
Venus dibawa ke kamar sementara, tempat dia meletakkan tas kecilnya. Lalu mengenakan pakaian yang disediakan oleh pelayan. Saat dia keluar, seorang pelayan sudah menunggu di epan pintu.
“Mari saya antar ke ruangan Tuan Muda Moreno,” kata si pelayan. Venus mengangguk dan mengikuti langkah wanita itu. Dia terus bersikap sopan. Karena sangat tahu kalau kediaman itu dipasangi cctv di mana-mana.
Sebuah kamar dengan nuansa biru dan orange, disiapkan Hugo untuk menjadi kamar putranya. Itu adalah kamar Venus saat tinggal di sana. Venus memperhatikan. Dia bahkan masih melihat Hugo mempertahankan dua fotonya di dinding kamar. Foto pernikahan mereka yang sederhana serta foto bertiga, sebulan setelah Moreno lahir. Matanya langsung berkaca-kaca.
Di lantai yang dialasi spons tebal, seorang anak lelaki sedang asik bermain dengan rangkaian kereta apinya. Dia menjalankan dan mengaturnya dengan baik.
“Tuan Muda, wanita ini adalah pengasuh Anda.” Pelayan memperkenalkan Venus.
Saat mata bening bocah tampan itu menatap ke arahnya, jantung Venus berdegup kencang. Rasanya dia ingin melompat dan memeluk anak lelaki itu ke dadanya. Tapi itu tak dilakukannya. Venus justru berjongko, agar Moreno tidak perlu mendongak untuk menatapnya.
“Apa kabar Tuan Muda. Saya Shadow yang sedang dalam masa percobaan untuk menjadi pengasuh Anda,” ujar Venus lembut dan sopan.
“Tidak perlu pengasuh!” tolak Moreno cepat.
“Baiklah. Tapi ijinkan saya menemani Anda bermain hari ini, agar saya bisa mendapatkan upah.” Venus menunduk dengan wajah sedih.
“Kau tidak punya uang?” Anak kecil itu melihatnya tak percaya. Venus menggeleng.
“Kau bisa minta pada ayahku. Dia orang yang sangat baik!” saran Moreno.
Venus tersenyum dan mengangguk. “Kau benar, Tuan Muda. Ayahmu sangat baik. Dia akan memberiku uang sore nanti, setelah aku menemanimu bermain.” Venus menemukan jawaban untuk anaknya.
Moreno tidak berkeras lagi menolak Venus. Dia kembali duduk menghadap rangkaian keretanya. “Temani aku main di sini!” perintahnya.
Wajah Venus langsung cerah. “Tentu saja, Tuan Muda.” Dia mengambil duduk tak jauh dari Moreno. “Apa yang harus kukerjakan?” tanyanya sambil mengamati rangkaian rel kereta yang dipasang berkeliling hampir setengah lantai kamar.
“Syukurlah, Hugo mencukupi kebutuhannya,” kata Venus dalam hatinya.
“Kau duduk di sana. Atur lalu lintas rel kereta agar tidak bertabrakan. Aku di sini, di stasiun utama!”
“Baiklah.” Venus mempelajari sebentar jalur rel yang sudah dibuat Moreno. Kemudian dia mengatur waktu dan perlintasannya. Mereka bermain hingga pukul sebelas siang.
“Sudah waktunya makan siang. Ijinkan aku menyiapkan makan siang Anda, Tuan Muda.” Venus meminta ijin.
“Biarkan pelayan yang membuatnya!” tolak Moreno.
“Ini caraku menjadi pengasuh anak, Tuan Muda. Memastikan bahwa anak yang kuasuh mendapatkan makanan yang tepat untuk usianya,” jelas Venus lagi.
Moreno melihat pada mata Venus, seperti juga Venus melihat ke dalam mata anaknya. Dia membatin, “Ini ibu, Nak. Jangan lupakan ibu.”
“Ya sudah, pergilah!” Moreno mengangguk. Venus bangkit dan keluar dari kamar itu.
“Di manakah dapur rumah ini?” tanyanya pada seorang pelayan yang melintas.
“Di sebelah sana, belok kiri,” jawab pelayan wanita itu. Diamatinya dari belakang orang baru yang melamar jadi pengasuh Tuan Muda mereka.
“Maaf, ijinkan aku menyiapkan sendiri makanan untuk Tuan Muda,” kata Venus di depan pintu dapur. Di dalam sana, berdiri tiga orang juru masak kediaman yang tak perlu diragukan kehandalannya dalam memasak.
“Kami baru akan menyiapkan makan siang Tuan Muda. Tapi kalau kau ingin melakukannya sendiri, silakan.” Kepala juru masak memberi ijin. Dia menunjuk satu kompor lain yang bisa dipakai Venus untuk memasak.
