VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 35. Hilangnya Frisia



Pria itu tidak mengganggu, dia hanya mematikan lampu besar dan membiarkan satu lampu tidur menyala kecil untuk penerangan. Lalu keluar dan menutup pintu dengan hati-hati.


Di ruang kerjanya, masih ada Frisia yang dihukum berlutut sejak Damon dan anggota keluarga lain pulang. Dia mendapat hukuman atas kekurang ajaran pelayannya yang mengganggu acara makan malam dengan kakek, hingga Hugo dan Frisia dipanggil dan diberi teguran keras.


Wanita itu tidak menangis sama sekali dengan hukuman yang didapatnya. Wajahnya mengeras, menyimpan api dendam. Pandangannya tajam pada satu titik, seperti sedang mengumpulkan kekuatan.


“Apa kau berencana membunuhku karena kesalahanmu sendiri?” tegur Hugo dingin.


“Kurasa kau telah menimbun banyak informasi keliru dan penuh kebencian padaku! Lalu kau menyuruh pelayanmu untuk menyabotase acara makan dengan kakek! Kau kira aku yang akan dipermalukan dan dihukum? Sekarang kau buktikan sendiri, siapa yang berbuat, dia yang menuai hasil!” Hugo melangkah ke pintu.


“Renungi kesalahanmu!” Dia pergi. Pelayan segera mengunci pintu ruang kerja itu.


Hari-hari berikutnya adalah hari yang damai bagi Shadow dan Moreno. Beberapa kali Hugo membawa Moreno berjalan keluar di pagi hari. Shadow mengikuti dari belakang. Hatinya bahagia melihat Moreno yang makin lincah dan hangat. Dia sudah kembali menjadi anak kecil yang polos dan tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun, selain makan dan bermain.


Namun ada yang berbeda di rumah itu sejak acara makan malam. Dia tidak menemukan Frisia di mana pun juga. Hal pertama yang dicurigainya adalah, pembunuhan Frisia, seperti dulu Hugo membunuh dirinya! Jadi, Shadow menanyakan secara sambil lalu pada pelayan, kenapa nyonya rumah itu tak terlihat sejak beberapa hari.


“Nyonya pergi ke rumah orang tuanya,” jawab salah satu pelayan.


“Berhari-hari?” pikir Shadow. Tentu saja dia tak menunjukkan bahwa dirinya tak percaya apa yang mereka katakan. Shadow tetap mengurus Moreno dengan baik. Dia punya rencana sendiri untuk menyelidiki hal itu.


Hingga makan malam, batang hidung Frisia masih tidak terlihat. Hanya ada Hugo, Moreno dan dirinya yang menemani anak itu.


“Kau, ikutlah makan bersama. Jadi tidak perlu terlambat ataupun kelupaan makan karena ketiduran mengurus putraku,” kata Hugo.


Shadow ingin menolak halus, tapi tangan Hugo sudah bergerak menyuruh pelayan mengambilkan piring untuknya. Mereka makan dalam kesunyian. Kecuali kalau Moreno tiba-tiba menanyakan atau meminta sesuatu. Dan Hugo akan memberinya tatapan lembut, layaknya seorang ayah. Menjawab pertanyaan putranya, hingga mengambil sesuatu yang diingin Moreno, ketika itu ada di depannya. Anak itu sangat senang dan terus berceloteh dengan riang.


Shadow sendiri bahkan terkejut melihat perubahan Hugo itu. “Apakah dia berkepribadian ganda?” batin Shadow keheranan.


Setelah menemani putranya hingga tertidur, Shadow kembali ke kamarnya. Dia melapisi pakaian santainya dengan setelan hitam praktis. Shadow sudah membulatkan tekad untuk menyelinap dan memeriksa setiap ruangan di rumah itu. Dia harus menemukan Frisia. Jangan sampai gadis muda itu juga mati sia-sia seperti dirinya dulu.


Lewat tengah malam, Shadow mengamati luar jendela kamarnya. Dia tak boleh tertangkap cctv yang dipasang di seluruh area rumah. Beruntung bahwa kamarnya berada di lantai dua area dalam. Cctv dipasang tepat di bawah jendelanya, untuk memantau sekeliling pagar kediaman. DIcarinya lagi cctv lain yang mungkin dipasang di bawah lantai tiga yang menjadi kamar pribadi Hugo dan ruang kerjanya.


