VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 57. Penangkapan Damon



Dari balik pintu yang sedikit terbuka, sepasang mata polos berkedip-kedip bingung. Ada jejak kesedihan tersembunyi di sana. Lalu dia kembali naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya yang gemetar.


Tak berapa lama, Venus kembali dan naik ke tempat tidur. Berbaring di sebelah  Moreno, berusaha untuk kembali tidur. Dia tidak tahu cara apa yang akan dilakukan Chester untuk mengeluarkan ibu Hugo dan kekasih Frisia.


***


Pagi hari ketika Venus keluar dari kamar bersama putranya, dari jendela kaca terlihat kesibukan di markas itu sedikit bertambah.  Setelah menyiapkan sarapan sereal untuk Moreno, dia keluar dan bertanya pada salah seorang yang sedang berlari.


“Apakah ada misi?” tanya Venus.


“Ya. Penguasa Kota Oakenvalle meminta bantuan untuk menangkap seseorang.” Pria itu kembali lari setelah mengatakan hal itu.


Venus terdiam. Dia mengerti maksud dari ucapan prajurit tadi. Ayah Frisia, Baron Thomas Holloway meminta bantuan Chester untuk menangkap seseorang? Itu pasti Damon von Amstel! Venus sangat yakin akan hal itu.


Dia kembali masuk ke bangunan yang biasa ditempati Chester di markas. Dilihatnya Moreno masih duduk di kursi makan. Menyuap sarapannya sambil sesekali menoleh ke jendela kaca besar. Melihat orang-orang berpakaian tentara berlarian dengan senjata lengkap di pinggang.


“Tempat apa ini?” tanyanya saat menyadari Venus sudah kembali.


“Ini markas tentara bayaran!” Venus menjelaskan.


“Kau bekerja sebagai tentara bayaran?” tanya Moreno.


“Tidak. Aku hanya ikut berlatih bersama mereka. Sejujurnya, pemilik tempat ini adalah ayahku,” kata Venus lagi.


“Kenapa kau ingin berlatih seperti tentara?” tanya Moreno lagi.


“Karena wanita lemah mudah dimapulasi dan dikorbankan oleh orang lain!” jawab Venus getir.


“Apa kau sungguh ibuku?”


Venus menoleh cepat. Dilihatnya wajah serius Moreno. Dia bangkit dari duduk dan berjongkok dengan menumpu lutut di lantai di depan putranya. Diamatinya lekat-lekat mata yang menuntut jawaban itu. Seulas senyum haru menyeruak di wajah Venus.


“Aku tidak tahu dari mana kau mengetahuinya. Tapi, ya ... aku ibumu, Jeannette.” Venus mengatakan itu dengan hati-hati.


“Kenapa wajahmu tidak seperti difoto di kamarku?” tanya Moreno lagi.


“Aku mengoperasi wajahku, agar tidak dikenali oleh ayahmu,” jawab Venus jujur.


“Apa benar dia membuangmu ke laut agar bisa menikah dengan Frisia?” tanya anak itu lagi.


“Dari mana kau mengetahuinya?” tanya Venus heran.


“Aku mendengar kau bicara dengan pria yang mengaku kakek padaku,” jawab Moreno. Matanya kembali dilemparkan keluar jendela dan melihat beberapa prajurit sedang berlari dalam barisan.


Venus tak bisa berkata-kata lagi. Diulurkannya tangan untuk memeluk putranya. Awalnya anak itu ingin langsung memeluknya seperti biasa. Tapi kali ini dia tak membalas keinginan Venus. Tangan kecilnya menyuapkan makanan ke mulut dengan sedikit gemetar.


“Apakah Ayah mati?”


Suara Moreno yang tercekat, menyadarkan Veus bahwa putranya pasti sudah mendengar banyak hal tadi malam. Tanpa menunggu persetujuan Moreno, dia memeluk dan membawa anak itu ke dadanya.


Tangis Moreno pecah. Sejahat apapun Hugo pada Venus, Tapi dia adalah ayah yang baik bagi putranya. Anak ini pasti sangat sedih sekarang.


“Maafkan aku, Aku tidak sempat mencegah dia menggunakan pisau itu,” ujar Venus penuh penyesalan. Tangis Moreno belum berhenti.


“Dia berpesan agar aku menjagamu tetap aman dan jauh dari kakek buyutmu Damon. Dia juga ingin aku membebaskan ibunya.”


“Apa ayahmu pergi untuk membebaskan nenekku?” tanya Moreno di sela tangisan.


