VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 19. Resort Springhills



Jangan lupa di like dan tinggalkan komentar, ya kakak semua.. Terima kasih.


*****


“Kurasa, Jason akan patah hati setelah kau tolak,” ujar Chester di mobil, saat mereka kembali.


“Aku tidak perlu menolak atau menerima pria yang telah dimiliki wanita lain. Dia hanya belum mengungkapkan pujaan hatinya itu pada Tuan dan Nyonya Baker,” kata Venus santai.


“Benarkah? Kurasa tak lama lagi kita akan menerima undangan pernikahan,” Chester tersenyum bahagia.


“Menurutmu, apa sebab Jason tidak berani mengatakan perihal pujaan hatinya?” Venus bersandar di jok mobil dengan mata terpejam.


“Kurasa dia belum berani, atau belum yakin dengan pilhannya,” jawab Chester.


“Atau …?” Venus menggantung ucapannya, mengharap Chester yang melanjutkan sisanya.


“Atau ….” Chester berhenti dan berpikir sejenak. “… wanita itu tidak masuk dalam kriteria calon yang ditetapkan orang tuanya!” Chester akhirnya melengkapi apa yang dipikirkan putrinya. Venus mengangguk samar. Tapi Chester berhasil melihat anggukan itu.


Setelah itu. Mobil sunyi hingga tiba di kediaman mereka. Chester lebih banyak diam, sedangkan Venus asik memperhatikan pemandangan gelap di luar jendela mobil. Melihat itu, bisa membuat orang berpikir bahwa gadis itu bisa melihat tembus pandang dalam kegelapan.


“Tadi Tuan Baldwin bilang, minggu depan ada pameran seni dari seniman ibu kota. Kalau kau tertarik, kita bisa pergi,” tawar Chester saat merreka sampai di rumah.


“Semoga hari tidak sepanas ini. Aku tidak akan tahan berada dalam ruangan yang penuh orang saat seperti itu.”


Chester tidak mendesak lagi. Itu adalah alasan Venus menolak ajakannya. “Aku akan pergi selama seminggu. Kau baik-baiklah di rumah.”


“Jika ada misi, bisakah aku ikut? Hidup seperti ini terasa sangat membosankan!” gerutunya.


“Kau tak harus terus diam di rumah. Pergilah ke kota dan jalin pertemanan dengan beberapa gadis baik. Bukankah kau sudah mengenal para sepupu Jason? Kenapa tidak mengajak mereka ke kota untuk belanja atau melihat-lihat?” saran Chester.


Seminggu yang membosankan dalam pikiran Venus, berubah saat ide gila tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia berkata akan pergi berlibur ke daerah pegunungan yang udaranya lebih sejuk. Kepala Pelayan tak bisa menahannya untuk tetap di rumah dan bermain air saja di kolam setiap hari.


Taxi berhenti di depan sebuah resort di bukit Springhills. Dia sudah memesan kamar yang diinginkannya lewat internet. Pelayan yang mengantar ke kamar, segera pergi dengan senyuman senang setelah mendapat tips dari Venus.


Dibukanya tas yang dibawa. Isinya hanya pakaian renang dan beberapa baju santai, topi, serta sepatu kets. Dimasukkannya tangan ke dalam tumpukan baju, mencari-cari sebentar. Perlahan ditariknya keluar, benda yang dicarinya. Bibirnya mengulas senyum.


Venus melangkah ke jendela kaca besar. Dibukanya tirai dan nampaknya pemandangan danau Spring Lake di depan sana. Bagi pelancong biasa, maka kamar itu adalah kamar idaman, karena memiliki jendela serta balkon yang persis menghadap danau kecil yang sangat indah.


Namun bagi Venus, kamar itu sangat strategis, sebab persis menghadap kediaman Hugo von Amstel yang ada di seberang danau kecil itu. Venus tahu tentang hotel ini dari pelayan yang dulu melayaninya. Dia bisa melihat hotel dari dek belakang kediaman Hugo, dan senang duduk serta menikmati suasana tenang danau itu ketika hamil.


