VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 43. Hugo Salah Langkah



Dalam beberapa hari berikutnya Lennox pelan-pelan tersingkir dari beberapa pertemuan bisnis yang biasanya dia ikuti. Hugo melakukan hal itu untuk memperingatkan sepupunya, bahwa dialah yang berkuasa setelah kakek mereka. Dia memang memegang banyak posisi. Bahkan di perusahaan utama, Hugo adalah direktur pelaksana yang sangat bisa mengatur penjegalan kegiatan Lennox.


Hari itu Lennox mendatanginya dengan marah. “Apa kau sengaja melakukan ini padaku? Ini sudah ke empat kalinya aku tidak bertemu dengan client yang telah kukelola sejak lama!”


Hugo tetap tenang dan membiarkan saja pria itu marah-marah di dalam ruangan.


“Apa kau marah dan menghukumku karena jatuh cinta pada Shadow? Aku rasa kau sedang sangat cemburu! Itulah sebabnya kau bertindak tidak masuk akal!” kecam Lennox berapi-api.


“Apa tidak cukup bagimu mendapatkan istri bangsawan? Oh … aku sangat ingin tahu apa reaksi kakek, melihatmu menodai rumah tanggamu yang suci itu! Apa kira-kira si tua itu akan mengganti nama ahli warisnya?” ejek Lennox dengan suara keras.


“Apa maksudmu? Aku justru sedang memperingatkanmu agar kau menjauhinya!” bantah Hugo kesal. Issu seperti itu tak boleh keluar dari ruangannya. Itu akan memicu kemarahan kakeknya.


“Untuk apa kau memperingatkanku soal itu. Aku toh bukan calon penerus keluarga. Aku bebas memilih istri yang mana kusuka!” bantah Lennox.


“Dia tak sebaik yang kau kira!” kata Hugo memberi alasan.


“Hahaha … apa kau ditolaknya? Itu sebabnya kau menuduhnya seperti itu? Kau makin tidak masuk akal, Hugo!”


Lennox keluar dari ruangan Hugo. Di pintu, dia berhenti.


“Aku akan membalasmu! Jadi, hati-hati saja!”


Lennox pergi dengan kemarahan memenuhi hatinya. Dia sangat kecewa, tidak menyangka Hugo sepicik itu. Usaha kerasnya bertahun-tahun di perusahaan satu per satu diambil alih Hugo dan diberikan pada orang lain.


“Hanya ada satu hal yang bisa membuat orang jadi bersikap tidak masuk akal. Itu saat seseorang sedang jatuh cinta!” gumam Lennox yakin.


Lennox justru pergi ke rumah Hugo siang itu. Dia tak peduli meskipun Hugo akan marah atau apa. “Biarkan saja pria picik itu cemburu,” pikirnya sebal.


“Shadow, apa Hugo pernah menyatakan cinta padamu?” tanya Lennox. Dia tak ingin menyembunyikan kecemburuannya lagi. Dia ingin Shadow memahami perasaannya.


“Tidak! Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Shadow hati-hati.


“Karena beberapa hari ini dia menjegal setengah pekerjaanku di kantor,” jawab Lennox.


“Mungkin karena kau melakukan kesalahan?” tanya Shadow menenangkan Lennox.


“Ya. Di matanya aku adalah pria yang bersalah karena jatuh cinta padamu. Aku sudah berterus terang padanya, bahwa aku mencintaimu. Dan itulah balasannya!” Lennox memukulkan kepalan tangan kanannya pada telapak tangan kiri dengan keras.


Shadow mengerutkan kening. “Kenapa dia harus marah?” tanyanya heran.


“Karena dia cemburu! Dia jatuh cinta padamu! Seperti dia jatuh cinta pada istrinya yang pertama!” Lennox melemparkan kerikil dalam pot tanaman ke arah danau yang membiru. Air danau jadi meriak halus membentuk lingkaran.


Shadow menggeleng, tak percaya kesimpulan Lennox. “Dia tak pernah menunjukkan sikap cinta, kok. Bahkan kurasa, dia adalah tuan yang kejam pada pelayan. Aku pernah dikurung di kamar, hanya karena berenang di danau pada malam hari yang gerah!” keluh Shadow.


“Benarkah? Kalau begitu, mari, pergilah denganku. Kau tidak aman di sini. Aku curiga dia membunuh istri pertamanya,” bisik Lennox pada Shadow yang langsung membuat gadis itu bertubuh kaku.


