
Beberapa bangsawan menyapa pasangan itu, karena mereka adalah keluarga tuan rumah pesta. Keduanya duduk bersama dengan keluarga besar Baron Tomas Holloway dan Damon von Amstel, kakek Hugo.
Acara pesta yang membosankan dimulai dengan kata-kata sambutan yang sangat memuakkan bagi Venus. Dia menyibukkan diri dengan makanan dan melihat sekitarnya.
Setelah Baron Holloway dan istrinya memotong kue dan membagikan pada putri serta kerabat lain, maka acara bebas dimulai. Makanan melimpah, minuman tiada henti. Irama musik silih berganti. Venus tak lelah mencari sosok Moreno diantara para tamu VIP. Hingga kemudian dia berhasil meyakinkan diri bahwa pasangan itu tidak akan membawa Moreno ke pesta keluarga sang Baron, untuk menjaga nama baik keluarganya.
Dengan kecantikannya yang gemilang, Venus tak kesulitan berjalan dari satu bar ke bar lain, makin mendekat ke lingkungan tamu vip. Hingga akhirnya dia berhasil menemukan meja dengan nama Moriarty di atas meja yang belum disingkirkan. Dia segera duduk di situ dan melihat keramaian.
“Anda siapa?” tanya seorang nyonya yang duduk di sebelahnya.
“Saya bukan siapa-siapa. Hanya ingin melihat keramaian di sini,” sahut Venus sambil tersenyum manis tanpa rasa bersalah.
Nyonya itu melihat kepadanya dengan pandangan aneh dan merendahkan. Tapi Venus tak peduli. Dia sedang mencari cara untuk mendekati Hugo. Sampai dia sendiri bosan dan malam semakin larut.
Venus harus mengakui, tanpa Chester, maka Venus masih belum cukup luwes untuk berkenalan dengan orang yang baru ditemuinya. Hanya beberapa pemuda pemudi sebaya yang cukup ramah, yang berhasil berbincang dengannya. Venus berjalan ke taman untuk melepas penat akibat suara musik dan dengung perbincangan ribuan orang.
“Hah! Tenang sekali di sini,” katanya senang.
“Apa kau juga tidak menikmati pestanya?” Seseorang yang tak dilihat Venus, menyapa.
Dia membalikkan badan untuk melihat siapa yang telah menyapa. Lalu sedikit terkejut, karena itu adalah istri Hugo. “Ah … tidak seperti itu juga. Aku menikmati sajiannya yang nikmat. Tapi terlalu banyak musik dan dengung suara orang dala satu ruangan, benar-benar membuat penat.” Venus menjelaskan dengan canggung.
“Tak apa. Tak perlu terlalu sungkan padaku,” kata orang itu.
“Kurasa kita belum berkenalan. Namaku Shadow.”
Venus mengajukan tangannya untuk bersalaman. Keadaan jadi sedikit canggung karena Frisia tidak menyambut uluran salamnya. Dengan cepat ditariknya tangan dan berkata dengan kikuk. “Tentu Anda tidak perlu memperkenalkan diri. Semua orang di distrik ini mengenal Anda, Baroness.”
“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kau berasal dari keluarga mana?” selidik Frisia.
“Saya bukanlah siapa-siapa. Hanya gadis yang penasaran tentang pesta para bangsawan,” jawab Venus.
“Bagaimana kau bisa masuk? Aku kenal ayahku. Dia tak akan mungkin mengijinkan orang tak berkepentingan untuk ikut ke dalam pestanya begitu saja.
Venus tertawa kecil. “Tentu ada trik sendiri baru saya bisa sampai di sini,” bisik Venus dengan suara rendah, seakan takut terdengar orang lain. Kedua wanita muda itu tertawa kecil. Entah menertawakan siapa.
“Aku lelah dengan kehidupanku dan ingin melihat sesuatu yang menyegarkan,” kata Venus sambil melihat bintang di langit malam. Matanya menerawang jauh, menitip kerinduan pada gemintang, untuk disampaikan pada putranya.
“Setiap orang lelah dengan hidupnya sendiri,” timpal Frisia.
“Hidup tak selalu semanis impian,” tambah Venus.
“Kadang lebih pahit dari bittergourd,” Frisia menambahkan lagi.
“Lebih beracun dari pada sianida!” ketus Venus.
“Kematian dengan sinida jauh lebih cepat!” Nada geram dalam suara Frisia dapat dikenali Venus.
“Sedikit cahaya murni seperti bintang di langit, mampu memberi kita kekuatan untuk bertahan.” Venus berkomentar sambil menunjuk satu bintang kecil yang tampak cemerlang di langit.
Frisia mengikuti arah telunjuk Venus dan memperhatikan bintang kecil yang berkelap-kelip itu. Perlahan gurat senyuman tampak di wajahnya.
“Menurutmu, cahaya apa yang paling murni di bumi?” tanya Frisia.
“Cahaya cinta!” Venus menjawab tanpa ragu.
