VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 45. Ke Pantai



“Sekarang sudah masuk musim gugur. Bagaimana kalau kita pergi berlibur ke pantai?” tanya Hugo pada Frisia saat sarapan.


Shadow hanya mendengarkan sambil melayani Moreno.


“Apakah kau ingin ke pantai, Moreno?” tanya Hugo lagi.


“Seperti apa pantai itu?” Moreno mengalihkan pertanyaannya pada Shadow.


“Pantai itu adalah tepian air dengan laut. Di sini, tepian air dengan danau,” jelas Shadow sekenanya.


“Bukankah itu sama saja?” tanya Moreno.


“Air laut dan air danau itu berbeda. Suasana dan cuacanya juga berbeda. Kalau Tuan Muda belum pernah ke sana, kusarankan untuk pergi melihat sekali. Setelah itu kau bisa simpulkan apakah akan menyukainya atau tidak.” Shadow tersenyum manis pada putranya.


“Baik, aku mau pergi ke sana!” Moreno mengatakan dengan yakin pada ayahnya.


“Bagus! Kau akan menyukainya,” kata Hugo.


“Tapi Shadow harus ikut!” tambah anak kecil itu lagi.


Hugo tak langsung menjawab.


“Kalau dia tak ikut, aku juga tak ikut!” kata anak itu tak peduli. Dia kembali minta disuapi makan oleh Shadow.


“Baiklah … pengasuhmu bisa ikut!” Hugo tak menyembunyikan wajah kesalnya. Tapi Moreno tak mengerti kalau ayahnya tak senang. Dia justru bahagia bisa pergi ke luar rumah lagi bersama Shadow.


Keesokan hari, Shadow sudah menyiapkan Moreno pagi-pagi sekali. Mereka akan berangkat setelah sarapan. Anak itu terlihat sangat antusias untuk melihat bentuk pantai.


“Apakah ada yang tertinggal?” tanya Hugo dari kursi depan.


“Nyonya Frisia belum masuk,” kata Shadow.


“Dia membawa pelayannya. Jadi mengikuti dengan mobil lain di belakang,” kata Hugo dingin.


“Mari jalan!” perintahnya pada sopir. Dua mobil berjalan beriringan menuju kota lain yang memiliki pantai.


Di dalam mobil, Moreno menanyakan banyak hal pada Shadow. Apapun yang dilihatnya, dia tanyakan. Dan Shadow menjawabnya dengan sabar. Di kursi depan, Hugo menyandarkan pungung dan memejamkan mata. Dia pura-pura tidur, tapi terus mendengarkan perbincangan putra dan pengasuh itu.


“Kenapa Frisia tidak bisa dekat dengan Moreno seperti pengasuh ini? Putraku sekarang bisa lebih ceria sejak dua bulan lalu Shadow datang.” Hugo terus berpikir.


“Kenapa Kakek memilih wanita seperti itu untuk menjadi ibu pengganti Moreno?” Hugo tak habis pikir. Tapi dia tak berdaya dengan tekanan Kakeknya.


“Semoga semua ini segera berakhir baik,” batinnya.


Mereka tiba di pantai sore hari. Moreno sangat gembira melihat pasir putih terhampar luas di depan kamar hotel. Dengan tak sabar dia berlari dan menginjakkan kaki  kecilnya di pantai. Shadow mengejar, mengira anak itu akan langsung menceburkan diri di air yang biru.


“Tuan Muda!” seru Shadow panik. Tapi anak itu segera berbalik lagi ke teras kamar sambil menangis.


“Panaaasss … huhuhu … kakiku panas!” tangisnya kencang.


Shadow segera menggendongnya ke kamar mandi dan mendudukan anak itu di bak mandi yang langsung diisi air dingin.


“Apakah masih panas, Sayang?” tanya Shadow khawatir. Dia meniup-niup kaki mungil itu dengan sedih.


Moreno masih menangis. Shadow memeluk dan mengusap-usap punggungnya. “Tidak apa-apa. Itu hanya pasir yang ditimpa matahari. Nanti juga akan sembuh,” bujuk Shadow.


“Tapi sakit!” Moreno bersikeras.


“Iya, sakit. Aku di sini menjagamu sekarang. Enggak apa-apa.” Shadow membawa Moreno dalam pelukan dan menciuminya untuk menenangkan tangisan anak itu.


