VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 29. Pengasuh Moreno



“Aku mendapat laporan tentang apa yang terjadi. Kau, terbukti tidak cakap untuk mengurus anak. Masih bagus aku memaafkanmu karena putraku baik-baik saja. Kalau tidak, kau akan kutuntut!” Kata-kata kasar Hugo tak dibantah Venus. Dia menyadari kesalahannya.


“Maafkan aku. Kuharap dia bisa punya pengasuh yang lebih baik.” Kata Venus lirih.


“Dia tak butuh pengasuh. Pelayan di sini sangat cakap dalam menjaganya!” ujar Hugo sombong.


Kesombongan Hugo membuat emosi Venus bangkit. “Orang bodoh ini, tidak tahu kalau dia melukai putranya sendiri!”


“Itulah sebabnya dia bersikap seperti orang dewasa! Dia tidak mendapatkan pengasuhan yang benar. Mereka hanya mengawasi, tidak membimbingnya. Pada dasarnya putramu itu sangat kesepian. Dia tidak bahagia dan menutup diri agar tidak terluka saat ditinggalkan oleh para pelayan yang punya kesibukan segudang!” kecam Venus sebal.


“Kau! Beraninya kau bicara keras padaku! Ini upahmu dan angkat kaki dari sini!” Hugo melemparkan beberapa lembar uang ke hadapan Venus, untuk menghinanya.


Dengan darah bergejolak, Venus berdiri dari duduknya. “Kau pikir sikapmu ini membuat posisimu jadi tinggi? Kau rendahan!” umpat Venus sebelum melangkah pergi. Dia tak mempedulikan uang-uang yang berserakan di lantai.


“Pelayan tak tau diri! Hentikan dia!” Hugo berteriak dengan geram.


Penjaga yang menunggu di luar ruang kerja segera masuk mendengar teriakan itu. Langkah Venus langsung dihentikan. Tangannya dicekal. Venus bisa saja membanting penjaga itu. Tapi itu hanya akan membuka kedoknya. Jadi dia membiarkan dirinya diringkus dan disorong masuk lagi ke hadapan Hugo.


Venus menantang Hugo. Dia bisa lihat wajah itu menggelap dan tangannya siap terangkat untuk menampar. Venus mengelak dengan memiringkan kepalanya cepat. Begitu cepat, sampai penjaga itu tidak menduga. Kepala keduanya berbenturan keras sekali.


“Aduh … wanita sial!” umpat penjaga. Dia mengeratkan cekalan tangannya di pergelangan tangan Venus.


“Ayah!” suara Moreno yang bening, membuat semua orang terdiam. Venus ingin melihat putranya. Tapi penjaga itu menahan tubuhnya agar tetap menghadap Hugo. Dicobanya menoleh ke samping, tapi bayangan anak kecil tampan itu tak juga masuk dalam ruang matanya.


“Ada apa kau ke sini!”


Venus terkejut mendengar suara dingin pria itu. Dia kembali marah tak terkendali. “Apa kau bicara pada anakmu selalu sedingin itu? Dia masih kecil! Bukan karyawan ataupun bawahanmu!” teriak Venus.


“Diam! Atau kau akan menyesal!” ancam Hugo naik pitam. Pria itu tak dapat lagi menerima perlawanan Venus atas sikap dan kata-katanya.


“Ayah. Aku mau dia jadi pengasuhku,” kata Moreno.


“Dia bukan wanita yang baik. Akan kucarikan yang lain untuk mengasuhmu!” tolak Hugo.


“Aku tak mau yang lain. Dia tidak salah!”


Venus jadi diam mendengarkan pembelaan putranya.


“Tidak! Dia orang yang tidak tahu sopan santun. Tak akan kubiarkan yang seperti itu merawatmu!” tegas Hugo.


“Aku mau dia!” Moreno mulai menangis.


Venus merasa hatinya meleleh. Moreno tetaplah seorang anak yang kesulitan mengutarakan hal yang diinginkannya. Hati Venus melunak. DItatapnya Hugo.


“Bagaimana kalau kau beri aku kesempatan uuntuk merawatnya sehari lagi, untuk membuktikan bahwa aku layak  menjadi pengasuh. Aku sudah belajar banyak hari ini,” Venus membujuk Hugo.


“Setelah kata-katamu yang pedas tadi, kau masih tidak tahu malu dan minta masa percobaan lagi?” Hugo merasa sangat heran, bagaimana ada wanita yang sangat tidak tahu malu seperti Shadow. “Demi dia, aku akan menahan diri dari mengecammu!” kata Venus tajam.


Hugo menyipitkan mata. Venus membalas pandangan Hugo yang menurutnya seperti sedang membuat siasat.


“Kau ingin menjebakku?” tanyanya lagi.


“Kau!” Hugo tak bisa berkata-kata. Namun, sesaat kemudian dia kembali pada ketenangannya.


