VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 20. Mata Penuh Dendam



Bab 20.


Di seberang sana, dia melihat seorang anak kecil berpakaian putih dan biru, dituntun masuk rumah oleh seorang wanita berpakaian pelayan.


“Moreno!” desisnya dengan penuh perasaan.


Air matanya mengalir jatuh ke pipi, saat bayangan anak kecil itu hilang dari layar teropongnya. Kerinduannya tak tertahankan. Venus jatuh bergelung di tempat tidur dan menangis tersedu-sedu.


“Moreno, ibu merindukanmu, Nak ….”


“Tunggulah ibu datang menjemput! Tetaplah jadi anak yang patuh selama ibu tak ada,” desisnya sambil menebah dadanya yang terasa sangat nyeri.


Sakit yang tak akan bisa dipahami oleh orang lain. Derita yang hanya seorang ibu seperti dirinya lah yang dapat mengerti. Hingga lewat makan malam, Venus masih terus merintih pilu di sana. Dia lelah menangis dan tertidur dengan sendirinya.


Ponselnya bergetar di atas nakas. Venus membuka mata dan hanya melihat kegelapan di dalam kamar. Dengan malas, dia bangkit dan menyalakan lampu kamar. Kemudian menutup pintu menuju balkon. Diperiksanya ponsel. Ada sederet pesan dari Chester, dan tiga panggilan tak terjawab. Dicobanya melakukan panggilan balik.


“Ya. Ada apa?” tanyanya dengan lesu.


“Ada apa denganmu? Kau di mana? Apakah ada orang yang mengganggumu?” Suara Chester terdengar khawatir.


“Kenapa kau pikir ada orang yang mengganggu?” tanya Venus keheranan.


“Karena suaramu menunjukkan kalau kau habis menangis!” jawab Chester.


“Aku hanya tertidur dan bangun karena panggilan masuk darimu!” elak Venus.


“Baiklah. Aku sudah di rumah, dan Bratt bilang kau pergi liburan sejak beberapa hari yang lalu! Di mana kau sekarang?” tanya Chester.


“Mau apa?” tanya Venus masih dengan nada malas yang sama.


“Aku mungkin bisa ikut denganmu! Bukankah akan bagus jika ayah dan putrinya pergi liburan bersama?”


“Aku pergi karena bosan di rumah sendirian. Aku akan kembali besok!” kata Venus cepat.


“Baiklah. Sekarang sudah malam. Kau bisa lanjutkan tidurmu yang terganggu bunyi panggilan ponsel tadi. Selamat istirahat, Venus.”


Gadis itu tercenung melihat ponselnya. Chester sangat baik padanya. Benar-benar mengangkatnya sebagai putri.  Sesuatu yang dulu sangat dia impikan. Seperti umumnya anak-anak panti asuhan, mereka selalu menatap penuh harap pada orang-orang yang datang mengunjungi panti.


“Adopsi aku, Nyonya, Tuan." Seperti itulah harapan hatinya setiap kali melihat beberapa orang muncul di panti. Persis seperti tindakan Jhonny kecil yang mencoba menarik perhatiannya di pertemuan pertama.


Tapi dia tidak dalam kemampuan mengadopsi siapa pun juga, sebelum berhasil menuntaskan misinya menbalas Hugo dan keluarganya.


Pagi terakhir menginap di resort itu, Venus kembali lari pagi mengelilingi jalanan desa kecil itu. Udara segar yang dulu selalu dihirupnya, segera menyambut, seperti memberi harapan baru. Nanti setelah sarapan, dia akan pulang. 


Tak disangka, kali ini dia kembali berhasil melihat putra kecilnya. Dia sedang didorong pelayan di atas sepeda roda tiga, di halaman depan. Tepat ketika Hugo yang selesai joging, masuk ke rumah besar itu.


Tanpa sadar, kaki Venus langsung terhenti. Dia berdiri agak lama di situ, hingga menarik perhatian pada penjaga kediaman. Mereka menutup pintu pagar dengan cepat dan melemparkan tatapan tajam. Venus terkejut dan menghela napasnya. Sebelum terjadi hal yang tak diinginkan, Venus segera melanjutkan lagi kegiatan lari paginya hingga sampai ke resort.


***


"Siang, Nona."


Pekerja taman menganggukkan kepala saat keduanya berpapasan. Dia menggunakan apron khusus hingga sekeliling badannya bisa digantungi peralatan kebun dengan rapi.