“Apa maksudmu itu? Kau tidak boleh asal menuduh seperti itu tanpa bukti!” cegah Shadow.


“Apa kau kira cuma aku yang menduga hal ini? Keluarga besar kami sudah mencurigainya melakukan hal kotor untuk bisa menikahi Frisia!” Lennox kembali bersuara rendah. Dia berbisik tepat di telinga Shadow.


“Kalian tidak memeriksa hal itu?” tanya Shadow. Dia merasa sangat terharu. Tak mengira kalau kematiannya tetap menjadi perhatian oleh mantan ipar-iparnya di keluarga Von Amstel.


“Itu bukan uursan kami. Kurasa, melihat ketenangan kakek, urusan Jean sudah diketahui pria tua itu!” ketus Lennox.


“Oh, andai saja aku punya kemampuan patuh seperti Hugo. Aku ingin sekali merebut posisi ahli waris utama keluarga Von Amstel!” kata Lennox. Dia sedang berandai-andai sekarang.


“Apa yang akan kau lakukan jika menjadi kepala keluarga Von Amstel?” tanya Shadow menyelidiki.


Shadow mengangguk-angguk saja.


“Lalu, bagaimana cara mengambil alih posisi itu?” tanya Shadow lagi.


“Bunuh saja!” Lennox tertawa kecil mendengar leluconnya sendiri.


“Kau butuh bantuan ahli untuk melakukannya. Tak boleh gegabah. Atau semuanya akan kembali memukul dirimu sendiri."


“Shadow, jadilah istriku, maka aku tidak akan mempedulikan soal Hugo ataupun posisi ahli waris lagi. Aku akan puas dengan mendapatkanmu saja,” bujuk Lennox.


Shadow menolak dengan menggeleng. “Kau sudah bekerja keras. Dia tidak boleh mengambil pekerjaanmu begitu saja, seperti perusahaan yang amatiran!”  geram Shadow.


“Kau harus merebut posisi ahli waris utama. Dengan begitu, keadaan ini baru bisa berubah," dorong Shadow.


“Bagaimana caranya!” tanya Lennox.


“Kau harus punya hati yang lebih tega lagi, untuk bisa mengalahkan kesombongannya. Bongkar semua topeng yang selama ini dikenakannya,” jelas Shadow.


“Tapi, dengan begitu, aku pasti akan berhadapan dengan Kakek!”


Lennox menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Itu bukanlah hal yang mudah. Karena Damon tak ubahnya seorang penguasa otoriter dan kejam dalam istananya.


“Apa kau butuh bantuan untuk membalaskan sakit hatimu pada Hugo?” tanya Shadow.


“Apa kau punya kenalan semacam asassin?" Lennox bertanya heran pada Shadow.


“Hem ... semacam itu!” jawab Shadow.


Lennox benar-benar terkejut sekarang. Hugo benar. Shadow bukanlah wanita yang bisa dianggap remeh. “Bisakah aku bertemu dengannya?” Lennox bertanya dengan hati-hati.


“Dia bukan orang biasa yang bisa dengan mudah kau temui!” Shadow mengecam pemikiran pendek Lennox.


“Kalau begitu, tolong buatkan janji untukku. Aku ingin tahu apa idenya untuk menyingkirkan Hugo!” pancing Lennox sambil menggeram marah.


“Jika dia muncul, akan kuperkenalkan padamu," jawab Shadow.


“Berapa bayarannya?” tanya Hugo.


"Tidak Tahu. Kau bisa tanya sendiri. Aku tidak ikut campur soal itu!" kata Shadow lagi.


"Kapan dia akan datang?" desak Lennox.


"Aku tidak tahu. Biar kucoba mencari bayangannya di pasar besok!" jawab Shadow hati-hati.


"Di pasar?" Lennox mulai meragukan keseriusan Shadow. Kemudian dia tertawa terkekeh.


"Bercandamu tadi benar-benar membuatku hampir mengira kau mengenalnya!" Lennox menggelengkan kepala. Pria itu berdiri.


"Aku ada janji temu dengan client sore ini. Semoga Hugo tidak gila membatalkan pertemuan ini juga. Atau aku akan mengadukannya pada kakek!"


Shadow melihat Lennox pergi dari rumah masih dengan hati yang kesal.


Dalam hati Shadow, dia juga sedikit kesal. Lennox tidak menganggap perkataannya serius.


"Kalau saja kau setuju untuk membunuhnya, maka akan kulakukan dengan senang hati!"