“Bisakah nenek ikut tinggal dengan kita jika suda bebas?” tanya anak itu lagi, penuh harap. "Aku belum pernah melihatnya.


“Mari tanyakan itu pada kakekmu, setelah dia pulang nanti.” Venus tersenyum. Putranya tidak lagi menangis sesedih tadi.


Venus menyalakan televisi dan mencari berita terbaru. Belum ada informasi apapun tentang kematian Hugo ataupun penangkapan Damon. Venus pergi ke pantri dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.


“Lihat! Itu rumah Kakek!” seru Moreno.


Anak itu sekarang sudah duduk di depan televisi. Venus ikut duduk di sebelahnya. Menyuap sesendok sereal dengan mata tak lepas dari tivi.


Tuduhan yang dibuat oleh Penguasa Kota untuk menangkap Damon adalah penipuan bisnis, pencucian uang, dan sederet tuduhan receh lain yang membuat Venus geleng kepala.


Chester hanya perlu alasan untuk bisa masuk ke sana dan membongkar semua kedok yang dikenakan Damon selama bertahun-tahun. Venus bisa lihat bagaimana ayahnya sangat lihai mencari teman yang sama-sama membenci Damon.


Di bagian depan, petugas polisi maju lebih dulu. Damon dan pasukannya terlihat hanya sebagai back up para polisi saja. Padahal sebenarnya, merekalah yang punya tugas utama membebaskan ibu Hugo dan kekasih Frisia.


Adu senjata tak terelakkan dengan para pengawal Damon. Untuk itulah pengawal Chester dibawa, karena mereka dalah para tentara terlatih, bukan hanya polisi kota.


Setelah beberapa waktu menghadapi perlawanan pegawal Damon, Akhirnya kediaman itu berhasil dikuasai.  Venus bisa lihat seseorang datang dengan helikopter lain. Venus tercengang melihatnya.


“Paman Besar!” Mata Moreno melotot melihat ke arah tivi.


“Mau apa dia ke sana?” desis Venus.


“Apa Ibu khawatir padanya?” Mata kecil Moreno penuh tanda tanya. Venus menggeleng tegas. Dia sangat fokus memperhatikan apa yang terjadi.


Chester dan kepala polisi mengikuti langkah Lennox masuk ke dalam rumah. “Apakah Chester juga bekerja sama dengannya?” pikir Venus.


Helikopter stasiun tivi sekarang berani mendarat. Wartawannya berlari masuk ke dalam rumah Damon yang para penjaganya berhasil dilumpuhkan.


Penyiar tivi pria itu berdiri di ruang tengah, tempat keluarga besar Von Amstel biasa berkumpul. Pria itu menghadap kamera yang menagrah padanya.


“Sekarang kita bisa melihat kemewahan dari kediaman yang selama puluhan tahun menjadi misteri!”


Kamera menyorot dengan lampu sangat terang ke semua barang antik dan mahal yang telah dikumpulkan Damon sejak puluhan tahun.


“Bodoh! Kenapa kau malah bergaya di sana! Ikuti polisi itu ke ruang bawah tanah!” komentar Venus geram.


Moreno terkejut melihat sikap Venus yang kasar kali ini. Anak itu sedikit menjauh dari ibunya. Dan Venus menyadarinya.


“Maafkan aku. Aku terbawa suasana. Sebagai prajurit, kami akan mengikuti masuk ke dalam ruangan dan mencari sandera. Bukan malah menayangkan siaran langsung di ruang duduk.”


Venus menunjukkan permohonan maaf tulus atas sikapnya yang tak layak ditiru tadi. Putranya mengangguk, tapi dia tetap menjaga jarak dari Venus.


“Aku ibumu, aku tidak akan pernah menyakitimu!” bujuk Venus sedih.


Akhirnya Moreno tak berontak waktu dipeluk Venus. Keduanya kembali melihat siaran angsung tivi. Tapi memang, hal menarik dari penggrebekan adalah mengikuti para polisi masuk. Bukan malah bergaya di depan ruangan penuh barang mewah!


Kemudian Damon keluar dalam keadaan tangan diikat di punggung. Kepalanya terus menunduk ke lantai. Di belakangnya kepala polisi memegang kuat tangan pria tua itu, menggiringnya ke arah landasan helikopter. Kameramen dan penyiar mengejarnya. Tapi  polisi menghalangi mereka mendekat.


“Kakek buyut ....” gumam Moreno.


******