
Moreno dan Shadow terkejut. “Minggu depan?” tanya Moreno dan Shadow bersamaan.
Hal itu membuat wajah Hugo berubah. Shadow langsung menyadari kesalahannya. “Maafkan kelancangan saya, Tuan.”
Hugo meneruskan makannya seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Sementara Moreno sudah merasa tidak senang. Tapi Shadow terus membujuknya untuk menghabiskan makanan di piring. Karena bagaimanapun juga, tak ada yang boleh pergi, sebelum Hugo berdiri dan meninggalkan ruang makan.
Hari-hari itu Shadow berpikir keras. Apa rencana Hugo sebenarnya. Benarkah semata-mata untuk kebaikan Moreno? Atau dia sudah mengetahui rencanaku? Apa dia memeriksa ponselku saat tidur? Banyak pertanyaan berkecamuk di kepala Shadow. Tapi dia tak menemukan jawabannya.
Hari Minggu pagi tiba. Moreno sudah disiapkan jauh sebelum matahari terbit. Karena Hugo akan mengantarnya ke sana pukul lima pagi.
“Aku akan merindukanmu, Shadow!” kata Moreno saat memeluknya.
“Aku akan menunggu di sini. Anda harus bersemangat dan tunjukkan bahwa Anda bisa melakukan hal-hal yang mereka ajarkan!” kata Shadow memberinya semangat.
“Aku pasti bisa mengungguli yang lain.
“Tentu saja. Aku percaya padamu!” Shadow mengeratkan mantel tebal di tubuh putranya.
“Jangan lupa pakai mantel, kaus kaki dan sarung taanganmu. Udara musim gugur akan sangat dingin,” pesan Shadow sambil mengecup pipi kemerahan bocah kecil itu. Putranya mengangguk.
“Ayo! Nanti kita terlambat. Kau masih harus naik kapal untuk bisa sampai ke sana!” kata Hugo.
“Naik kapal?” tanya Moreno.
“Ya. Itu akan sangat menyenangkan. Jangan khawatir … ayah juga ikut naik kapal itu dan mengantarmu hingga ke tempat latihan.” Hugo menenangkan kekhawatiran putranya.
“Baiklah. Sampai jumpa Shadow!” tangan kecilnya melambai pada pengasuh wanita yang berdiri di bawah sinar lampu, depan pintu. Shadow membalas lambaian tangan itu hingga mobil tak terlihat lagi.
Kemudian dia masuk ke rumah dan merapikan kamar Moreno yang sedikit berantakan karena persiapan di pagi buta. Lalu dia kembali ke kamar dan beristirahat sejenak.
“Apa yang akan kulakukan selama dia pergi?”
Shadow memutar-mutar ponsel di tangan. Seharusnya waktu luang ini, bisa dimanfaatkannya untuk mematangkan rencana. Tak lama sebuah ketukan terdengar id pintu kamarnya. Shadow berdiri dan membuka pintu.
“Nyonya ingin kau menemaninya sarapan di teras samping,” kata pelayan pribadi Frisia.
“Baik!”
Shadow mengikuti wanita itu ke tempat Frisia. Bisa dilihatnya gadis itu duduk dengan shall hangat semutupi punggung dan lehernya. Duduk di bangku kayu teras itu.
“Apakah ada sesuatu yang menarik di dalam kabut?” tanya Shadow sambil duduk di meja yang satu lagi.
Frisia masih memandang danau yang diselimuti kabut dingin musim gugur. Kepalanya sampai agak miring saking seriusnya berpikir.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Shadow lagi.
“Aku sedang memikirkan rencana Hugo,” kata Frisia dengan mata menyipit. Kemudian dia mengambil roti hangat dan wangi yang telah diolesi selai oleh pelayannya.
Melihat Frisia mulai makan, Shadow ikut menuang kopinya dari teko dan menambahkan cream. Mengaduknya perlahan, kemudian mencicipinya dengan nikmat.
“Rencana tentang apa?” tanya Shadow lagi, setelah meletakkan cangkir kopi.
“Tentangmu!” jawabnya tenang.
“Maksudmu?” Shadow bertanya heran. Tangannya yang sudah mengambil roti dari piring saji, jadi tergantung di udara.
“Apa kau pikir dia tak punya rencana tersembunyi dalam setiap keputusannya? Aku sudah mengalami hal buruk dari berurusan dengan keluarga Von Amstel. Aku tidak sepolos itu lagi!”
Suara Frisia sangat rendah, seakan takut terdengar oleh beberapa pelayan yang menungguinya sarapan. Meskipun begitu, kata-katanya memang berdasarkan analisa tajam. Shadow juga bukannya tidak memikirkan apa rencana Hugo dibalik pengiriman Moreno tadi pagi. Dia cuma belum menemukan alasan yang tepat.
“Lalu, menurutmu apa?” Shadow kembali bertanya sambil terus mengiris roti dan mengoleskan krim keju beraroma rempah dan bawang putih. Sepotong kecil roti lezat itu masuk ke dalam mulut dan menikmati kelezatannya.
Frisia menggeleng tegas. “Aku tidak tahu. Kau tunggu saja. Aku katakan ini agar kau persiapkan diri.”
“Kau mengasihaniku?” tanya Shadow tersenyum.
“Bagaimanapun, kau temanku satu-satunya di sini. Dan kurasa itu berakibat buruk untukmu. Aku sedikit merasa bersalah.” Matanya menyiratkan kata permohonan maaf.
