepat. Kakinya setengah berlari menuju kamar Moreno.
Kepala pelayan itu dengan cepat melapor pada Hugo yang hari itu menerima tamu di ruang dalam. Hugo menyuruh memanggil dokter dan segera menyusul ke kamar Moreno.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada menuduh pada Shadow.
“Tadi dia bilang lelah. Tapi sepanjang jalan kembali, dia terus tertidur begini,” jelas Shadow. Kentara kalau dia sangat cemas. Dia terus menempelkan bibirnya di dahi Moreno secara berkala.
“Kenapa kau terus menciuminya?” tanya Hugo heran.
“Untuk mengukur suhu tubuhnya,” jawab Shadow polos.
“Dasar bodoh. Gunakan termometer. Ambil di laci. Dan cuci dulu wajahmu yang kotor dan tercemar udara luar!” geram Hugo.
Sebuah tawa kecil terdengar di pintu. Dua orang itu menoleh ke sana dan menemukan Lennox von Amstel berdiri di ambang pintu, melihat dua orang panik yang bertengkar. Hugo dan Shadow melotot padanya. Hal itu justru membuat tawanya makin keras.
“Di mana Frisia?” tanya Hugo. Dia tak menggubris Lennox. Adalah aneh melihat Shadow kembali sendiri sementara tadi yang mengajak pergi adalah Frisia.
“Dia masih ingin berbelanja,” sahut Shadow apa adanya.
“Hah! Wanita itu!” geram Hugo sambil menggertakkan rahang.
Saat itulah Shadow tahu bahwa baik Hugo maupun Frisia, sebenarnya memang saling membenci satu sama lain. “Lalu kenapa mereka memaksa menikah?” Pertanyaan itu hanya ada di dalam kepalanya saja.
“Dokter datang!” kepala pelayan memberi tahu.
Seorang pria berumur, masuk. Shadow menyingkir, memberinya tempat untuk memeriksa Moreno. Pria itu langsung memeriksa putranya dengan seksama. Hugo terlihat tak sabar dan ingin segera mengetahui apa yang terjadi pada Moreno.
“Apa dia makan atau minum sesuatu tadi?” tanya Dokter.
“Beberapa jajanan kecil di pasar,” jawab Shadow.
“Kau membelikan jajan sembarangan untuknya?” Hugo langsung marah pada Shadow.
Shadow menggeleng. "Saya bahkan tidak punya uang.” Shadow memasukkan tangan pada kedua kantong di baju seragamnya. Kemudian mengeluarkan tangan sambil menarik serta bagian dalamnya. Dia ingin membuktikan bahwa bukan dirinya yang membelikan apapun untuk Moreno.
Wajah Hugo menggelap. Dia langsung tahu siapa yang selalu punya uang untuk belanja hal tak penting.
“Lupakan!” Dokter menenangkan Hugo yang siap meledak.
“Putramu benar-benar lelah, dia tertidur pulas. Aku hanya berharap tak ada bahan lain dalam makanan itu yang memicu dia tiba-tiba tidur dan tidak bangun bahkan saat kita sedang menggoyang tubuhnya,” kata dokter.
“Itu maksudnya apa, Dok?” tanya Shadow ingin kejelasan.
“Dia sedang tidur, bukan pingsan. Tapi menurutku tidur yang sedikit tidak biasa. Karena, bahkan saat kita goyang tubuhnya, pun. Dia tidak terganggu.”
“Apakah itu bahaya?” tanya Shadow cepat, mendahului pertanyaan yang ingin diajukan Hugo.
“Harus kita pantau. Apakah dia biasa tidur jam segini?” tanya dokter lagi.
“Tidak! Biasanya dia tidur setelah makan siang,” jelas Shadow.
“Sejauh pemeriksaan awal, kondisinya bagus. Mari kita tunggu saja perkembangannya,” putus dokter itu.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?” tanya Hugo cemas.
“Aku akan memeriksa sampel darahnya untuk mengetahui hal lainnya,” jawab dokter itu. Sebuah jarum dan tabung kecil dikeluarkannya.
Shadow berpikir keras, untuk mengingat makanan apa saja tadi yang dimakan oleh Moreno. Wajahnya mengeras memikirkan ada yang berniat jahat pada putranya.
“Kau kenapa?” Lennox mendekatkan tubuhnya pada Shadow dan bertanya dengan suara pelan.
“Aku sedang memikirkan siapa yang berani berbuat jahat pada anak sekecil itu. Kalau aku menemukannya, aku akan menghancurkannya hingga jadi remahan roti!” geram Shadow.
Mendengar itu, tawa Lennox kembali membahana. Hugo langsung melotot marah padanya. Memaksa Lennox menelan tawanya dengan susah payah.
*****