Diletakkannya teropong yang dibawanya di depan mata. Mencari-cari seseorang yang diharapkannya. Moreno! Venus berharap bisa melihat putranya dari kejauhan.


Venus menghentikan aktifitasnya ketika jam makan siang tiba. Dia turun ke resto dan menikmati makan siangnya di bawah pondok-pondok kecil yang disiapkan pihak resort. Pepohonan yang teduh berhasil mendinginkan panasnya sinar matahari.


Naik ke kamarnya, Venus kembali mengintip lewat teropong. Tapi tak ada siapapun di halaman belakang kediaman itu.


“Tak mungkin Moreno dibawa keluar di siang yang panas terik begini.” Dengan keyakinan itu, Venus memutuskan untuk berenang dan menikmati liburannya.


Malam yang santai, Venus masih duduk di balkon menikmati semilir angin, sambil sesekali menggunakan teropong untuk mengintip Moreno. Dia tak kecewa, meskipun tak bisa melihat buah hatinya hari itu.


Pagi hari yang sejuk oleh hawa pegunungan. Seorang wanita muda cantik, dengan celana training berlari di trotoar jalan. Berpacu cepat dengan embun-embun yang akan segera menguap disapu sinar mentari.


Di depan sebuah bangunan megah dan indah, dia berhenti dan berjongkok. Wanita itu membetulkan tali sepatunya yang lepas. Kemudian minum dari air yang disampirkan di pinggang.


Seorang pria tampan melewatinya dan menyapa.


“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.


Venus menoleh dengan terkejut. Kemudian menjawab. “Hanya sebuah tali sepatu yang tidak patuh,” sahut Venus.


Pria itu mengangguk setelah melihat gadis yang disapanya selesai mengikat tali sepatu. Di berlalu dan menyeberang. Kemudian masuk ke rumah mewah itu. Dialah Hugo von Amstel yang selalu lari pagi berkeliling desa kecil di dekat kediamannya.


Venus melirik dengan ekor mata, berharap di depan pagar, Moreno akan menunggu ayahnya pulang. Namun, kekecewaan kembali menyergap hatinya. Hingga pintu pagar tinggi itu ditutup, dia tak melihat ada bayangan anak kecil.


Venus melanjutkan larinya agar tidak dicurigai oleh penjaga gerbang kediaman Hugo. Mereka punya cctv yang mengawasi bagian depan rumah termasuk seluruh pagar. Agak mustahil memang, memasuki kediaman itu tanpa terekam cctv.


Setelah sarapan, Venus kembali duduk di depan jendela dan memeriksa bagian belakang kediaman Hugo dengan teropong.


Rutinitasnya seperti itu terus selama tiga hari. Dia juga kerap berpapasan dengan Hugo saat lari pagi. Mereka saling melewati begitu saja. Venus bersyukur karena Hugo tidak mengenalinya.


Hingga hari ini, entah kenapa Venus tak ingin pergi pergi ke mana pun. Dia duduk sambil membuat rencana-rencana baru, agar bisa bertemu dengan buah hatinya. Setelah makan siang, Venus naik dan berdiam di kamar hingga sore. Dia sudah bosan berenang di danau.


“Mungkin sebaiknya aku minta Chester berhenti membawaku ke kalangan atas. Kalau tak bisa masuk lewat jalur atas, kenapa tak kucoba masuk lewat jalur bawah?” pikir Venus.


“Tak masalah bagiku menyamar jadi pengasuh ataupun pembantu di kediaman itu.”


Venus mengangkat lagi teropongnya dan melihat-lihat ke taman belakang kediaman yang langsung menuju tepian danau. Wajahnya tiba-tiba menegang. Tangannya mencengkeram keras teropong yang ada di tangannya.


"Moreno ...."


*****