“Aku senang berteman denganmu. Hanya orang kesepian yang tidak senang melihat sebuah pertemanan.” Shadow tertawa kecil.
Mereka berbincang hangat di
pagi yang dingin. Menikmati kabut yang perlahan naik dan menampakkan permukaan
mengumpulkan isinya. Beberapa lainnya mengarungi danau untuk olah raga dayung dan ataupun menikmati keindahan alam.
Seorang pelayan datang ke meja setelah beberapa piring diangkat. Keduanya sedang menikmati sisa pagi dengan segelas juice jeruk yang asam. “Nona Shadow, Kepala pelayan memanggilmu,” katanya.
Shadow melirik Frisia dengan ekor matanya. Gadis itu bersikap tidak peduli. Dia tetap memandang permukaan danau dengan santai. “Baik.” Dia meneguk juice hingga habis, sebelum berdiri.
“Maaf, jika saya meninggalkan jamuan pagi ini, Nyonya,” pamit Shadow.
Frisia hanya mengangguk. Kemudian Shadow mengikuti pelayan tadi dengan langkah santai. Ingin tahu, apa yang telah diatur Hugo untuknya. Pelayan itu berhenti di depan sebuah ruangan yang ada di lantai dasar. Lalu mengetuk dan membuka pintunya segera.
“Dia sudah di sini,” lapor si pelayan.
Sebuah tangan melambai, menyuruh pelayan itu pergi. Tinggallah Shadow sendiri di depan pintu.
“Masuk!” perintah kepala pelayan. Dan Dia langsung masuk, hingga membuat Kepala pelayan itu sedikit tidak siap.
“Ada apa memanggilku?” tanyanya datar.
Pria itu menarik laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop surat. Meletakkannya di meja dan didorong ke arah Shadow. “Tuan menitipkan ini untuk kusampaikan,” katanya.
Tangannya langsung mengambil dan mengeluarkan selembar kertas berlipat. Ada sebuah cek senilai tiga bulan gaji yang telah disepakatinya dengan Hugo. Dia langsung bisa menduga surat apa itu. Tapi dia tetap membacanya hingga selesai.
“Apa dia tak punya nyali untuk langsung memecatku?” Shadow tertawa dan menyobek surat serta cek itu di hadapan Kepala pelayan yang memasang wajah tak senang. Lalu keluar.
Shadow kembali ke kamar dan mengemasi tas kecil yang hanya berisi beberapa baju, lalu keluar. DI ruang santai, dilihatnya Frisia duduk ditemani pelayan pribadinya.
“Kau benar, dia punya rencana lain. Dan tak kuduga dia terlalu pengecut untuk langsung memecatku! Sampai jumpa lagi, Frisia,” ujar Shadow sambil berlalu.
“Sampai jumpa lagi. Kau boleh datang dan mengunjungiku kapan-kapan,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Oke!” sahutnya, dan melambaikan tangan pada nyonya rumah itu.
Saat dia keluar dari rumah, matahari mulai meninggi. Meskipun udara musim gugur mulai terasa, tapi sinar matahari tetap saja terasa panas saat siang. Sebuah taksi meluncur dan tangannya segera menyetop, lalu masuk. Taksi itu pergi dari sana dan menuruni bukit Springhills.
Di dalam taxi, Shadow meminta Bratt mengirimkan mobil untuk menjemput di taman kota. Dia akan pulang ke rumah Falcon dan mematangkan rencana. Dia tak bisa menunda lagi dan sedikit menyesali kelambananya.
Sekarang Hugo memecatnya, entah karena apa. Tapi alasan itu tak penting lagi bagi Shadow. Sekali lagi Hugo menjauhkannya dari Moreno. Dan itu cukup untuk membangkitkan kemarahan yang selama ini sedikit tenggelam karena rasa bahagia tinggal bersama putranya.
***
“Selamat datang kembali, Nona Venus,” sapa Bratt di depan pintu.
“Hallo Bratt. Senang melihatmu lagi.” Venus masuk ke dalam rumah dan hendak naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada.
“Apakah ayahku ada di rumah?” tanyanya.
“Tuan sedang pergi, sejak dua hari yang lalu. Saya tidak diberi tahu kapan akan kembali,” jawab Bratt.
“Oke. Biar aku yang menghubungi sendiri.” Venus menaiki tangga dengan cepat.
“Nona!” panggil Bratt.
Venus berhenti melangkah dan menoleh pada pria itu, menunggu apa yang hendak dikatakannya.
“Anda ingin dibuatkan apa untuk makan siang?” tanya Bratt akhirnya.
“Hemm .. sesuatu yang segar dan lezat. Antarkan itu ke meja kolam renang. Aku ingin berenang.” Venus melanjutkan langkahnya.
“Baik, Nona.” Bratt pergi ke dapur dan mengatakan pesan Nona mereka pada koki.
Semula, Venus ingin menelepon langsung, tapi tidak jadi. Sedikit khawatir jika itu akan mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan pria itu. Jadi dia mengirim pesan.
“Aku dipecat dan sekarang kembali ke rumah.”
Venus langsung berganti pakaian renang, menyambar mantel renangnya dan turun ke bawah. Dia ingin sedikit bersantai, untuk menetralisir kemarahan di hatinya.
“Kau sudah memicu alarm dendamku, Hugo!”
*****