
Apa yang menimpa Moreno waktu itu, menjadi pelajaran berharga bagi Frisia. Dia tak ingin lagi mengajak Moreno keluar rumah, agar tidak dicurigai dan mendapatkan hukuman lagi.
Minggu berikutnya, Lennox kembali datang. Semuai janjinya waktu itu, dia membawakan hadiah kereta terbaru untuk Moreno. Kemudian mereka bermain dengan gembira di dalam kamar anak itu bertiga saja.
“Apa kalian tidak bosan bersembunyi di kamar terus?” tanya Frisia yang sudah berdiri di bingkai pintu. Dia merasa dikucilkan dan bosan sendirian duduk di depan televisi ataupun memandangi teras samping.
“Kami sedang bermain!” kata Lennox. Kemarilah jika kau bosan dan ikuti permainannya!” ajaknya santai.
Frisia tidak tertarik. Jadi dia hanya duduk di kursi dan memperhatikan tiga orang yang berinteraksi dengan seru. Akhirnya Shadow merasa kasihan padanya dan ikut duduk mengamati Moreno dan Lennox yang sedang menyambungkan rel baru.
“Aku ingin sekali ke desa dan berbelanja,” kata Frisia.
“Kau tinggal mengajak pelayanmu dan penjaga,” kata Shadow cuek.
“Bagaimana kalau kita ke pasar besok pagi? Tidak perlu ajak Moreno lagi. Nanti dia sakit entah karena apa, aku lagi yang salah,” kata Frisisa cemberut.
“Itu karena Kau yang mengajaknya,” kata Shadow lagi. Dia tidak mengalihkan pandangan dari putranya sedikit pun.
Frisia malas mendebat Shadow, jadi dia bangkit dan keluar dari kamar.
Dua minggu berlalu.
Pagi saat sarapan, Hugo mengatakan bahwa Moreno diundang untuk ikut hadir dalam pertemuan di kediaman Damon, kakeknya. Hugo meminta Shadow ikut serta untuk melayani Moreno. Shadow tak mungkin menolak tugas itu, meskipun dia merasa trauma pergi ke sana. Jadi dia hanya mengangguk mengiyakan.
Pukul enam sore, Mereka berempat pergi dengan helikopter ke tempat Damon von Amstel. Acara berbintang hanya sebentar, karena semua sudah hadir tepat waktu.
Shadow menunggu di luar ruang makan. Dia hanya memperhatikan para pelayan dapur hilir mudik membawa mangkuk-mangkuk makanan ke dalam sana. Untuk membunuh waktu, dia menanyakan kabar Chester.
“Minggu depan aku ada tugas lain. Kuharap kau baik-baik saja selama aku tak ada,” kata Chester.
“Tentu. Aku akan melakukan tugasku dengan sungguh-sungguh,” balas Shadow. “Kau juga harus lebih hati-hati lagi. Jangan sampai terluka,” tanbah Shadow lagi.
“Kau bisa hubungi Bratt jika ada yang mendesak,” Chester mengingatkan lagi.
“Oke,” balas Shadow.
“Chester, kurasa Lennox menyukaiku,” lapor Shadow.
“Kalau begitu, manfaat dia untuk menggali informasi dan memuluskan rencanamu membawa lari Moreno!” saran Chester.
“Baik. Akan kulakukan seperti itu,” baas Shadow.
Dua jam kemudian, acara makan malam berakhir. Tapi seperti biasa, Hugo akan dipanggil Damon ke kantornya. Jadi mereka harus menunggu dia kembali, baru bisa pulang.
Frisia berbincang dengan Sandrina, sementara Shadow menemani Moreno yang terlihat bosan dan mengantuk. Seperti biasa, Lennox tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Shadow.
Lennox membawakan sepiring penganan kecil, karena dia tahu bahwa Shadow terus menunggu di luar ruang makan tanpa diberi makanan.
“Ini untukmu. Kau pasti sangat lapar,” ujarnya penuh perhatian.
Semula Shadow ingin bersikap dingin seperti biasa dan menolak pria itu. Tapi saran Chester hinggap di pikirannya. Dengan sopan dia mengangguk dan menerima piring kecil penuh makanan. “Terima kasih.”
“Apa Anda masih ingin penganan, Tuan Muda?” tawar Shadow pada Moreno. Anak itu menggeleng. Dia sudah merasa nyaman berbaring di sofa besar dengan kepala di atas paha pengasuhnya.
Shadow mengambil sepotong kue dan memasukkannya ke mulut. Dia memang lapar. Jadi itu sungguh rejekinya, atau dia harus menunggu tengah malam saat mereka sampai rumah, baru memeriksa dapur.
“Apa kau punya kekasih?” tanya Lennox dengan suara rendah. Shadow menggeleng.
Lennox merasa jalannya makin terbuka dengan jawaban Shadow. “Aku menyukaimu,” bisiknya hati-hati.