"Selamat siang. Aku sangat menyukai hasil pekerjaanmu," puji Venus tulus.


"Terima kasih, Nona." Pria usia empat puluhan itu membungkukkan badannya sedikit. Dia membantu mengangkat Venus.


Kepala pelayan membukakan pintu, sebelum Venus menginjak undakan tangga.


"Siang, Bratt. Apakah ayahku ada di ruang kerjanya?" tanya Venus sambil melenggang masuk.


"Siang, Nona. Tuan menunggu Anda di ruang kerja," jawab Bratt sambil menerima tas yang diserahkan oleh tukang kebun.


"Tolong letakkan tas itu di kamarku," pesannya sebelum berbelok ke kiri, menuju ruang kerja Chester.


Venus masuk setelah ketukan pintunya mendapat jawaban. "Apa aku membuatmu menunggu?" tanyanya begitu masuk.


“Tidak. Tapi aku senang akhirnya kau pulang juga. Aku membelikanmu beberapa hadiah dari luar negeri,” ujar Chester bahagia.


“Aku yakin itu akan terlihat sangat cantik!” tebak Venus malas. Dia duduk menghempas di sofa dekat jendela, menikmati taman asri di luar sana.


“Kau boleh melihat dan cobalah dulu. Nancy meletakkannya di kamarmu,” ujar Chester, masih dengan senyuman di wajahnya.


“Akan kulihat.” Venus bangkit.


“Nanti sore kita pergi. Jadi bersiaplah!”


Venus mengerti bahwa itu adalah perintah dari jenderal utama. Artinya tidak ada yang bisa bantah.


“Baik, aku kembali ke kamarku dulu.” Venus mengangguk dan pergi.


Venus melihat beberapa baju indah dan mahal di gantung di sebelah meja hiasnya. “Sangat bagus,” gumamnya.


Kemudian dia beristirahat dan berpikir. Mau dibawa ke mana lagi nanti sore?” batinnya.


Tok tok tok


Ketukan di pintu, membangunkan Venus yang tertidur dengan jendela terbuka, akibat udara panas.


“Ya?” teriaknya gusar.


Nancy masuk kamar dan langsung menyalakan semua lampu. “Nona, Tuan mengingatkan anda untuk bersiap,” Nancy membenahi sepatu, tas dan blazer Venus yang berserakan di mana-mana.


“Apakah ini sudah sore?” tanya Venus linglung.


“Waktu anda tinggal sedikit, Nona!” Nancy bersikap tegas.


“Oke, oke!” Venus langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Petang itu, Venus sudah siap untuk menemani Chester pergi ke tempat


yang ingin dikunjunginya. Museum!


“Nanti kau bisa berjalan-jalan sendiri dan melihat apapun yang kau sukai. Aku ada sedikit pekerjaan di sana. Oh ya, pasang bros cantik ini di sini!” Chester memasangkan sebuah bros berbentuk mawar yang dihiasi aneka warna permata.


Bagi orang awam, itu pasti akan dianggap hadiah yang sangat mahal. Tapi Venus tahu, itu adalah kamera tersembunyi. Venus bisa menemukan lensa perekam sangat mungil diantara belasan batu zamrud aneka warna.


“Baiklah. Karena kali ini adalah tugas, maka aku akan melakukannya senang senang hati!” ujarnya dengan mengulas senyum.


“Hah! Kau tak bisa dikelabui!” Chester tertawa senang. Mereka bergandengan keluar dari rumah. Bahagia selayaknya ayah dan putrinya. Tak lama, mobil yang mereka naiki segera meluncur pergi.


Di kejauhan, tanpa disadari, ada tiga pria yang sedang mengamati kediaman itu. “Kau yakin putrinya tak terlibat?” tanya seseorang.


“Aku mengikutinya saat Chester pergi. Gadis itu seperti halnya gadis kaya lain. Hanya suka bersenang-senang. Dia berlibur di sebuah resort kalangan atas dan hanya berenang untuk mengusir hawa panas!” jawab temannya.


“Kalau begitu, kita harus mengamati, apa langkah Chester kali ini. Semoga dia tetap bersih seperti dugaan kita. Aku hanya kasihan melihat seorang putri kaya yang terlantar, jika ayahnya tiba-tiba hilang!”


“Aku justru sangat berharap dia melakukan kecerobohan. Jadi kita bisa punya alasan untuk membereskannya!” Itu suara orang ketiga. Matanya begitu penuh dendam!


*****