Hugo yang tadi langsung  lari mendengar tangisan Moreno dan menyusul ke kamar, tertegun melihat sikap Shadow yang begitu tulus dan penuh kasiih pada putranya. Dia pergi diam-diam, sama sekali tidak khawatir. Entah bagaimana, dia percaya Moreno berada di tangan yang aman.


benar-benar teduh, barulah Shadow membawa Moreno keluar. Dia memakaikan sandal agar anak itu tidak perlu takut pada pasir lagi. Pelan tapi pasti, traumanya pada pasir panas, telah hilang. Mereka bermain istana pasir di pinggir pantai. Berkejaran dengan ombak dan bergulingan dengan pakaian basah hingga petang.


“Apa Tuan Muda senang?” tanya Shadow.


Anak itu mengangguk dan melompat-lompat lincah saat dimandikan oleh Shadow di bawah pancuran.


“Tenanglah sedikit. Ada banyak pasir di kulit kepalamu,” bujuk Shadow. Tapi anak itu justru terus berjingkrak-jingkrak dan mengganggu pekerjaan Shadow. Membuatnya tidak selesai-selesai membersihkan butiran pasir di sela rambut putranya.


Hugo yang akan mengajak makan malam, tertegun melihat tubuh basah Shadow di bawah pancuran. Dia menelan ludah sebelum buru-buru keluar dari sana.


Akhirnya acara mandi yang lebih banyak bermain itu selesai juga. Keduanya keluar dari kamar mandi setelah sama-sama selesai mandi. Shadow memeriksa ponselnya yang terus berkedip-kedip. Ada pesan dari Hugo, menyuruhnya untuk bergegas membawa Moreno makan malam.


Mereka bersiap dengan cepat dan menyusul ke restoran. Hanya ada Hugo yang menunggu di meja. Moreno datang dengan wajah cerah dan langsung duduk. Shadow mengambilkan makanan untuk mereka berdua, karena Hugo sudah selesai lebih dulu.


Shadow tak melihat ada piring kotor lain di meja selain piring Hugo. Tapi dia tak ingin tau kenapa Frisia tak makan bersama.


“Apa kau senang bermain di pantai?” tanya Hugo pada putranya.


Mata Moreno yang berbinar dalam anggukan kepalanya sudah menjadi jawaban. “Aku senang!”


“Kalau begitu, istirahat cepat malam ini. Besok hari yang panjang di pantai. Lusa kita kembali,” kata Hugo.


“Ya, Ayah.” Moreno menjawab patuh.


Shadow bisa tidur bersama Moreno malam ini. Dia membawa anak itu dalam pelukannya dan segera tertidur pulas.


Hari kedua liburan di pantai, Moreno masih yang paling gembira. Shadow hanya mengikutinya. Hingga mereka menikmati makan siang di restoran seafood pinggir laut. Makanan sudah dipesan Hugo dan siap di meja. Frisia juga sudah duduk di sana.


“Aku mau ke toilet, Shadow,” ajak Moreno. Shadow mengangguk.


Hugo membiarkan keduanya pergi dan mulai mengambil makanannya. Di sana juga ada Frisia. Di meja lain, pelayan pribadi Frisia dan dua sopir, juga sedang asik makan. Kemudian terdengar keributan yang membuat Kepala Hugo langsung melihat ke sana.


“Maafkan saya yang tidak


hati-hati,” kata Shadow membungkuk. Dia menyembunyikan Moreno di balik


punggungnya, agar tidak perlu melihat kemarahan orang yang tadi ditabraknya


tanpa sengaja.


“Maaf? Anak kecil itu membuat makananku tumpah!” seru wanita itu marah.


“Anda bisa pesan lagi, saya yang akan membayarkannya,” ujar Shadow mohon penegertian.


“Hah! Membayar? Apa kau ibu anak ini? Apa kau sangat kaya?” tanya wanita itu tak sopan. Orang-orang mulai berbisik-bisik tak senang.


“Saya pengasuhnya,” jawab Shadow, masih dengan menundukkan kepala.


“Hanya seorang pengasuh saja, berlagak mau mengganti makananku. Itu makanan mahal yang kamu belum tentu bisa bayar dengan gajimu sebulan!” teriaknya keras dan menarik perhatian orang-orang.


Shadow jadi diam. Dia tak tahu mesti memberi solusi apa lagi pada wanita yang Cuma ingin membuat keributan itu.


“Sekarang kau diam, Heh!”


Plakk! Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi Shadow. “Kau terlalu banyak omong kosong!”


*****