Shadow melihat Lennox sekilas. Tampaknya pria itu tulus. Tapi, siapa yang bisa menebak isi hati seorang pria. Lagi pula, tujuan Shadow masuk ke dalam kediaman Hugo hanyalah untuk membalaskan dendam dengan mengambil putranya. Dia tidak berniat mencari kekasih dalam waktu dekat.
“Saya hanya seorang pengasuh, Tuan.” Shadow menggeleng.
Lennox terdiam mendapatkan jawaban singkat yang dia sendiri juga belum tahu bagaimana mengatasinya. Dia tahu hatinya sendiri. Dia sangat menyukai Shadow. Dia telah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Shadow di rumah Hugo. Hanya saja, menjalin hubungan asmara yang serius di dalam keluarga Von Amstel, tidak semudah mengumbar nafsu sesaat.
Persetujuan Damon snagat dibutuhkan jika dia ingin serius dengan Shadow. Dan di situlah persoalannya. Dia sungguh-sungguh jatuh cinta pada Shadow. Dan menurutnya, gadis seperti Shadow sudah sangat langka dan tak boleh dilepaskan begitu saja. Dia ingin menjadikan Shadow hanya miliknya.
“Tapi aku serius jatuh cinta padamu,” kata Lennox lagi.
“Saya bukan siapa-siapa, Tuan,” kata Shadow lagi. Dia ingin tahu, sejauh apa Lennox akan berusaha mendapatkannya. “Keluarga saja tidak punya,” tambahnya.
“Jadikan aku keluargamu. Aku serius jatuh cinta padamu, Shadow.” Lennox mengambil tangan Shadow dan menggenggamnya.
Dengan cepat tangan itu ditarik dan dilepaskan Shadow. “Saya sedang mencoba bekerja dengan baik, Tuan. Saya tidak ingin kelaparan dan jadi gelandangan jika kehilangan pekerjaan lagi,” ujarnya dengan suara sedikit mengiba.
“Maka kau bisa bekerja di kediamanku dan hanya perlu melayaniku saja!” tegas Lennox.
Ide itu muncul begitu saja di kepalanya. Bukankah itu ide yang sangat sempurna? Membawa Shadow ke rumah sebagai pelayan, kemudian menikahinya diam-diam.
“Saya menyukai Moreno. Sya tidak bisa meninggalkannya.” Shadow melirik putranya yang sudah tertidur pulas di pangkuannya. Tangannya terus mengelus-elus sisi wajah Moreno yang kini semakin membulat lucu.
“Kau bisa meminjamnya sesekali dan membawanya ke rumahku, agar rindumu hilang,” desak Lennox.
Shadow tertawa kecil dan menggelengkan kepala mendengar ide tak masuk akal itu.
“Nanti kita bisa dituduh menculiknya oleh Tuan Hugo. Aku tidak berani,” senyumnya.
Dan Lennox makin tidak berdaya melihat senyuman Shadow. Dia mendekat dan membungkuk.
“Mari kita pulang!”
Suara Hugo yang dalam, mengejutkan Shadow dan juga Lennox. Pria itu hampir saja bisa mendapatkan pipi Shadow. Sekarang gadis itu menoleh pada Hugo dan segera mengangkat Moreno dalam pelukannya.
Dia hanya bisa merasa pasrah dan sedikit kesal pada Hugo yang datang begitu cepat. Hugo memberinya tatapan tajam yang membunuh. Tapi Lennox tidak peduli. Memangnya apa yang bisa dilakukannya? Bukankah Shadow hanya seorang pengasuh saja? Hugo tidak punya hak melarang Shadow punya kekasih. Hugo juga tidak punya hak melarang Lennox menyukai gadis itu.
Hari demi hari berganti. Lennox makin gencar mendekati Shadow. Meskipun gadis itu selalu cuek dan menjauhi, Lennox tidak menyerah. Setidaknya, Shadow sama sekali tidak bersikap kasar atau sesuatu yang bisa menyinggung harga dirinya.
Hugo telah kehilangan akal. Tidak tahu lagi cara melarang Lennox mendekati gadis pengasuh itu.
“Kenapa kau selalu melarangku? Bukankah dia gadis yang bebas. Aku juga bebas!” tanya Lennox sehari setelah Hugo mendapatinya mencoba mencium Shadow.
“Itu tidak pantas!” kata Hugo asal.
“Istri pertamamu juga orang biasa, Hugo! Kami tidak pernah menghina dan merendahkannya setiap kali jean datang dalam pertemuan keluarga! Sejak kapan kau lebih mementingkan derajat wanita?” tanya Lennox keheranan.
Hugo tak bisa menjawab lagi. Dia menutup mata dan bangkit dari duduk. Lebih baik tidak peduli saja, pikirnya. Ditinggalkannya Lennox yang sedang berada di ruang kerjanya.
“Tunggu!” Lennox menahan langkah Hugo.
“Kurasa Kau juga menyukainya. Itu sebabnya kau bertindak tidak masuk akal!” tuduh Lennox. Hugo terkejut mendengar tuduhan itu. Jadi dia hanya mendengus dan pergi dari sana.
“Apa aku juga mencintainya?” batin Hugo bingung.
*****