
“Apakah acara ulang tahun pernikahan ini dibuat tiap tahun?” tanya Venus ingin tahu. Informasi itu mungkin bisa menambah wawasannya dalam mengimbangi pembicaraan tamu lain, nanti.
“Tidak, Nona. Sekarang adalah ulang tahun pernikahan perak Baron Holloway. Tentu dia ingin membuatnya istimewa,” jawab sopir.
“Oh, ternyata seperti itu. Baiklah!” Venus mengangguk.
“Tapi ini mungkin akan sangat ramai, Nona. Tak akan kurang dari keramaian pesta perkawinan putrinya tahun lalu. Semua bangsawan dalam dan luar daerah diundang. Bahkan yang dari luar negeri ada juga yang datang. Kota ini jadi luar biasa ramai dan penuh hiasan meriah!” ungkap sopir itu.
“Anda bisa menyimpan nomor ponsel saya, jika ingin pulang. Saya mungkin harus parkir sangat jauh nanti. Jadi panggil saja, agar saya bisa menjemput di lokasi terdekat dengan tempat Anda,” jelasnya sambil menunjukkan nomor ponselnya pada Venus.
Venus menyalin momor itu ke ponselnya sendiri. “Aku sudah menyimpannya.” Dilakukannya panggilan dan sopir itu mengangguk. Pria itu menyimpan nomor Venus. Mobil kembali melaju. Sekarang mereka sudah masuk jalan umum.
Venus mengeluarkan amplop yang diserahkan Bratt tadi. Ternyata Chester menulis pesan sebelum pergi. “Meski kau sangat membencinya, ingatlah untuk menahan diri. Pembalasan yang baik, dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh perencanaan. Waktunya bukan sekarang!”
Venus merenung membaca pesan itu. Dia ingat sebilah belati kecil tipis yang tadi diselipkannya di balik stocking. Venus mendesah. “Lalu kapan waktu pembalasan itu tiba?” batinnya.
Karena kemacetan luar biasa, butuh waktu satu jam hingga Venus sampai di depan gerbang acara. Venus turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang yang dijaga beberapa pria dan wanita.
Antrian masuk lumayan panjang. Para penjaga itu memeriksa semua kartu undangan yang disodorkan tetamu yang datang, baru mereka bisa masuk.
“Hei, siapa ini yang berdiri sendirian?”
Venus melirik pada pria yang menegurnya secara tak sopan itu. Dia cuek dan tak mempedulikan.
“Hei! Aku bicara denganmu, Nona Moriarty!” bentak pria itu.
Venus menatap pria itu tajam. “Apa kau sebangsa ayam? Hanya karena ayahku tak ada di sini, lalu kau kira bisa berkotek sembarangan?”
Beberapa orang tertawa mendengar ejekan Venus. Tapi tidak Elliot Morgan, pria arogan yang selalu berselisih dengan Chester itu justru menjadi semakin marah. Emosinya terpancing, karena ternyata Venus bukan wanita yang bisa dia takut-takuti.
“Heh! Kalian hanya kaya. Bagaimana kelas rendahan sepertimu bisa berani datang ke sini!”
Wanita berpakaian semarak yang terus menggelayuti Elliot seperti kain bendera itu, menunjukkan senyum mengejek. Dia adalah wanita yang berselisih dengan Venus di museum. Kali ini dia merasa percaya diri sebab menjadi gandengan Elliot ke pesta para bangsawan.
“Tinggi rendahnya manusia dilihat dari adab dan sopan santunnya. Meski seorang bangsawan, kalau dia tak berguna, buat apa!” balas Venus pedas. Dia bergegas maju mengikuti barisan.
Di belakang, Elliot menjadi bahan tertawaan para tamu yang sedang mengantri. Kata-kata Venus membuatnya murka, tidak bisa lagi menahan dirinya. Dikejarnya Venus dan hendak memukul gadis itu sebagai balasan atas ucapannya yang kasar.
Namun, salah seorang penjaga dengan sigap menghadang dan menariknya dari barisan. “Anda mengganggu jalannya antrian!” tegur penjaga.
“Aku harus membalas wanita kurang ajar itu!” protes Elliot. Dia memberontak dari cekalan para penjaga.
“Jika Anda tak bisa menahan diri, maka Anda akan dilarang masuk!” ancam penjaga bertubuh kekar itu.
“Aku dari keluarga Morgan! Bagaimana kalian bisa menahanku? Gadis itu bahkan bukan siapa-siapa, masa kalian loloskan begitu saja?” protes Elliot.
