
Jangan lupa like, komen, gift dan votenya ya. Penyemangat author hloo itu. Terima kasih
*****
“Apakah urusanmu sudah selesai?” tanya Shadow.
“Ya!” Kita akan berangkat sore hari,” jawab Falcon sambil menikmati sarapan lezat itu.
“Kita menunggu di mana?” tanya Shadow lagi, sambil membuang pandangan ke taman.
“Tunggu di sini saja. Mau tunggu di mana lagi?”
“Oh ….” Hanya itu reaksi Shadow. Dia sebenarnya bosan jika harus duduk menunggu hingga sore tiba.
“Kau bisa berjalan-jalan di luar jika bosan. Namun kusarankan untuk mengambil waktu istirahat atau tidur sebentar. Karena setelah
sore nanti, kita mungkin tak akan punya waktu untuk tidur, karena sibuk memikirkan nyawa di leher!”
Shadow tertawa kecil, melihat Falcon yang mencoba bercanda, tapi garing. “Aku ingin melihat-lihat taman di kediaman ini. Bolehkah?” tanyanya.
Falcon mengangguk dan membunyikan lonceng pemanggil yang ada di meja. Seorang pelayan kembali muncul. Kali ini bukan Nancy.
“Ya, Tuan,” katanya hormat.
“Antar Shadow untuk berjalan-jalan di luar!” perintah Falcon. Wanita pelayan itu kembali membungkuk patuh.
“Mari saya antar,” ujarnya mempersilakan Shadow mengikutinya keluar ruangan. Shadow berdiri dan meninggalkan Falcon. Sedikit bingung dengan sikap para pelayan yang sangat hormat pada Falcon.
Pertanyaan dikepalanya langsung lenyap saat dia melihat taman yang terawat dan tertata dengan indahnya. “Tempat ini sangat indah!” pujinya tulus.
“Terima kasih, Nona.” Pelayan itu mengangguk dan tersenyum.
Dan seperti yang diperkirakan Falcon, Shadow akan cepat merasa bosan untuk melihat taman kala matahari makin tinggi. Jadi dia kembali ke dalam kediaman dan langsung diantar ke sebuah kamar, untuk beristirahat.
“Apakah Falcon juga sudah pergi tidur untuk persiapan malam nanti?” pikir Shadow. Dia segera membaringkan tubuh dan memaksa matanya untuk langsung tidur.
Ketukan di pintu membangunkan dan mengembalikan kesadaran Shadow. Seorang pelayan masuk dengan sopan.
“Anda bisa menikmati makan siang dalam satu jam,” katanya memberi tahu, kemudian pergi lagi.
“Aishh! Masih satu jam lagi, tapi aku sudah dibangunkan sekarang!” gerutunya tak senang.
Pengaturan aktifitas di kediaman para bangsawan memang sangat berbeda. Shadow mengerti, pemberitahuan itu gunanya untuk memberi kesempatan pada Shadow menyegarkan diri dan bersiap sebelum acara makan siang bersama.
Dia bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Dia harus mengambil kesempatan untuk membersihkan tubuhnya dengan lebih baik di sini. Berendam selama setengah jam, kemudian keluar dalam keadaan segar.
Satu set pakaian hitam sudah diletakkan di atas tempat tidur. Shadow yakin bahwa itu adalah pakaian lapangan yang harus dikenakan sekarang. Jadi, dia berganti pakaian dan keluar dari kamar. Lalu berjalan menuju ruang makan yang sebelumnya dia datangi tadi pagi.
“Shadow!” suara Falcon terdengar memanggilnya yang terpaku di depan pintu tertutup. Dia membalikkan badan dan melihat Falcon berdiri di depan pintu ruangan lain, melambaikan tangan memanggilnya.
“Kita makan di sini!” Falcon membuka pintu ruangan itu dan suara berisik tiba-tiba terdengar. Tak lama semua kembali hening setelah Falcon masuk diiringi Shadow. Ada sekitar sepuluh orang pria duduk di meja makan panjang. Mereka menunggu Falcon duduk di kursinya.
Shadow terkejut melihat Falcon duduk di kursi utama. Dia sendiri bingung mau duduk di sebelah mana. Dia belum mengenal siapapun yang ada di situ.
“Ini Shadow. Dia anggota baru kita. Bimbing dan arahkan dia dalam tugas malam ini!” Falcon memperkenalkan Shadow, membuat wanita itu sedikit menundukkan kepala untuk menyapa anggota tim senior yang dikawal Falcon.
“Kau bisa duduk di sini, Shadow.”
Seorang pria bertubuh kekar, menunjukkan satu kursi kosong di ujung lain meja makan. Itu artinya dia akan berhadapan dengan Falcon, meskipun sejarak tiga meter. Dia berjalan ke sana dan duduk dengan tenang. Beberapa orang di dekatnya memperkenalkan diri dan mencoba bersikap ramah.