“Terima kasih. Di manakah bahan-bahan segarnya?” tanyanya lagi.
“Kau bisa ambil persediaan di kulkas atau di rak sayur di balik pintu itu!” seorang juru masak lain menunjukkan ruang penyimpanan sayur.
Venus bergerak dengan lincah dan cekatan. Dia mengambil beberapa macam sayur, ikan dan potongan ayam untuk
dimasak.
Tiga juru masak itu saling pandang, memperhatikan Venus yang berkelebat ke sana sini mengambil apa-apa yang kurang. Lalu memasaknya dengan wajah bahagia.
“Kenapa kau terus tersenyum seperti itu?” tanya salah seorang juru masak.
“Agar masakanku terasa lezat bagi Tuan Muda,” jawab Venus asal. Tak mungkin dia bilang kalau dia bahagia memasakkan makanan untuk putra tercintanya.
“Saatnya makan, Tuan Muda. Sebaiknya Anda berhenti dulu,” saran Venus.
Anak lelaki itu menghentikan permainannya dengan patuh. Dia pergi ke kamar mandi dan kembali dengan wajah segar. Kemudian duduk di kursi depan meja bundar yang ada di ruangan. Venus sudah menunggu di sana.
“Saya buatkan beberapa jenis masakan ringan. Silakan dicicipi, Tuan Muda,” kata Venus dengan wajah berseri-seri. Dia sangat antusias, menunggu reaksi Moreno merasakan makanan yang dibuatnya.
Putranya ini masih berusia setahun beberapa bulan. Tapi, ketiadaan seorang ibu yang mengasihinya, membuat dia terlihat terlalu cepat dewasa. Dia sangat mandiri. Sangat berbeda dengan Moreno yang selalu menangis dalam ingatan Venus.
“Kenapa Kau terus terus menatapku?” tanya Moreno sambil menyendok makanan ke piringnya.
“Karena Kau sangat tampan dan ….”
“Dan apa?” tanya anak itu ingin tahu.
Venus menghembuskan napas, lalu tersenyum.
“Awalnya kukira Kau masihlah seorang anak yang cengeng. Tapi aku salah. Tuan Muda sangat mandiri,” puji Venus.
Moreno tidak membalas kata-kata Venus.
“Apakah Kau tidak senang?” tanya Venus khawatir.
“Semua orang akan meninggalkanku nanti. Aku tidak perlu senang atau sedih.”
Venus terdiam mendengar ungkapan hati putra tercintanya. “Aku tidak akan meninggalkanmu, jika itu yang kau mau,” kata Venus.
Moreno masih diam. Venus tiba-tiba sedih jika harus berpisah dan melukai hati anak itu. Putranya merasa kesepian. Itulah yang membuatnya jadi cepat dewasa dan tidak banyak berharap.
“Katakan pada ayahmu, kalau Kau memang menginginkanku tetap di sini,” saran Venus.
“Apa itu akan berhasil?” mata polos itu kini terlihat sedih.
“Kau harus berusaha dulu, sebelum menerima keadaan.” Venus memberinya semangat.
“Kenapa Kau mau jadi pengasuh anak?” tanya putranya kritis.
“Sebenarnya aku akan menerima pekerjaan apapun agar bisa makan. Tapi aku memang suka anak-anak. Mereka sangat murni!”
Moreno diam. Entah dia mengerti atau tidak yang dikatakan wanita baru yang jadi pengasuh sementara itu.
“Setelah ini, aku masih harus belajar, lalu tidur siang. Sore aku punya waktu bermain di luar.” Moreno menjelaskan jadwalnya.
“Aku akan membantumu belajar,” angguk Venus. Dan dia terus menemani bocah kecil yang rapuh namun berusaha kuat itu, hingga dia tidur siang.
Saatnya dia makan siang dan beristirahat sejenak, sebelum menemani anak itu bermain di sore hari.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Seorang maid bertanya di ruang makan para pelayan.
“Tuan Muda sangat pintar. Aku sampai mengira kalau dia sudah berusia tujuh atau delapan tahun!” kata Venus.
Para pelayan itu saling pandang. “Apa kau menyukai pekerjaan mengurus Tuan Muda?” tanya yang lain.
“Tentu saja. Dia pintar dan baik. Berbeda dengan dugaan awalku, mengira harus mengurus anak yang cengeng, manja, atau tantrum.”
“Tuan Muda memang tidak sulit untuk diurus. Kadang kami membawanya main ke dapur, agar dia tidak kesepian sendiri di kamar.”
“Kalian sangat baik dan penuh perhatian.”Venus tersenyum dan berterima kasih di dalam hatinya pada semua pelayan di tempat itu.
“Apa kegiatan yang disukai Tuan Muda di sore hari?” tanya Venus.
“Dia suka bermain kolam air di samping!” Dua pelayan menjawab serentak.
*****