Penjaga itu melihat pada Venus yang berada di belakang seorang pria yang sedang diperiksa. Penjaga melaporkan kata-kata Elliot pada temannya, agar mereka memeriksa Venus dengan lebih teliti.
Elliot yang melihat Venus juga dibawa keluar dari antrian, menunjukkan rasa senang dan percaya bahwa Venus akan dilarang masuk. Namun, kesombongannya tak berlangsung lama. Penjaga memanggil seseorang setelah melihat undangan Venus.
Penjaga yang menahan Elliot dan pria bodoh itu sendiri, terbelalak saat melihat siapa pria yang datang keluar untuk menjemput Venus dan memarahi penjaga pintu. Dia adalah Baron Holloway sendiri!
Elliot tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tak percaya, bagaimana sang Baron sendiri yang menjemput keluar dari gedung? “Sepenting apa keluarga Moriarty sebenarnya?”
“Ini karena kau tak bisa menahan mulut usilmu!” kecam gadis yang semula digandengnya ke pesta.
“Hah! Kalau kau tak senang karena ku tak bisa masuk ke pesta, silakan saja kau mengemis pada para pria di sana, untuk membawamu masuk!” Elliot mendorong gadis itu menjauh dengan keras, hingga di jatuh di pinggir jalan dan menjadi lelucon semua orang.
“Kau keterlaluan! Aku membencimu!” teriak gadis itu marah. Dia pergi dari sana. Mana dia punya muka lagi untuk merayu pria lain agar bisa masuk ke pesta, setelah penghinaan yang dilakukan Elliot!
“Apa kau kira aku menyukaimu? Aku hanya menyukai itumu!” balas Elliot sambil berteriak marah.
Ledakan tawa kembali pecah. Membuat wajah gadis yang dihina Elliot menjadi sangat merah karena malu!”
“Hah. Dasar gadis-gadis rendah. Mereka rela memanjat tempat tidur seorang bangsawan kecil hanya demi bisa pergi ke pesta kelas atas!” cibir orang-orang pada keduanya.
“Sial!” umpat Elliot kesal. Dia juga diejek sebagai bangsawan kecil oleh entah siapa yang dia bahkan tidak kenal.
“Jaga mulutmu!” ancamnya dengan mata merah penuh dendam. NAmun penjaga yang mehannya, terus menariknya pergi dan mengeluarkannya dari pintu gerbang.
“Kau tidak bisa masuk ke pesta!” ujarnya tegas.
***
Venus yang ditarik keluar dari barisan, diminta menunjukkan undangan. Gadis itu menunjukkan undangannya yang berwarna gold. Penjaga terkejut dan langsung menghubungi atasannya. Tak lama tuan rumah, Baron Holloway keluar dan memarahi penjaga yang menahan Venus, padahal sudah memegang undangan gold!
Venus masuk dengan menggandeng tangan sang Baron.
“Bagaimana dengan ayahmu?” tanya Baron.
“Ayah sedang bertugas,” sahut Venus sopan.
“Oh, tentu saja. Aku tahu bahwa dia orang yang sangat sibuk.” Baron Holloway mengangguk mengerti.
Sekarang mereka sudah sampai di tempat berlangsungnya acara. “Nah, silakan Anda menikmati sajian kami. Bersenang-senanglah!” ujar Baron Holloway sebelum pergi.
“Terima kasih.” Venus menunduk dengan hormat.
Kemudian melihat sekeliling. Tempat acara pesta itu sangat luas dan megah. Ada banyak tempat makanan di semua sisi. Venus mengambil segelas cocktail yang dibawa pelayan yang terus hilir mudik. Venus melihat dan berjalan ke sana kemari. Sekarang dia tahu, betapa sulitnya mencari tempat duduk di tempat yang penuh pengunjung.
Akhirnya dia menemukan lokasi duduk yang paling strategis. Dari sana bisa melihat siapapun yang masuk ke tempat pesta. Venus pergi ke sana. Bangku taman di tempat yang tidak terlalu terang. Sudah ada dua orang gadis lain duduk di sana.
“Bisakah aku ikut duduk di sini?” tanya Venus.
“Tentu.” Seorang wanita berambut sebahu mempersilakannya duduk bersama mereka. Lalu ketiganya berbincang santai, seperti sudah saling mengenal sejak lama.
Hingga masuknya Hugo dan istrinya, membuat hati Venus kembali dibakar rasa amarah. Matanya menyipit memikirkan bagian mana Hugo yang akan disakitinya lebih dulu, agar tahu bagaimana sakit yang dialami Venus.
Di belakang Hugo, berjalan anggun seorang wanita cantik. Dia menebar senyum palsu. “Apakah kau menderita jadi istrinya?” batin Venus