Setelah yakin tidak akan tertangkap oleh cctv, Shadow segera keluar dan menutup lagi pintu kacanya dengan rapat. Kemudian dia menumpu kaki di dasar bingkai jendela dan perlahan berdiri rapat ke tembok. Perlahan-lahan bergeser, dan menjangkau bingkai jendela kamar mandinya.


Jantungnya bergemuruh seperti mau lepas. “Nyaris saja,” ucapnya lirih sambil memejamkan mata. Menghapus bayangan buruk jika dia jatuh ke atas tembok pagar yang dialiri listrik. Shadow melihat ke atas, tempat satu tangannya tergantung pada batu tepian jendela kamar putranya.


Sambil mengayunkan tubuh, tangannya yang kiri mencoba menjangkau batu itu. Percobaan pertama tidak berhasil. Sambil menahan nyeri di bahu kanannya, Shadow kembali mengayunkan tubuh lebih tinggi, agar tangan kirinya bisa berpegangan dan membantu menahan berat badannya.


“Syukurlah ….” lirihnya sambil mengatur napas.


Shadow melihat pipa talang air yang tersambung hingga atap rumah di lantai tiga, tak jauh dari jendela itu. Dengan menggeser kedua tangan di bingkai jendela, tubuh makin mendekati pipa tersebut. Shadow harus membuat perhitungan yang tepat kali ini, atau dia selesai, karena tak ada penahan lain di bagian dinding itu, hingga teras samping dimana para pelayan suka bergosip.


Perlahan dia mencoba naik ke atas bingkai jendela. Dengan cara ini, menjangkau pipa bisa lebih mudah dan dekat, dari pada saat dia bergantungan.


Saat dia berhasil menginjak batu yang membingkai jendela, lututnya menghantam jendela kaca kamar Moreno. Tidak cukup keras untuk bisa memecahkan kaca, tapi bisa terdengar di malam yang sunyi. Tubuhnya tiba-tiiba kaku. Cemas jika putranya terbangun dan menemukannya bergelantungan seperti laba-laba di jendela. Setelah tak ada yang bergerak di dalam kamar, Shadow akhirnya bisa berdiri tegak dan menghindari jendela kaca itu ke sampingnya. Tubuhnya merapat ke dinding agar tak ada bayangan yang terlihat di dalam kamar.


Telinga tajamnya menangkap suara pintu kamar Moreno dibuka. Tak ada waktu untuk berpikir, Shadow langsung melompat dan menjangkau pipa. Dia segera memanjat naik ke bawah atap dan bersembunyi di sana. Di balik kegelapan.


“Sial!” batinnya. Ada bayangan kepala orang keluar dari jendela kamar putranya. Melihat ke kanan dan kiri, mungkin mencari asal bunyi yang terdengar.


“Apakah ada pengawal yang ditempatkan di depan pintu kamarnya?” pikir Shadow heran. Bagaimana bisa seseorang masuk dengan cepat jika tak ada yang berjaga di luar?


“Sial!” kesalnya lagi. Ada kemungkinan orang itu mencarinya ke kamar. Rumah ini sama sekali tak ada privasi. Siapapun bisa masuk ke kamar para pelayan jika dibutuhkan.


Shadow turun di teras kecil yang dia tidak tahu apa fungsinya. Lebarnya hanya sekitar empat puluh sentimeter saja. Tapi memanjang hingga ke ujung bangunan depan. Tak ada pintu ataupun jendela di situ. Menurut perhitungan Shadow, di dalam tembok itu adalah kamar Hugo. Dia berlari melintasi bidang kecil itu dan melihat teras yang sebenarnya. Ada seorang penjaga yang sedang berjalan ke arahnya. Shadow melompat turun dengan cepat dan bersembunyi di bawah teras kecil itu. Merapatkan tubuhnya hingga sama sekali tak terlihat.


Dapat didengarkan injakan kaki di batu di atas kepalanya. Sekarang dia tahu, bahwa teras kecil itu berfungsi sebagai akses untuk memeriksa bagian belakang lantai itu. “Syukur aku tidak sedang bergelantungan di pipa!” kata hatinya.


Setelah penjaga itu pergi, Shadow berjalan di atap bangunan lantai dua yang tak terlihat dari pandangan para penjaga. Di bergerak cepat, sebelum ada yang menyadari bahwa dia tak ada di dalam kamar.


“Dia tak ada di kamarnya. Periksa seluruh tempat!” Suara Hugo menggelegar. Para penjaga segera berhamburan menjalankan perintah.


*****