Makan siang itu lewat dengan cepat. Semua anggota tim itu sangat cerewet. Mereka tak berhenti bertanya ataupun mengomentari sesuatu yang menurut Shadow tidak penting.
Setelah itu mereka keluar bersama menuju helipad. Di sana telah menunggu dua helikopter untuk membawa selusin orang yang telah mengenakan pakaian tempur lengkap dengan senjata masing-masing.
Shadow hanya diam dan mengamati sekitarnya. Dia ingin belajar dengan cepat cara pasukan itu bersiap untuk menjalankan misi.
“Kudengar kalau Falcon melatih seseorang di pulau. Tak kusangka seorang wanita cantik,” ujar seseorang yang duduk di depan Shadow.
“Berarti kau punya misi pribadi,” tebak salah seorang di antara mereka.
“Ya!” angguk Shadow yakin.
“Apa itu?” tanya orang lain.
“Membunuh mantan suamiku!” sahut Shadow lantang. Seisi helikopter itu terkejut mendengarnya.
“Kenapa kau ingin membunuhnya?” tanya salah seorang pria itu penasaran.
“Karena dia mencoba membunuhku!” jawab Shadow.
Para prajurit itu kembali saling berpandangan satu sama lain. Tak menyangka jawabannya seperti itu. Sungguh wanita yang berbahaya.
“Membunuh seseorang itu, tidak sama dengan memotong ikan atau ayam!” salah seorang dari mereka menasihatinya.
“Ada konsekuensi dari setiap tindakan kita. Dan konsekuensi dari membunuh manusia lain itu, sangat berat. Kalau tidak kuat, maka kau bisa mengalami depresi pada akhirnya!”
"Aku tahu! Tapi aku memang harus melakukannya!” Shadow sangat yakin dengan keputusannya.
“Apa alasannya?” tanya mereka ingin tahu.
“Karena dia merebut putraku Karena dia sudah mencoba membunuhku!” Shadow menjadi emosional ditanyai terus.
“Maafkan … kami tidak mengetahui kisahmu. Apapun keputusan yang kau ambil, kami akan mendukungmu.” Seseorang bicara begitu, lalu seruan lain terdengar.
“Kami akan mendukungmu!” teriak mereka keras.
“Trima kasih!” ujar Shadow. Dia tak percaya jika dirinya akan diterima dengan baik oleh tim itu.
“Tempatnya sudah dekat!” pilot mengingatkan pasukan di belakang.
Mereka bersiap-siap. Tas parasut sudah disiapkan. Mereka harus terjun ke tempat tugas, karena helikopter tak mungkin turun di lokasi musuh.
“Periksa parasutmu!” perintah seorang pria yang tak lain adalah ketua tim. Shadow memeriksa lagi perlengkapannya. Semua tali temali harus terkunci dengan baik.
“Lima menit lagi tiba!” teriak pilot.
Mereka sudah siap. Shadow bahkan bisa melihat para prajurit dari helikopter lain sudah melompat turun. Sekarang timnya berbaris rapi untuk mempermudah posisi melompat.
“Nick! Kau lebih dulu!” teriak pimpinan team. Seorang pria bernama Nick, muncul Kemudian dia melompat jatuh, setelah aba-aba. Lalu satu persatu mereka telah hilang dari pandangan Shadow. Kengerian terlihat makin jelas di matanya.
“Ayo! Kau akan melompat bersamaku!” Dia memeluk tubuh Shadow dan langsung membawanya terjun dari helikopter itu.
“Aaaa …!” teriak Shadow kencang. Napasnya seperti akan putus.
“Ssstt! Diam! Apa kau mau memberi tahu musuh tentang kedatangan kita?” Pemimpin tim yang terbang tandem bersamanya, menghardik marah.
Shadow langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Meskipun rasanya sulit sekali. Shadow memejamkan mata dan mencoba menghapus semua ketakutan itu. Bayangan Moreno, datang untuk memberinya semangat.
“Aku bisa melakukan ini!” katanya dengan keyakinan tinggi.
“Kau yakin?” tanya ketua tim. Shadow mengangguk dengan keras.
“Ini bukan permainan, Shadow!” Ketua tim mengingatkan. Baginya tak masalah jika harus mendarat bersama anggota baru itu.
“Aku harus melawan ketakutanku sendiri! Kalau tidak mencoba, maka aku tidak akan pernah bisa membunuh pria itu!” jawab Shadow dingin.
“Oke. Kau akan kulepaskan. Jangan khawatir, jika terjadi sesuatu, aku akan langsung menangkapmu!” Ketua tim menenangkan Shadow.
“Baik!” Shadow merentangkan tangannya. Ketua tim perlahan melepaskan diri sambil menarik tali parasut Shadow agar mengembang dan membawanya terbang.
*****