Venus memperhatikan tingkah lakunya Hugo yang sangat dikenalnya. Pria itu sedang mengatur trik. Secara samar, bibirnya tesenyum sinis. “Apa?”


“Punguti uang upahmu yang berjatuhan itu!” perintahnya sombong.


Sangat jelas bagi Venus bahwa dirinya diminta menundukkan kepala di hadapan pria itu. “Apakah harus kulakukan?” Bathinnya berperang. Dilawannya tatapan tajam Hugo yang tengah menyombongkan diri.


“Biar kuambil!” Moreno segera berjongkok dan mengambil semua uang yang tercecer.


Venus tertegun. Hugo apa lagi. Sebelum sempat bertindak apapun, Moreno sudah berdiri dengan menggenggam uang dalam kepalan tangan kecilnya. “ini uangmu. Simpan!” katanya pada Venus. Diserahkannya semua lembaran itu ke hadapan Venus.


Venus baru ingat kalau tangannya masih dalam cekalan penjaga. “Tanganku tak bisa menerimanya.” Venus menoleh pada penjaga.


“Lepaskan!” perintah Moreno.


Setelah Hugo memberi tanda, barulah penjaga itu melepaskan pegangannya dari tangan Venus. Venus mengelus pergelangan tangannya sambil meringis.


“Kau menyakitinya!” Moreno marah pada penjaga.


“Ini uangmu.” Lima lembar uang kertas berpindah tangan kepada Venus. Dia segera mengantonginya.


“Ayo ke kamar!” ajak bocah kecil itu. Tangannya langsung menarik tangan Venus agar keluar dari ruang kerja Hugo. Sambil menjinjing tas kecilnya, Venus mengikuti langkah kaki Moreno.


“Tinggal di sini saja!” kata anak lelaki kecil itu.


Venus tak dapat menahan diri dari memeluk Moreno. “Terima kasih sudah membantuku.” Anak lelaki kecil itu hanya mengangguk. Dia masih belum punya cukup kosa kata untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.


“Aku akan menemanimu.” Venus melepaskan pelukannya. Ditatapnya sang buah hati dengan penuh kasih sayang.


Di ruangannya, Hugo merasa sangat jengkel. Dari semua pekerja, baru wanita Shadow yang berani menentangnya. Bahkan di depan penjaga dan putranya sendiri. “Wanita itu!” geramnya marah.


Hugo tak habis pikir, bagaimana Moreno yang biasanya selalu diam dan patuh, tadi justru meminta Shadow menjadi pengasuhnya? “Apa yang dilakukannya, hingga Moreno menyukainya?”


Hugo juga ingat laporan istrinya, bahwa yang terjadi sore tadi bukan sepenuhnya salah Shadow. Selain pelayan yang menjerumuskan, Hugo juga sebenarnya abai dan tidak menjelaskan larangan bermain air itu pada Shadow.


Pagi hari yang sejuk dan berkabut. Hugo melihat Shadow berlari kecil di teras samping dekat danau. Di sekitarnya, Moreno ternyata juga sudah bangun dan berjalan ke sana ke mari mengejar bolanya. Keduanya bermain dengan asik, hingga langit terang dan kabut tersingkap.


“Anda tidak ingin jogging, Tuan? Salah seorang penjaga yang sudah siap dengan pakaian olah raganya, masuk dan menyapa.


Hugo sedikit terkejut. Dia tak pernah absen untuk lari pagi. Kenapa pagi ini digunakannya untuk mengawasi Shadow? “Tidak. Sudah terlalu siang. GAnti Gym saja,” ujarnya melangkah menuju ruang olah raga yang menghadap ke arah danau. Dinding luarnya yang dari kaca, membuat siapapun yang beraktifitas di dalamnya akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah.


Satu jam pria itu menggunakan peralatan gym ditemani oleh penjaganya. Dia sudah akan pergi ketika dilihatnya Moreno dan Shadow justru mengarah ke teras samping kembali. Pria itu tertegun melihat mereka berdua justru berjemur di bawah sinar matahari pagi, di teras.


Di bench kayu yang memiliki payung di atasnya. Shadow membacakan sebuah buku dongeng untuk Moreno. Putranya mendengarkan dengan seksama dan sesekali dia bertanya. Keduanya berbaring berdampingan tanpa jarak. Moreno tidak merasa sungkan mendengarkan cerita sambil berbaring miring dan memeluk Shadow.


Sesekali bocah lelaki kecil itu bertanya dengan tangan bergerak-gerak. Maa Shadow akan menjelaskan dengan gerakan-gerakan tangan jua sebagai tambahan penjelasan. Suara gelak tawa terdengar mengusir kesunyian di rumah besar itu.


“Moreno menyukainya. Itu yang paling penting,” humamnya.


*****