Di sebelahnya, Frisia mengangguk-angguk menyetujui pendapat Venus. “Terima kasih, Kawan. Kau memberiku tambahan semangat dalam hidup. Siapa namamu tadi?” tanya Frisia.
“Shadow!” sahut Venus. “Setiap kali terpuruk, aku terus mengingati diriku sendiri. Segelap apapun malam, pasti akan berganti dengan pagi!” Senyum Venus sangat tulus.
“Aku mengerti, terima kasih. Aku harus segera kembali.” Kali ini Frisia mengulurkan jabatan tangan dan Venus
segera menyambutnya.
Venus masih memandang langit gelap, sebelum pergi meninggalkan pesta dengan senyuman bahagia. Dia merasa sudah selangkah lebih dekat dengan putranya.
***
sendiri yang tak ingin ditundanya lagi.
“Aku akan keluar beberapa hari, Bratt. Jika ayah pulang, kabarkan padaku.” Venus berjalan sambil menjinjing tas traveling kecil.
“Anda mau ke mana?” Bratt terlihat khawatir.
“Aku ada sedikit urusan.” Venus dapat melihat keberatan di mata pria yang lebih tua dari Chester itu.
“Tenang saja, ini bukan hal yang berbahaya, aku janji!” katanya menenangkan kepala pelayan rumah Moriarty.
Di depan pintu keluar, Venus berhenti sebentar setelah memanggil sopir untuk mengantarnya. Dia menoleh pada Bratt. “Apakah kalian punya cukup uang untuk seminggu? Kukira aku akan pergi selama itu,” kata Venus.
“Nona, saya justru mengkhawatirkan keadaan Anda di luar. Siapa yang akan mengingatkan Anda makan dan mengurus kamar sebelum tidur? Siapa yang menjaga keamanan Anda?” Bratt terlihat sangat kesulitan. Tampaknya Chester telah menekankan soal keselamatan Venus pada pria tua ini.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku masihlah anak asuhan Falcon, dulunya, jangan lupakan hal itu.” Senyuman dilemparkannya sebelum menuruni tangga dan masuk ke mobil.
“Berhati-hatilah, Nona. Kabari aku jika Anda mengalami kesulitan apapun!” teriak Bratt mengingatkan.
“Oke!” Venus melambaikan tangannya saat mobil bergerak pergi.
“Oh, Tuan. Anda di mana? Bagaimana caranya menjaga putrimu yang merasa tidak perlu dijaga?” keluh Bratt
memandangi mobil yang makin menjauh.
“Tenang saja. Nona kita pastiakan baik-baik saja!” kata Nancy.
“Astaga … kau mengejutkanku! Jangan pernah lagi berdiri diam-diam di belakangku!” tegur Bratt pada Nancy.
“Atau aku akan memukulmu!” Bratt pergi dari sana dengan kesal. Nancy meliriknya sambil tersenyum. Gadis itu terus berdiri di depan pintu, hingga mobil yang dikendarai Venus hilang dari pandangan.
***
“Kita mau ke mana, Nona?” tanya sopir.
“Antar aku ke bukit Springhills. Aku ingin berlibur beberapa hari di sana,” jawab Venus.
“Saya tahu tempat libur bagus lainnya, Nona.” Sopir menawarkan alternatif lain.
“Lain kali, kau bisa tunjukkan padaku. Sekarang kita ke tujuan semula saja. Aku sudah memesan hotel.”
“Baik, Nona.” Sopir itu tak lagi banyak bicara. Dia menyetir dengan hati-hati.
Setelah beberapa waktu, mereka sudah mencapai bukit Springhills yang indah. Udara dataran tinggi yang sejuk di musim panas, serta danau yang indah memanjakan mata adalah paduan sempurna tempat wisata.
Sopir melambatkan mobil, hendak berbelok ke resort yang sebelumnya dikunjungi Venus.
“Terus saja. Aku tidak memesan kamar di sini,” cegah Venus.
“Baik, Nona.” Mobil melanjutkan jalannya hingga naik ke bukit yang lebih tinggi.
“Aku kira, hotel yang kupesan ada di belokan sana!” tunjuk Venus. Tangannya memegang ponsel untuk mencari nama hotel yang telah dia pesan.
“Ya, itu!” tunjuk Venus ke arah kanan.
“Anda yakin memesan hotel di sini? Tidakkah ini terlalu sederhana?” sopirnya kebingungan.
“Point dari liburan ini adalah menikmati suasana alamnya. Kalau mau pelayanan mewah, lebih baik aku tetap di rumah, bukan?
Sopir itu tak bisa berkata-kata lagi. Dia tak mungkin membantah perkataan nonanya.
Venus melangkah ke dalam hotel kecil nan cantik itu. Kemudian diantar ke kamar yang telah dipesannya. Lalu membuka jendela lebar-lebar. Dia menikmati pemandangan di depan mata dengan puas. Di bawah sana bukan hanya ada tanah pertanian dan danau. Tapi juga kediaman Hugo!
Yah, dari jendela kamar itu, dia bisa mengamati rumah besar warna putih di tepi danau yang membiru. Senyumnya merekah. “Moreno ….”
*****